Fosil buaya purba Montsecosuchus mengungkap detail yang hampir tak pernah bertahan selama jutaan tahun, mulai dari sisik kulit hingga pola belang pada ekor. Reptil kecil yang hidup sekitar 125 juta tahun lalu itu bahkan masih memperlihatkan struktur tulang rawan di beberapa bagian tubuhnya.
Jejak kulit terang dan gelap pada ekor menjadi salah satu temuan paling menarik karena membentuk pola menyerupai belang. Corak tersebut mengingatkan pada pola ekor anakan alligator modern, meski warna asli tubuh hewan ini belum dapat dipastikan.
Keberadaan pita terang dan gelap itu memberi petunjuk bahwa garis pada ekor mungkin telah muncul sejak tahap awal evolusi kelompok buaya. Óscar Castillo-Visa, salah satu penulis studi, menilai temuan tersebut dapat menjadi bukti awal keberadaan sifat itu pada garis evolusi buaya.
Ukuran Kecil dengan Jejak Tubuh Lengkap
Montsecosuchus memiliki panjang tubuh kurang dari satu meter dan bobot yang diperkirakan sekitar 4 kilogram. Ukurannya membuat hewan ini kerap digambarkan menyerupai kucing rumahan, jauh berbeda dari gambaran buaya modern yang berukuran besar.
| Aspek | Temuan |
|---|---|
| Usia fosil | Sekitar 125 juta tahun |
| Panjang tubuh | Kurang dari satu meter |
| Perkiraan bobot | Sekitar 4 kilogram |
| Jaringan yang bertahan | Sisik kulit dan struktur tulang rawan |
Kulit fosil itu memperlihatkan susunan sisik yang tidak seragam pada seluruh tubuhnya. Sisik di lengan dan kaki memiliki ukuran berbeda, sehingga kedua bagian tersebut diduga menjalankan fungsi yang tidak sama.
Para peneliti juga menemukan struktur yang kemungkinan berkaitan dengan organ sensorik pada sisik. Pada buaya modern, organ serupa berfungsi sebagai reseptor sentuhan dan suhu yang tersebar di permukaan tubuh.
Petunjuk Indra yang Belum Menyebar
Pada Montsecosuchus, struktur yang diduga organ sensorik itu lebih terkonsentrasi di leher dan lengan. Susunan tersebut mengarah pada kemungkinan bahwa sistem sensorik kelompok buaya mula-mula berkembang secara lokal sebelum menyebar lebih luas ke kulit.
Castillo-Visa mengatakan perhatian tim tidak hanya tertuju pada lapisan sisik yang tersisa. “Tapi kami tidak hanya fokus pada sisik, karena rongga dada dan lengannya juga mengandung struktur tulang rawan,” katanya kepada IFLScience.
Pelestarian tulang rawan di sekitar tulang rusuk dan lengan tergolong jarang ditemukan pada fosil reptil purba. Kombinasi jaringan keras dan jaringan lunak itu membuat fosil ini menawarkan gambaran anatomi yang lebih lengkap dibandingkan banyak temuan lain.
Teka-Teki Hewan dari Lingkungan Air
Meski hidup di lingkungan yang hampir sepenuhnya akuatik, Montsecosuchus tidak memiliki struktur menyerupai sirip yang berjajar di sepanjang ekor. Pada buaya modern, struktur seperti itu biasanya membantu pergerakan saat berenang.
Ketiadaan bagian tersebut memunculkan dugaan bahwa reptil kecil ini mungkin lebih sering berlari daripada berenang. Namun, dugaan itu belum menuntaskan teka-teki karena jari tangan dan kakinya yang memanjang justru dikenal sebagai ciri hewan akuatik.
Fosil ini berasal dari formasi La Pedrera de Meià di timur laut Spanyol dan pertama kali dideskripsikan pada 1915. Penelitian ulang menggunakan sinar ultraviolet dilakukan karena lokasi tersebut dikenal mampu menyimpan jaringan lunak pada fosil, sementara hasil studi telah diterbitkan dalam Zoological Journal of the Linnean Society.







