BPBD Jatim Serap Model Krisis Jepang, Dari Komando Terpadu hingga Kesiapsiagaan Warga

BPBD Jawa Timur memperkuat kapasitas penanggulangan bencana dengan mempelajari manajemen krisis terpadu di Jepang. Fokusnya bukan hanya pada sistem komando, tetapi juga pada cara membangun kesiapsiagaan yang melibatkan lembaga, relawan, dan masyarakat secara lebih rapi.

Langkah itu ditempuh melalui keikutsertaan delegasi BPBD Jatim dalam The 10th International Conference on Integrated Crisis Management yang digelar di Chiba Institute of Science, Jepang. Delegasi ini melibatkan unsur kedaruratan, logistik, kepegawaian, pusdalops, aparatur, hingga perwakilan UPT PPK BPKAD Provinsi Jawa Timur.

Belajar dari koordinasi yang seragam

Salah satu pokok bahasan yang mendapat perhatian adalah penerapan Incident Command System atau ICS. Dalam sesi tentang penanganan bencana skala besar, Mu’man Nuryana dari BRIN dan Hitoshi Igarashi dari Chiba Institute of Science menekankan pentingnya koordinasi yang terstandarisasi agar organisasi dan relawan dapat bergerak sebagai satu tim.

Mu’man menilai respons awal terhadap bencana mudah tersendat jika setiap pihak memakai pola kerja yang berbeda. Kondisi itu dapat memunculkan kebingungan dan tumpang tindih, yang pada akhirnya menghambat penyelamatan korban.

Hitoshi Igarashi menjelaskan bahwa Indonesia sudah mengadaptasi ICS sesuai karakter sosial dan kelembagaan di dalam negeri. Adaptasi itu dijalankan melalui semangat gotong royong dengan melibatkan TAGANA serta komunitas seperti Kampung Siaga Bencana.

Dalam pandangan keduanya, manajemen bencana tidak cukup bergantung pada struktur komando. Kesejahteraan personel penanggulangan bencana dan partisipasi aktif masyarakat juga menentukan keberhasilan respons di lapangan.

Pelajaran dari pengalaman Jepang

Forum tersebut juga membuka ruang untuk melihat pengalaman Jepang menangani berbagai krisis besar. Hiromitu Sato dari University of Human Arts and Sciences memaparkan penanganan gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kecelakaan teknologi seperti kebocoran nuklir Fukushima, hingga pandemi COVID-19.

Menurut dia, penanggulangan bencana harus dilakukan secara komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Pandangan itu sejalan dengan tema forum yang menyoroti manajemen risiko, penanggulangan bencana, dan ketahanan masyarakat terhadap ancaman krisis global.

Dalam sesi kuliah utama, Hirotaka Yamashita dari Chiba Institute of Science turut menyoroti perubahan paradigma keamanan nasional akibat dinamika geopolitik global. Ia menegaskan bahwa keamanan nasional pada era modern membutuhkan kombinasi teknologi baru, kapasitas industri pertahanan, ketahanan nasional, dan kemandirian strategis.

Kolaborasi yang diperluas untuk Jawa Timur

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim Satriyo Nurseno menilai forum ini memberi peluang strategis untuk memperkuat kapasitas kelembagaan sekaligus memperluas jejaring kerja sama internasional. Ia menyebut banyak pembelajaran yang bisa dibawa pulang, mulai dari penguatan sistem komando, koordinasi lintas sektor, pengelolaan risiko, hingga budaya kesiapsiagaan masyarakat.

Satriyo juga menyoroti tantangan kebencanaan yang kian kompleks akibat perubahan iklim, urbanisasi, dan perkembangan teknologi. Menurut dia, kondisi tersebut menuntut sistem manajemen risiko yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis pengetahuan.

Ia menegaskan bahwa penguatan ketangguhan daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Sinergi akademisi, dunia usaha, komunitas, relawan, dan masyarakat dibutuhkan agar sistem penanggulangan bencana dapat berjalan lebih efektif, cepat, dan berkelanjutan.

Kerja sama BPBD Jatim dan Chiba Institute of Science juga tidak berhenti pada forum itu. Ke depan, kedua pihak akan memperluas kolaborasi melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan sarana pendukung kebencanaan, serta kerja sama pendidikan lewat program beasiswa.

Chiba Institute of Science bahkan menyerahkan bantuan kamera dan panel surya untuk mendukung operasional serta kesiapsiagaan penanggulangan bencana di Jawa Timur. Dukungan ini dipandang dapat memperkuat mitigasi bencana sekaligus mendorong lahirnya sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing global.

Source: beritajatim.com

Berita Terkait