Dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, pencemaran laut berpotensi menekan hasil perikanan dan wisata bahari Indonesia. Dampaknya tidak hanya menyentuh lingkungan pesisir, tetapi juga keamanan pangan serta kesehatan masyarakat.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Etty Riani, menilai kondisi pencemaran laut di Indonesia semakin memprihatinkan. Persoalan tersebut kini tidak hanya terlihat di kota-kota besar, melainkan juga menjangkau pesisir yang jauh dari pusat aktivitas manusia.
Penurunan kualitas laut dapat langsung memengaruhi nelayan karena ikan membutuhkan habitat yang sehat untuk hidup dan berkembang biak. Kerusakan di kawasan pesisir berisiko mengurangi hasil tangkapan sekaligus menurunkan kualitas produk perikanan.
Ancaman berikutnya berada pada rantai konsumsi manusia. Bahan pencemar dan mikroplastik dapat terakumulasi dalam biota laut yang kemudian dikonsumsi dalam bentuk ikan, kerang, udang, maupun hewan laut lainnya.
Risiko pada Ekosistem dan Ekonomi Pesisir
Kawasan pesisir menjalankan fungsi penting sebagai tempat hidup beragam biota laut. Mangrove, padang lamun, dan terumbu karang menjadi bagian ekosistem yang rentan saat limbah dan sampah terus masuk ke perairan.
| Bidang Terdampak | Risiko Utama |
|---|---|
| Ekosistem pesisir | Mangrove, padang lamun, dan terumbu karang dapat mengalami kerusakan. |
| Perikanan | Habitat ikan terganggu, sementara hasil tangkapan dan kualitas produk berisiko menurun. |
| Pangan dan kesehatan | Bahan pencemar serta mikroplastik dapat menumpuk pada biota laut. |
| Wisata bahari | Turunnya kualitas lingkungan pesisir dapat memengaruhi daya tarik wisata. |
Kerusakan habitat tidak berhenti pada hilangnya fungsi ekologis kawasan pantai. Kondisi itu juga dapat memengaruhi wisata bahari yang bergantung pada kebersihan perairan dan kesehatan ekosistem pesisir.
Menurut Prof Etty, sebagian besar pencemaran laut sebenarnya berasal dari aktivitas di daratan. Limbah domestik, industri, pertanian, dan sampah dapat terbawa aliran sungai sebelum akhirnya bermuara serta menumpuk di laut.
Plastik Menjadi Beban Pencemaran
Sampah plastik masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran laut di Indonesia, sebagaimana disampaikan Prof Etty kepada Kompas.com. Di wilayah pesisir, temuan sampah mencakup kemasan makanan dan minuman sekali pakai, kantong plastik, botol, sedotan, styrofoam, serta jaring dan tali plastik.
Material plastik sulit terurai dan dapat bertahan ratusan tahun di lingkungan. Dalam prosesnya, plastik dapat pecah menjadi mikroplastik hingga nanoplastik yang ukurannya jauh lebih kecil.
Partikel tersebut telah ditemukan di air laut dan sedimen, juga pada ikan, kerang, udang, teripang, dan garam. Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik laut tidak hanya berada di permukaan perairan, tetapi dapat bergerak melalui rantai makanan.
Upaya Pencegahan dari Rumah
Pengendalian pencemaran laut memerlukan langkah dari rumah hingga kawasan pesisir. Penggunaan plastik sekali pakai dapat dikurangi dengan membawa tas belanja dan botol minum sendiri.
Pemilahan sampah serta pengolahan sampah organik menjadi kompos juga dapat mengurangi sampah yang berpotensi bocor ke lingkungan. Kegiatan bersih sungai dan pantai dapat menjadi dukungan nyata di tingkat komunitas.
Prof Etty menekankan perlunya penanganan terpadu melalui penegakan hukum, penerapan ekonomi sirkular, dan kolaborasi lintas pihak. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, serta masyarakat perlu bergerak bersama untuk menjaga pencemaran laut Indonesia agar tidak terus membebani generasi mendatang.







