BMKG menegaskan suhu udara di Kota Semarang yang belakangan berada di kisaran 33 derajat Celsius masih tergolong normal. Kondisi itu dipandang belum masuk kategori ekstrem, meski warga merasakan cuaca siang hari lebih terik dari biasanya.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Rany Puspita, menyebut rata-rata suhu harian yang terpantau memang berada pada rentang 32 hingga 33 derajat Celsius. Menurut dia, angka tersebut masih wajar untuk wilayah Semarang dan tidak menunjukkan penyimpangan cuaca.
Panas yang terasa lebih menyengat tidak lepas dari situasi cuaca beberapa hari terakhir yang minim hujan. Saat hujan belum turun dalam periode cukup lama, udara siang cenderung terasa lebih gerah dan paparan sinar matahari menjadi lebih langsung dirasakan warga.
Masih berada di masa pancaroba
BMKG juga melihat kondisi cuaca di Semarang dan Jawa Tengah belum keluar dari fase peralihan musim. Pada April, wilayah ini masih berada dalam masa pancaroba, sehingga perubahan cuaca bisa terjadi dengan cepat.
Dalam fase seperti ini, langit dapat berganti dari cerah menjadi mendung, atau sebaliknya, dalam waktu singkat. Meski begitu, suhu panas pada siang hari sering tetap mendominasi dan membuat udara terasa lebih berat.
Rany menegaskan bahwa suhu 32 sampai 33 derajat Celsius masih termasuk normal untuk periode seperti sekarang. Karena itu, cuaca yang terasa gerah belum otomatis menandakan adanya kondisi yang tidak biasa.
Catatan suhu pernah jauh lebih tinggi
Untuk memberi gambaran, BMKG memiliki catatan historis suhu maksimum di Kota Semarang yang pernah mencapai 39,5 derajat Celsius. Data tersebut berasal dari periode panjang pengamatan pada 1990 hingga 2001.
Rany menjelaskan bahwa setelah masa itu, belum ada lagi catatan suhu di Semarang yang menyamai angka tersebut. Artinya, suhu yang kini dirasakan warga masih berada jauh di bawah rekor panas yang pernah tercatat.
Data historis ini memperlihatkan bahwa suhu 33 derajat Celsius belum bisa disebut luar biasa bagi Semarang. Dalam konteks iklim tropis dan masa peralihan musim, angka tersebut masih masuk rentang yang lazim terjadi.
Mengapa warga merasa lebih panas
Sensasi panas di wilayah perkotaan sering terasa lebih kuat ketika awan berkurang dan hujan tidak turun beberapa hari. Dalam kondisi seperti itu, sinar matahari mengenai permukaan secara lebih langsung dan membuat udara siang terasa lebih terik.
BMKG menilai hal tersebut sebagai bagian dari dinamika cuaca harian yang umum terjadi saat pancaroba. Selama masa peralihan ini belum selesai, suhu panas pada jam-jam tertentu masih berpotensi muncul.
Dengan pemantauan yang ada, Semarang masih berada dalam batas suhu normal meski cuaca siang hari terasa gerah. Kondisi itu sejalan dengan pola peralihan musim yang memang membuat cuaca mudah berubah dan panas lebih dominan pada waktu tertentu.
Source: jateng.jpnn.com






