Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menegaskan bahwa Uni Eropa tidak melihat Vladimir Putin siap terlibat dalam pembicaraan yang beritikad baik soal keamanan Eropa. Sikap itu muncul saat para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels langsung menolak gagasan Putin untuk menjadikan Gerhard Schroeder sebagai perantara dalam pembahasan masa depan.
Penolakan tersebut bukan sekadar soal nama yang diajukan Moskow. Bagi Brussels, langkah itu memperlihatkan kekhawatiran yang lebih besar: Rusia dinilai belum menunjukkan kesiapan untuk berunding secara serius guna mengakhiri perang di Ukraina.
Rusia belum dipercaya menentukan wakil Eropa
Putin pada Sabtu mengatakan bahwa ia meyakini perang di Ukraina akan berakhir dan siap membahas pengaturan keamanan baru untuk Eropa. Dalam pernyataannya, ia menyebut Schroeder sebagai mitra pilihannya untuk menjalankan peran itu.
Uni Eropa segera menutup kemungkinan tersebut. Para menteri luar negeri yang berkumpul di Brussels memandang tidak masuk akal jika Rusia ikut menentukan siapa yang mewakili Eropa di meja negosiasi.
Kallas menyebut alasan Putin memilih Schroeder sudah terlihat jelas. Menurut dia, penunjukan itu berisiko membuat Schroeder “duduk di kedua sisi meja”, sehingga sulit dipandang sebagai jembatan yang netral.
Riwayat kedekatan Schroeder dengan Moskow jadi beban
Keraguan Uni Eropa juga dipengaruhi hubungan lama Schroeder dengan Putin. Para pejabat di Brussels menilai kedekatan itu membuatnya tidak layak diposisikan sebagai perantara yang benar-benar netral.
Menteri Eropa Jerman, Gunther Krichbaum, bahkan mengatakan Schroeder tidak memiliki kredensial untuk menjadi “perantara yang jujur”. Ia menambahkan bahwa Schroeder sangat dipengaruhi Putin, dan pengaruh itu disebut telah berlangsung lama.
Sorotan lain muncul karena Schroeder juga pernah bekerja untuk perusahaan milik negara Rusia. Faktor-faktor itu memperkuat pandangan bahwa penunjukannya justru bisa memberi Moskow pengaruh sejak awal dalam proses yang seharusnya netral.
Ukraina membuka ruang terbatas, bukan untuk Schroeder
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha juga menolak peran Schroeder. Meski begitu, ia masih membuka peluang bagi keterlibatan Eropa dalam pembicaraan yang bersifat komplementer terhadap negosiasi yang dipimpin Amerika Serikat.
Sybiha tidak memaparkan bentuk keterlibatan itu secara rinci. Ia hanya menyebut bahwa ruang tersebut bisa diarahkan pada penyelesaian masalah konkret.
Seorang sumber yang mengetahui pembicaraan itu mengatakan Sybiha mengusulkan mediasi untuk kesepakatan antara Rusia dan Ukraina agar serangan ke bandara masing-masing dihentikan. Gagasan itu diposisikan sebagai sasaran yang terbatas, bukan jalan untuk menyelesaikan perang secara keseluruhan.
Eropa masih mencari arah, sambil menekan Moskow
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Uni Eropa menjalankan kebijakan mengisolasi Moskow. Blok itu menjatuhkan sanksi dan hanya menjaga sedikit kontak politik serta diplomatik tingkat tinggi dengan Rusia.
Meski begitu, sebagian pejabat Eropa mulai mendorong agar Uni Eropa mempertimbangkan pembicaraan langsung dengan Moskow. Dorongan itu muncul ketika negosiasi yang dipimpin Amerika Serikat berjalan lambat, terlebih karena perhatian Washington juga terbagi pada perang di Iran.
Presiden Dewan Eropa Antonio Costa pekan lalu mengatakan dirinya telah berbicara dengan para pemimpin Uni Eropa lain untuk mengatur diri dan menentukan apa yang perlu dibahas dengan Rusia ketika waktu yang tepat tiba. Namun Kallas dan sejumlah menteri lain tetap berpendapat bahwa tekanan terhadap Rusia harus diperkuat lebih dulu sebelum berbicara soal perundingan atau perwakilan.
Menteri Luar Negeri Lituania Kestutis Budrys menegaskan bahwa inti persoalan bukan siapa yang dipilih sebagai utusan. Menurut dia, hal yang lebih mendasar adalah menyiapkan alat untuk menekan Rusia.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Austria Beate Meinl-Reisinger menilai sudah waktunya Uni Eropa lebih aktif terlibat dalam pembicaraan dengan Rusia dan menunjuk tim negosiasi. Ia menekankan bahwa keputusan semacam itu harus dibuat oleh Uni Eropa, bukan oleh Rusia.
