BNI Dan BCA Makin Ketat Pilih Proyek AI, Efisiensi Jadi Patokan Utama

Author: Redaksi Android62

Uji coba AI di BNI sudah menunjukkan hasil yang sangat konkret. Pada proses Know Your Customer atau KYC, pekerjaan pembedahan dokumen yang semula memakan waktu lima hari bisa dipangkas menjadi hitungan jam.

Hasil seperti itu membuat bank tetap melanjutkan investasi AI, tetapi dengan cara yang jauh lebih selektif. Di tengah tekanan makroekonomi, pelemahan rupiah, dan biaya solusi IT yang ikut tertekan kurs, fokus bergeser dari memperbanyak proyek menjadi memilih use case yang paling cepat memberi dampak.

BNI pilih model yang lebih ringkas

SVP AI & Data Analytics Division BNI, Handika Hakim, mengatakan perubahan lanskap ekonomi global dan ketegangan geopolitik ikut memengaruhi harga solusi IT. Karena itu, investasi AI harus direprioritasi dan diarahkan ke use case yang high value.

BNI juga menurunkan kompleksitas implementasi agar pengerjaannya lebih singkat. Pendekatan ini membuat investasi tetap berjalan, tetapi tidak melebar tanpa fokus yang jelas.

Dalam memilih proyek, BNI menimbang skala ekonomi dengan lebih ketat. Prinsip yang dijaga adalah biaya teknologi tidak boleh lebih mahal daripada biaya mempekerjakan tenaga manusia secara konvensional.

Untuk kuartal III/2026 dan kuartal IV/2026, BNI cenderung memakai model AI yang lebih kecil atau smaller model. Pilihan ini dipakai untuk menekan biaya sekaligus mempercepat proses internal yang dibutuhkan perusahaan.

BCA memperketat kurasi use case

Di sisi lain, BCA juga tidak menghentikan pengembangan AI. Namun, arah belanjanya kini lebih hati-hati karena kenaikan harga solusi IT ikut terasa dari tekanan kurs.

EVP Enterprise IT & Data Management BCA, Lily Wongso, menyebut perseroan kini memperketat pemilihan use case AI agar tetap berada dalam koridor strategi bisnis perusahaan. Yang dicari adalah use case yang paling sesuai dengan strategi dan menghasilkan dampak yang lebih besar.

Sikap ini menunjukkan bahwa BCA tetap melihat AI sebagai bagian penting dari pengembangan bisnis. Bedanya, anggaran kini diarahkan ke proyek yang paling relevan dan paling cepat memberi manfaat nyata.

Efisiensi jadi ukuran yang paling dicari

Arah yang diambil BCA dan BNI menunjukkan bahwa AI di perbankan kini dinilai dari hasil, bukan dari banyaknya inisiatif. Dalam kondisi pasar yang menekan anggaran, penghematan biaya operasional dan peningkatan produktivitas menjadi alasan utama investasi tetap dijalankan.

BCA menilai penerapan AI di lingkungan kerjanya bisa memberi efisiensi proses minimum 30%. Pada fungsi tertentu, efisiensinya bahkan dapat mencapai 70% hingga 80%.

Itulah sebabnya setiap proyek AI kini harus menunjukkan nilai tambah yang terukur. Proyek yang diprioritaskan adalah yang bisa mempercepat proses internal, menekan biaya, atau memberi dampak langsung terhadap bisnis.

Peran tata kelola data tetap penting

Senior Vice President APAC Cloudera, Remus Lim, menilai sikap perbankan yang lebih pragmatis memang tepat di tengah tantangan ekonomi. Ia menekankan bahwa organisasi tidak seharusnya membeli AI hanya karena mengikuti tren tanpa tujuan akhir yang jelas.

Cloudera memusatkan dukungannya pada pengelolaan fondasi data agar selaras dengan tiga pilar bisnis utama, yaitu menekan biaya, meningkatkan pendapatan, dan memitigasi risiko. Menurut Remus, investasi AI akan lebih penting bila diarahkan ke tiga use case itu.

Sebagai mitra teknologi jangka panjang bagi BCA dan BNI, Cloudera juga menegaskan pentingnya tata kelola data yang bersih sebelum masuk ke tahap pemodelan AI. Fondasi data yang rapi dianggap menjadi syarat utama agar AI benar-benar menghasilkan nilai tambah bagi pengguna akhir.

Source: teknologi.bisnis.com
Berita Terbaru