Kasus Bugatti Chiron Pur Sport milik Mat Armstrong kini menjadi salah satu contoh paling tajam dalam perdebatan hak memperbaiki. Pabrikan supercar asal Prancis itu disebut menolak menjual komponen asli yang dibutuhkan untuk perbaikan, sementara Armstrong tetap melanjutkan proses pemulihan mobil rusak tersebut.
Armstrong, mekanik asal Leicester yang dikenal lewat kanal YouTube-nya dengan hampir 7 juta pelanggan, menunjukkan bahwa mobil bernilai sangat tinggi sekalipun tidak selalu harus bergantung pada bengkel resmi. Dalam proses itu, ia mengerjakan pembangunan ulang Chiron Pur Sport yang sebelumnya hancur dalam kecelakaan serius.
Mobil Rp Miliaran yang Sempat Dinilai Total Loss
Bugatti Chiron Pur Sport yang dibahas itu bukan mobil biasa. Saat baru, nilainya mencapai $6 juta, dengan mesin 16 silinder dan kemampuan melaju di atas 400 km/jam.
Mobil tersebut pertama kali dilihat Armstrong setelah kecelakaan berat di Los Angeles. Bagian depannya hancur total, lalu ahli yang dikirim Bugatti dari Paris menyebut mobil itu sebagai total loss dan tidak layak diperbaiki.
Bugatti kemudian menyebut biaya untuk mengembalikan mobil ke spesifikasi asli akan mencapai sekitar $1,7 juta. Pemilik akhirnya mengambil uang asuransi, sementara mobil masuk ke sistem salvage di Amerika Serikat sebelum dibeli kembali melalui lelang dan sampai ke tangan Armstrong.
Penolakan Bugatti dan Tarik-Ulur Soal Tempat Perbaikan
Menurut Armstrong, Bugatti tidak bersedia menjual suku cadang asli yang dibutuhkan untuk memperbaiki mobil itu. Ia juga mengatakan pabrikan hanya mau menangani perbaikan di pusat layanan milik mereka sendiri dengan biaya yang sangat mahal.
Armstrong bahkan menyebut servis Bugatti Chiron bisa menelan biaya €20.000 hanya untuk ganti oli. Karena itu, ia memilih bekerja bersama bengkel yang ia percaya mampu menangani proyek rumit tersebut.
Pihak Bugatti sendiri berargumen bahwa perbaikan mandiri bisa mengorbankan keselamatan. Mate Rimac, kepala eksekutif Bugatti, juga sempat menyampaikan bahwa bagian seperti monocoque kemungkinan rusak dan tidak bisa diperbaiki, sambil menawarkan bantuan tetapi menolak penggunaan komponen alternatif untuk sejumlah bagian.
Perakitan Ulang yang Membantah Keraguan
Meski mendapat peringatan keras, Armstrong tetap melanjutkan proyek itu dan terbang ke Florida untuk menyusun kembali mobil tersebut secara profesional. Ia memakai kombinasi komponen cetak 3D, bagian dari mobil biasa seperti Audi A3, serta radiator pendingin khusus yang dibuat dari nol oleh perusahaan spesialis.
Perkembangan itu membuat kisah satu mobil rusak berubah menjadi tontonan besar di YouTube. Puluhan video tentang proses rebuild tersebut ditonton jutaan kali, dan perhatian publik makin besar ketika Rimac ikut menanggapi langsung melalui kanalnya.
Dalam salah satu tanggapannya, Rimac menyebut hanya dua fasilitas di dunia yang memiliki alat untuk mengerjakan pekerjaan itu dengan benar. Armstrong justru membuktikan bahwa perbaikan masih bisa dilakukan di luar pusat servis resmi, meski jalurnya jauh lebih rumit.
Dampak yang Melampaui Garasi
Kasus ini ikut menyeret perdebatan yang lebih luas soal hak memperbaiki barang. Mulai 31 Juli 2026, hukum baru Uni Eropa tentang right to repair akan berlaku dan memberi konsumen hak legal untuk merawat, memperbaiki, atau memodifikasi produk seperti mobil, elektronik, hingga alat pertanian.
Aturan tersebut juga mewajibkan produsen menyediakan suku cadang yang dibutuhkan, meski penerapannya di sektor mobil masih menuai kritik karena dianggap belum jelas. Tujuan utamanya adalah mengurangi pemborosan sumber daya akibat barang yang sulit diperbaiki dengan harga wajar.
Risiko Privasi, Emisi, dan Perdebatan di Luar Eropa
Di sisi lain, bengkel mobil memperingatkan bahwa akses publik ke telematika sistem bantuan canggih dapat menimbulkan risiko privasi dan keamanan siber. Asosiasi mekanik mobil di Jerman juga menilai aturan ini bisa membuat mobil tua tetap digunakan lebih lama, terutama model bermesin pembakaran yang sudah tidak sesuai dengan regulasi emisi terbaru.
Perdebatan serupa juga meluas ke luar Eropa. Negara bagian Maine di Amerika Serikat telah meloloskan aturan right-to-repair yang luas pada 2025, sementara Donald Trump ikut menyinggung isu ini dalam pernyataan yang ternyata memuat anekdot keliru.
Pada akhirnya, Armstrong tetap menjadi simbol paling nyata dari tuntutan konsumen untuk membuka akses reparasi. Ia sebelumnya juga berhasil memperbaiki Bugatti Veyron miliknya sendiri dengan komponen dari Volkswagen Lupo, dan kisah Chiron ini kembali menguatkan pertanyaan yang sama: siapa yang seharusnya memegang kendali atas mobil yang sudah dibeli konsumen.
