BRI Siapkan Buyback Rp500 Miliar, Sinyal Kuat Saat Pasar Masih Tertekan

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI menyiapkan dana maksimal Rp500 miliar untuk pembelian kembali saham atau buyback. Aksi korporasi ini dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan, mulai 12 Juni 2026 hingga 11 September 2026.

Langkah tersebut ditempuh di tengah pasar yang bergerak fluktuatif. BRI menilai buyback dapat menjadi penegasan bahwa perseroan tetap percaya pada fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjangnya.

Valuasi BBRI Dinilai Belum Sepenuhnya Mencerminkan Kinerja

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan valuasi saham BBRI masih dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kinerja dan potensi usaha perusahaan. Dari sudut pandang perseroan, aksi buyback juga ditujukan untuk menambah nilai bagi pemegang saham.

Keputusan ini hadir ketika pasar keuangan masih menghadapi tekanan eksternal. Dhanny menyebut situasi global masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi dunia, tensi geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, dan arus keluar modal dari pasar negara berkembang.

Kombinasi faktor itu ikut menekan pasar modal Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, buyback dipandang sebagai langkah korporasi untuk menjaga persepsi nilai saham sekaligus memperlihatkan kepercayaan manajemen terhadap arah bisnis perusahaan.

Dasar Pelaksanaan Mengacu pada Aturan OJK

Pelaksanaan buyback dilakukan dengan mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan atau POJK Nomor 13 Tahun 2023. Aturan itu mengatur kebijakan menjaga kinerja dan stabilitas pasar modal saat pasar berfluktuasi secara signifikan.

BRI juga merujuk pada Surat OJK Nomor S-10/D.04/2026 tanggal 13 Maret 2026 terkait kebijakan pembelian kembali saham oleh emiten dalam kondisi serupa. Dengan dasar tersebut, langkah buyback BRI ditempatkan sebagai aksi korporasi yang sesuai dengan kerangka pengawasan pasar modal.

Rasio Modal Masih Kuat Setelah Buyback

Perseroan menegaskan buyback tidak akan memberi dampak material terhadap kondisi keuangan maupun operasional. BRI menyebut telah menghitung kecukupan likuiditas dan posisi keuangan sebelum mengambil keputusan ini.

Berdasarkan proforma laporan keuangan konsolidasi per 31 Maret 2026 setelah buyback, Capital Adequacy Ratio atau CAR BRI masih berada di level 22,86%. Pada saat yang sama, Return on Equity atau ROE tercatat sebesar 18,37%.

BRI menilai level permodalan tersebut masih kuat untuk mendukung ekspansi usaha. Posisi modal itu juga dipandang cukup untuk menopang kemampuan mitigasi risiko bisnis perbankan.

Saham Hasil Buyback Disiapkan untuk Program Internal

Saham hasil pembelian kembali nantinya akan dialihkan melalui program kepemilikan saham bagi pekerja. Mekanisme yang sama juga mencakup direksi dan dewan komisaris setelah memperoleh persetujuan rapat umum pemegang saham atau RUPS.

Skema ini menunjukkan bahwa buyback tidak hanya diarahkan untuk merespons tekanan pasar. Aksi tersebut juga disiapkan untuk mendukung program insentif berbasis kepemilikan saham di internal perusahaan.

Dalam kapasitasnya sebagai bagian dari Danantara, BRI menegaskan fokus tetap pada penguatan fundamental bisnis, penciptaan nilai jangka panjang, serta kepatuhan pada regulasi dan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Buyback ditempatkan sebagai salah satu langkah untuk menjaga stabilitas, kepercayaan investor, dan kesinambungan pertumbuhan usaha.

Source: finansial.bisnis.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer