Board of Peace Peringatkan Gaza Bisa Terkunci Permanen, Hamas Dan Israel Sama-Sama Harus Ditekan

Nickolay Mladenov memperingatkan bahwa Gaza bisa terjebak dalam keadaan terbelah untuk waktu yang sangat panjang jika kebuntuan politik dan keamanan terus dibiarkan. Utusan utama Board of Peace untuk Gaza itu meminta Dewan Keamanan PBB mengambil langkah tegas agar gencatan senjata benar-benar dijalankan, bukan sekadar berhenti di atas kertas.

Menurut Mladenov, tekanan tidak boleh diarahkan hanya kepada satu pihak. Ia menilai Hamas harus didorong untuk melucuti senjata, sementara Israel juga wajib memenuhi komitmen yang telah disepakati dalam gencatan senjata.

Tekanan harus menyasar dua pihak

Dalam penjelasannya kepada Dewan Keamanan PBB, Mladenov meminta badan itu menggunakan segala cara yang dimilikinya untuk mendorong Hamas melepas senjata. Pada saat yang sama, ia menekankan bahwa Israel juga harus menjalankan kewajiban yang muncul dari kesepakatan gencatan senjata pada Oktober.

Ia menolak pandangan bahwa proses pelaksanaan kesepakatan bisa berjalan mulus jika hanya kewajiban Palestina yang disorot. Mladenov juga menyinggung pembunuhan yang masih terjadi dan pembatasan Israel terhadap aliran bantuan kemanusiaan sebagai masalah yang nyata di lapangan.

Situasi itu muncul ketika keamanan Gaza dan wilayah sekitarnya masih rapuh. Konflik besar meletus setelah serangan Hamas dan kelompok bersenjata Palestina lain pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan, lalu dihentikan lewat gencatan senjata pada Oktober 2025.

Skenario paling berbahaya bagi Gaza

Mladenov menggambarkan keadaan yang paling ia khawatirkan, yakni Gaza tetap terpecah tanpa perubahan berarti. Dalam gambaran itu, Hamas akan terus memegang kendali atas lebih dari dua juta orang di kurang dari setengah wilayah Gaza, sementara rekonstruksi tidak kunjung dimulai.

Ia memperingatkan bahwa warga akan terus hidup di antara reruntuhan dan bergantung pada bantuan. Dalam kondisi seperti itu, pendanaan untuk membangun kembali wilayah itu juga tidak akan datang selama senjata belum diturunkan.

Mladenov menilai skenario tersebut dapat melahirkan generasi baru yang tumbuh di tenda dengan rasa putus asa yang mendominasi hidup mereka. Karena itu, ia menyebut kondisi itu sebagai sesuatu yang harus ditakuti dan dihindari oleh Israel, Palestina, dan kawasan secara lebih luas.

Tahap berikutnya yang belum bergerak

Pada Januari, Amerika Serikat menyatakan gencatan senjata Gaza sudah masuk fase dua. Tahap ini dirancang untuk membahas pelucutan senjata Hamas, tata kelola jangka panjang, pembentukan panel teknokrat Palestina untuk memimpin Gaza pascaperang, penarikan bertahap militer Israel, dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional.

Namun, transisi itu tersendat selama berminggu-minggu. Perhatian dunia tersedot ke perang di Iran di tengah krisis energi global, sementara implementasi tahap berikutnya belum bergerak sesuai rencana.

Di lapangan, tanda-tanda ketegangan masih muncul. Sejak gencatan senjata dalam perang AS-Israel melawan Iran dicapai bulan lalu, bombardemen Israel ke Gaza disebut meningkat, dan serangan keras oleh pemukim serta militer di Tepi Barat yang diduduki juga makin sering terjadi.

Korban sipil pun belum berhenti berjatuhan. Pada Kamis, serangan drone Israel menewaskan seorang pria berusia 26 tahun di wilayah al-Mahatta, sebelah timur kota Deir el-Balah, menurut kantor berita Wafa.

Lebih dari 72.775 warga Palestina dilaporkan tewas dalam perang tersebut. Di sisi lain, militer Israel tetap mempertahankan rezim keamanan yang ketat, sementara ratusan orang lain dilaporkan tewas dalam tujuh bulan terakhir.

Berita Terkait