Bitcoin Tergelincir Lebih Dalam, ETF dan Leverage Jadi Biang Utama Tekanan Pasar

Author: Redaksi Android62

Penurunan Bitcoin yang tajam tampaknya lebih banyak dipicu oleh arus keluar ETF, likuidasi leverage, dan tekanan makro ketimbang kabar seputar SpaceX. Data yang muncul menunjukkan bahwa pelemahan sudah terbentuk lebih dulu, sebelum saham SpaceX mulai diperdagangkan.

Dalam beberapa hari terakhir, Bitcoin sempat jatuh di bawah $60.000 pada 5 Juni, level terendahnya sejak September 2024. Aset kripto terbesar itu juga turun sekitar 20% sejak SpaceX mengajukan IPO pada 20 Mei 2026.

Arus Keluar ETF Menjadi Tekanan Paling Nyata

Faktor yang paling jelas terlihat datang dari pasar spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat. Selama 13 sesi berturut-turut hingga 3 Juni, produk tersebut mencatat arus keluar dan menghapus sekitar $4,4 miliar, yang menjadi rekor terpanjang dalam sejarah.

Ketika dana keluar, penerbit ETF harus menjual Bitcoin di pasar spot untuk menyediakan kas. Mekanisme ini menciptakan tekanan jual yang langsung dan berulang, sehingga dampaknya terasa jauh lebih kuat dibanding dugaan rotasi dana ke IPO.

Leverage yang Terlalu Penuh Memperparah Koreksi

Di pasar derivatif, tekanan datang bersamaan melalui likuidasi besar-besaran. Antara 2 Juni dan 5 Juni, likuidasi kripto diperkirakan mencapai sekitar $1,6 miliar hingga $1,8 miliar.

Dalam salah satu rangkaian, sekitar $394 juta posisi ditutup hanya dalam satu jam. Sekitar 272.000 trader tersingkir dalam gelombang itu, dan mayoritas posisi yang terhapus adalah posisi bullish.

Data tersebut menunjukkan pasar yang terlalu sarat taruhan naik, lalu runtuh ketika posisi leveraged mulai dibersihkan. Dalam kondisi seperti itu, penurunan harga bisa bergerak cepat karena aksi jual memicu likuidasi lanjutan.

Teori Rotasi Dana ke SpaceX Lemah Secara Waktu

Narasi bahwa investor menjual Bitcoin demi memburu saham SpaceX terdengar sederhana, tetapi urutan waktunya tidak mendukung. SpaceX baru dijadwalkan menetapkan harga pada 11 Juni dan mulai diperdagangkan di Nasdaq pada 12 Juni dengan ticker SPCX.

Sebaliknya, penurunan terbesar Bitcoin sudah terjadi lebih dulu. Secara mekanis, investor juga belum bisa membiayai pembelian aset yang belum dibuka untuk diperdagangkan.

Data arus onchain dan stablecoin juga tidak menunjukkan keluarnya modal kripto secara abnormal untuk mengejar penawaran itu selama periode penurunan. Bahkan, SpaceX sendiri tercatat memegang Bitcoin dan berada di atas sekitar $789 juta keuntungan belum terealisasi pada akhir Mei.

Sentimen Sudah Terganggu Sebelum Koreksi Membesar

Tekanan psikologis di pasar juga meningkat setelah Strategy, pemegang Bitcoin korporat terbesar, mengumumkan penjualan Bitcoin pertamanya sejak 2022 pada 1 Juni. Jumlahnya kecil dibandingkan total kepemilikannya, tetapi cukup menggoyahkan keyakinan “tidak pernah menjual” yang selama ini penting bagi investor ritel.

Bagi trader yang sudah gelisah, kabar tersebut menjadi alasan tambahan untuk keluar dari posisi. Efeknya tidak besar jika berdiri sendiri, tetapi memperburuk suasana pasar yang memang sudah rapuh.

Tekanan Makro Menambah Beban Aset Risiko

Bitcoin juga tidak jatuh sendirian karena pasar aset berisiko mengalami aksi jual luas pada pekan yang sama. Laporan pekerjaan Amerika Serikat yang lebih panas dari perkiraan memunculkan kembali kekhawatiran bahwa Federal Reserve bisa menaikkan suku bunga, bukan menurunkannya.

Imbal hasil Treasury naik dan aset durasi panjang ikut tertekan. Nasdaq turun 4,2% pada 5 Juni, mencatat penurunan satu hari terburuknya pada 2026, sementara saham-saham chip seperti Nvidia turun sekitar 6% ketika euforia AI ikut goyah.

Faktor geopolitik menambah tekanan di tengah pasar yang sudah sensitif. Iran meluncurkan rudal ke Israel pada pekan itu, serangan pertama sejak gencatan senjata April, dan Brent naik mendekati $95 per barel.

Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin bergerak seperti aset risiko tinggi, bukan seperti emas digital. Pasar memperlakukannya sebagai posisi spekulatif yang ikut dijual saat sentimen global memburuk.

Ada Benih Kebenaran, tetapi Bukan Penjelasan Utama

Meski demikian, ada bagian dari teori rotasi modal yang tetap masuk akal. Selama bertahun-tahun, kripto hampir memonopoli spekulasi berisiko tinggi yang menawarkan potensi imbal hasil besar.

Monopoli itu mulai terkikis oleh IPO besar seperti SpaceX, serta potensi listing OpenAI dan Anthropic, ditambah reli saham-saham AI. Dalam jangka panjang, kompetisi itu memang bisa menarik modal spekulatif dari kripto.

Namun, pergeseran semacam itu biasanya berlangsung bertahap dan tidak cukup untuk menjelaskan koreksi 20% hanya dalam hitungan hari. Untuk saat ini, arus keluar ETF, likuidasi leverage, dan tekanan makro masih menjadi penjelasan yang jauh lebih kuat.

Yang lebih relevan untuk dipantau adalah apakah arus ETF mulai stabil dan apakah tekanan makro mereda. Jika itu terjadi, gelombang likuidasi biasanya akan habis dengan sendirinya, sementara pembelian ritel atas SPCX baru akan menjadi cerita tersendiri, bukan penyebab utama jatuhnya Bitcoin.

Berita Terbaru