Komisi Eropa mulai mendorong perusahaan di negara-negara Uni Eropa memberi setidaknya satu hari kerja dari mana saja sebagai bagian dari langkah darurat menghadapi tekanan energi. Opsi kerja dari mana saja atau work from anywhere itu dipandang bisa langsung mengurangi mobilitas harian dan menekan konsumsi energi dari transportasi.
Langkah tersebut muncul di tengah kekhawatiran atas gangguan pasokan energi yang kembali memicu kegelisahan pasar. Situasi ini membuat Brussel mencari cara cepat agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa terlalu membebani kebutuhan energi yang semakin ketat.
Tekanan energi merembet ke cara kerja
Dalam dokumen yang dikutip Financial Times, dorongan kerja dari mana saja ditempatkan sebagai salah satu bagian dari paket dukungan yang lebih luas. Komisi Eropa tidak memposisikannya sebagai solusi tunggal, tetapi sebagai kebijakan praktis untuk membantu meredam beban jangka pendek.
Selain itu, Komisi juga mempertimbangkan subsidi transportasi umum agar pekerja tetap bisa bergerak tanpa bergantung pada kendaraan pribadi. Arah kebijakan ini menunjukkan bahwa respons terhadap krisis energi kini ikut menyentuh pola pergi ke kantor dan aktivitas kerja harian.
Selat Hormuz jadi sumber kekhawatiran utama
Kekhawatiran Eropa tidak lepas dari kondisi di Selat Hormuz yang kembali mempersulit pandangan pasar terhadap pasokan global. Jalur ini disebut menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak bumi, dan LNG dunia, sehingga gangguan sekecil apa pun langsung berimbas pada rantai pasok energi internasional.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan telah menutup jalur tersebut sejak Sabtu malam. Pembatasan itu disebut akan tetap berlaku sampai blokade Angkatan Laut AS dicabut sepenuhnya.
Pada 13 April, Angkatan Laut AS mulai menutup semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz. Washington menegaskan kapal non-Iran tetap bisa melintas selama tidak membayar bea masuk ke Teheran, sementara otoritas Iran belum mengumumkan penerapan bea masuk itu meski rencananya disebut sudah dibahas.
Brussel siapkan paket penghematan yang lebih luas
Di luar dorongan WFA, Komisi Eropa juga akan mengumumkan target elektrifikasi baru untuk mempercepat peralihan ke teknologi yang lebih hemat energi. Bersamaan dengan itu, dukungan disiapkan bagi negara-negara Uni Eropa untuk mengembangkan program sewa sosial bagi teknologi ramah lingkungan.
Skema tersebut mencakup pompa kalor dan kendaraan listrik agar masyarakat lebih mudah mengakses perangkat hemat energi. Brussel juga mempertimbangkan pengurangan PPN untuk pompa kalor, boiler, dan panel surya sebagai insentif tambahan bagi rumah tangga maupun pelaku usaha.
Komisi diperkirakan turut merekomendasikan penghematan konsumsi gas dan minyak. Panduan serupa pernah dikeluarkan Brussel pada 2022, sehingga langkah semacam ini bukan hal baru ketika Uni Eropa menghadapi risiko pasokan.
Perubahan rutinitas kerja mulai terlihat
Di tengah tekanan itu, kerja dari mana saja dipandang sebagai opsi yang cukup cepat diterapkan karena langsung menekan perjalanan harian. Pengurangan perjalanan berarti beban transportasi ikut turun, sekaligus membantu efisiensi penggunaan energi dalam jangka pendek.
Bagi Eropa, situasi ini membuat kebijakan energi tidak lagi berhenti pada industri atau pembangkit, tetapi juga ikut mengubah rutinitas kerja masyarakat. Jika pasokan terus mengetat, pola bekerja di kawasan tersebut berpotensi bergeser mengikuti kebutuhan menjaga stabilitas energi dan kelancaran aktivitas ekonomi.
Source: mediaindonesia.com






