BPOM Longgarkan Kemasan dan Buru Pasokan Baru, Industri Kesehatan Hadapi Tekanan Global

Pasokan obat di Indonesia masih terjaga, tetapi tekanan dari pasar global membuat industri kesehatan bergerak lebih hati-hati. Kenaikan harga minyak dan gas, pelemahan rupiah, serta gangguan rantai pasok mendorong pelaku farmasi dan distribusi kesehatan menata ulang strategi agar layanan tetap berjalan.

Dorongan untuk menjaga ketersediaan obat tidak berdiri sendiri. Industri juga perlu menahan lonjakan biaya produksi, karena bahan baku dan kemasan masih punya kaitan erat dengan petrokimia.

Biaya produksi ikut tertekan

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan bahwa lebih dari 50 persen kemasan obat berbasis petrokimia. Ia juga menyebut sekitar 30 persen bahan obat kimia berasal dari turunan yang sama, termasuk parasetamol dan ibuprofen.

Kondisi itu membuat harga minyak dunia cepat terasa dampaknya di industri kesehatan. Saat biaya bahan baku dan kemasan naik, beban produksi ikut meningkat dan perusahaan dituntut menjaga stabilitas pasokan sekaligus struktur biaya.

BPOM menilai stok obat masih aman, tetapi tekanan biaya tetap perlu diantisipasi. Jika beban produksi tidak dikelola dengan baik, kesinambungan produksi bisa ikut terganggu oleh gejolak dari luar negeri.

Relaksasi kemasan dan sumber impor jadi penyangga

Untuk meredam tekanan, BPOM menyiapkan relaksasi aturan kemasan obat. Kebijakan ini memberi ruang bagi industri untuk mengganti jenis kemasan tanpa proses panjang, selama keamanan dan stabilitas obat tetap terjaga.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan langkah diversifikasi sumber impor bahan baku. Pasokan akan dijajaki dari Amerika Serikat, negara-negara di kawasan Pasifik, hingga Rusia agar ketergantungan pada satu sumber bisa dikurangi.

Langkah tersebut dinilai penting karena gangguan di satu kawasan dapat cepat merembet ke rantai pasok global. Dengan sumber yang lebih beragam, industri farmasi memiliki peluang lebih besar menjaga suplai bahan baku saat tekanan internasional meningkat.

Kesehatan tak hanya soal stok, tetapi juga daya tahan sistem

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah ingin memperkuat akses, kualitas, dan ketahanan sistem kesehatan nasional. Ia juga menempatkan kontribusi sektor kesehatan terhadap ekonomi sebagai target penting karena sektor ini dinilai punya potensi besar mendorong pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja.

Budi menyebut ada tiga fokus utama Kementerian Kesehatan untuk lima tahun ke depan. Tiga fokus itu adalah layanan kesehatan yang mudah diakses, berkualitas, dan terjangkau, penguatan ketahanan sistem kesehatan, serta dorongan agar sektor kesehatan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.

Ia juga menilai peran swasta sangat penting untuk mempercepat pengembangan sektor ini. Arah kebijakan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan kesehatan tidak berhenti pada urusan obat dan alat medis, tetapi juga mencakup daya tahan industri dan efektivitas layanan.

Industri masuk fase yang lebih selektif

Sejumlah pelaku usaha menilai industri kesehatan kini bergerak ke fase yang lebih matang. Pertumbuhan tidak lagi cukup diukur dari ekspansi agresif, tetapi dari kemampuan menjaga mutu layanan, keselamatan pasien, dan keberlanjutan jangka panjang.

Presiden Direktur PT Bundamedik Tbk Agus Heru Darjono menyebut diferensiasi sekarang lebih ditentukan oleh konsistensi menjaga kualitas daripada sekadar kecepatan memperluas bisnis. Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan layanan kesehatan yang makin kompleks di tengah perubahan pola penyakit dan kebutuhan pasien.

Perubahan demografi juga ikut membentuk arah industri. Bertambahnya keluarga muda di perkotaan, meningkatnya penyakit kronis, dan naiknya populasi lanjut usia membuat kebutuhan terhadap layanan yang lebih terintegrasi semakin besar.

Distribusi jadi penentu pemerataan layanan

Di luar produksi, pemerataan distribusi obat dan alat kesehatan masih menjadi tantangan besar. Indonesia memiliki 38 provinsi dari Sabang sampai Merauke, sementara fasilitas kesehatan, tenaga medis, dan infrastruktur belum merata.

Kondisi geografis yang terdiri atas ribuan pulau membuat pengiriman produk kesehatan ke daerah pelosok memerlukan biaya dan logistik besar. Karena itu, penguatan jaringan distribusi menjadi bagian penting dari strategi industri kesehatan nasional.

PT Medela Potentia Tbk melalui anak usahanya, PT Anugrah Argon Medica, memperluas hub logistik kesehatan di Medan dengan pembangunan gedung dan gudang berkapasitas lebih besar. Fasilitas itu ditargetkan rampung pada kuartal IV dan diproyeksikan memperkuat distribusi farmasi serta alat kesehatan nasional.

Direktur Utama AAM Juliwaty menyebut perluasan hub logistik menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menjangkau lebih banyak wilayah. Perusahaan itu telah beroperasi lebih dari 45 tahun dan didukung dua pusat distribusi nasional, puluhan kantor cabang, serta titik penjualan di berbagai wilayah.

AAM juga memegang sertifikasi GDP WHO, CDOB dan CDAKB dari BPOM RI, sertifikasi halal dari LPPOM MUI, ISO 9001, dan Authorized Economic Operator. Dengan kemampuan distribusi cold chain product untuk vaksin dan produk biologi lainnya, perusahaan menempatkan kecepatan dan ketepatan distribusi sebagai faktor penting agar produk kesehatan tetap tersedia sesuai standar mutu bagi rumah sakit, apotek, dan outlet modern.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait