Semaglutide Perlambat Penuaan hingga 42 Persen pada Studi HIV, Ada Batas Penting

Author: Redaksi Android62

Semaglutide dikaitkan dengan perlambatan penuaan biologis hingga 42 persen dalam sebuah studi percontohan pada pasien HIV dengan fatty liver. Angka tersebut menarik, tetapi belum membuktikan obat ini dapat digunakan sebagai terapi anti-penuaan bagi masyarakat luas.

Hasil itu dilaporkan dalam studi yang dimuat di npj Aging pada April setelah penggunaan semaglutide selama 24 minggu. Peneliti mengukur perubahan melalui penanda DNA yang dikenal sebagai jam epigenetik.

Penuaan biologis berbeda dari usia kalender karena menggambarkan perubahan yang berlangsung pada sel dan jaringan tubuh. Karena itu, perlambatan pada penanda biologis tidak otomatis berarti seseorang berhenti menua secara fisik.

Dua studi menunjukkan hasil berbeda

Temuan lain yang dipublikasikan di Nature Communications juga mengamati potensi serupa, meski besar efeknya lebih rendah. Uji klinis tersebut melibatkan 108 orang dewasa dengan HIV dan lipohipertrofi selama 32 minggu.

Publikasi Peserta Durasi Temuan
Nature Communications 108 dewasa dengan HIV dan lipohipertrofi 32 minggu Perlambatan sekitar 9 persen
npj Aging Pasien HIV dengan fatty liver 24 minggu Perlambatan hingga 42 persen

Dalam studi Nature Communications, peserta menerima suntikan semaglutide mingguan atau plasebo secara acak. Kelompok yang memperoleh obat mengalami perlambatan penuaan biologis sekitar 9 persen.

Efek tersebut terpantau pada sejumlah organ dan jaringan, termasuk otak, jantung, ginjal, hati, serta darah. Temuan ini mendapat perhatian karena orang yang hidup dengan HIV cenderung mengalami penuaan lebih cepat dibandingkan populasi umum.

Peran lemak viseral dan peradangan

Salah satu penjelasan yang sedang dipertimbangkan adalah dampak semaglutide terhadap lemak tubuh, terutama lemak viseral di area perut. Lemak berlebih dapat memicu peradangan, sementara peradangan kronis berkaitan dengan berbagai penyakit yang memengaruhi kesehatan jangka panjang.

Dokter spesialis kedokteran keluarga di Lowell General Hospital, Damian Folch, M.D., menyatakan, “Kita tahu bahwa sel lemak itu memicu peradangan, jadi mengurangi lemak di tubuh, terutama lemak viseral atau lemak perut, memiliki dampak besar pada peradangan secara keseluruhan.” Pengurangan lemak tubuh karena itu berpotensi memberi dampak pada proses biologis yang berkaitan dengan penuaan.

Kelebihan berat badan diketahui dapat menciptakan kondisi peradangan kronis dalam tubuh. Kondisi ini terkait dengan penyakit jantung, kanker, dan diabetes tipe 2.

Pakar pengendalian berat badan Mir Ali, M.D., menyebut penurunan peradangan kronis secara teori dapat memperlambat penuaan biologis. Obat golongan GLP-1 seperti semaglutide juga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, yang dinilai dapat ikut menekan peradangan.

Belum dapat dipisahkan dari efek penurunan berat badan

Pertanyaan utama yang belum terjawab adalah apakah manfaat tersebut muncul dari kerja semaglutide secara langsung atau terutama akibat penurunan berat badan. Kedua kemungkinan itu belum dapat dipisahkan secara pasti berdasarkan hasil penelitian yang ada.

Health.kompas.com melaporkan bahwa banyak studi GLP-1 masih berfokus pada pasien dengan diabetes tipe 2, obesitas, HIV, dan penyakit kronis lain. Hasil pada kelompok dengan kondisi penyerta tersebut belum tentu berlaku bagi orang sehat.

Folch menilai penelitian pada populasi umum masih diperlukan karena tingkat peradangan awal pasien dengan penyakit penyerta dapat lebih tinggi. Respons terapi pada kelompok tersebut dapat berbeda dari orang tanpa kondisi medis tertentu.

Semaglutide saat ini tetap dikenal sebagai obat untuk pengelolaan kondisi medis tertentu dan penurunan berat badan. Potensi perlambatan penuaan biologis masih memerlukan pengujian lanjutan sebelum dapat dianggap sebagai manfaat yang pasti.

Berita Terbaru