Bontebok kini menjadi salah satu contoh paling jelas bahwa spesies liar bisa bangkit setelah berada di ambang kepunahan. Dari hanya 17 ekor pada 1932, populasinya sekarang diperkirakan mencapai 2.500 hingga 3.000 ekor.
Kondisi itu membuat status bontebok turun menjadi risiko rendah menurut IUCN. Pemulihan tersebut juga tidak terjadi di satu tempat saja, melainkan tersebar di Taman Nasional Bontebok, beberapa cagar alam, dan lahan pertanian swasta di sekitarnya.
Perjalanan dari sisa belasan ekor
Kisah suram bontebok bermula ketika pemukim Eropa tiba di Tanjung Harapan pada abad ke-17. Menurut The Nature Conservancy, tekanan kolonialisasi berdampak buruk bagi warga setempat dan satwa liar, termasuk bontebok.
Setelah hidup berdampingan dengan pemukim Belanda di Afrika Selatan, bontebok dianggap sebagai pesaing lahan pertanian. Banyak individu kemudian ditembak dalam jumlah besar, sampai pada 1932 hanya tersisa 17 ekor.
Upaya penyelamatan dilakukan dengan memindahkan 17 bontebok itu ke Taman Nasional Bontebok. Setelah populasinya bertambah menjadi 61 ekor, satwa ini dipindahkan lagi ke wilayah dengan vegetasi alami fynbos, dan di tempat tersebut mereka berkembang biak dengan sangat baik.
Sebaran populasi dan habitat
Saat ini, jumlah terbesar bontebok berada di Cagar Alam De Hoop. Selain itu, populasinya juga ditemukan di Taman Nasional Bontebok, beberapa cagar alam lain, dan area pertanian swasta di sekitarnya.
Di alam liar, bontebok hidup di padang rumput, sabana terbuka, dan vegetasi semak tinggi yang disebut fynbos. Habitat itu mendukung perilaku mereka yang aktif merumput dan bergerak dalam kelompok kecil.
Ciri fisik yang mudah dikenali
Bontebok atau damaliscus pygarus hidup di Afrika Selatan, Lesotho, dan Namibia. Hewan ini berukuran sedang, dengan panjang kepala dan tubuh sekitar 140 hingga 160 cm serta ekor 30 hingga 45 cm.
Bobot jantan berkisar 65-80 kg, sedangkan betina 55-70 kg. Ciri paling menonjol ada pada bulunya yang gelap mengilap di punggung, pantat dan bagian belakang yang putih, tanduk besar melengkung, serta ekor pendek dengan jumbai hitam.
Warna putih di wajah, perut, kaki, dan ekor membuat tampilannya sangat kontras. Pola wajah itu sering dianggap menyerupai topeng atau helm abad pertengahan dan diyakini membantu mengintimidasi predator seperti jakal punggung hitam dan anjing liar Afrika.
Pola makan, perilaku, dan reproduksi
Bontebok lebih menyukai rumput pendek sebagai makanan utama dan aktif merumput pada pagi serta sore hari. Hewan ini termasuk pemakan rumput diurnal, sehingga aktivitas makannya berlangsung pada siang hari.
Di Kebun Binatang San Diego, bontebok juga diberi potongan ranting pohon sebagai pakan tambahan. Kebiasaan itu menunjukkan kemampuan mereka memanfaatkan pakan lain di lingkungan konservasi atau penangkaran.
Bontebok hidup berkelompok dengan komposisi jantan, betina, atau campuran, dan jumlahnya tidak melebihi 40 ekor. Kelompok kecil ini juga rutin bermigrasi pada musim gugur dan dingin.
Jantan bersifat teritorial dan tidak segan bertarung jika wilayahnya terganggu. Pertarungan antarjantan dilakukan dengan saling beradu tanduk untuk menunjukkan dominasi sekaligus menarik betina.
Saat masa kawin, jantan memikat betina dengan menundukkan kepala dan mengangkat ekor ke atas punggung. Pasangan kemudian bergerak beriringan dan berputar dalam lingkaran kecil.
Perkawinan bontebok berlangsung antara Januari dan Maret, dengan masa kehamilan sekitar 7-8 bulan. Anak yang lahir dapat berdiri dan bergerak hanya dalam hitungan menit, kemampuan yang penting untuk bertahan di habitat terbuka yang penuh ancaman predator.
Ketahanan hidup yang membantu pemulihan
Selain berhasil pulih dari krisis populasi, bontebok juga dikenal tahan tanpa air selama beberapa hari. Jika air tersedia, mereka umumnya minum sekali sehari.
Usia hidup bontebok dapat mencapai 17 tahun. Fakta ini memperlihatkan bahwa, di balik sejarah kelamnya, spesies ini kini benar-benar kembali memiliki peluang bertahan di alam.
Source: www.idntimes.com






