Ponsel Lipat Commodore Ini Sengaja Dibuat Agar Orang Tidak Terus Menatap Layar

Author: Redaksi Android62

Commodore kembali ke pasar ponsel dengan perangkat yang justru berusaha membuat penggunanya tidak terlalu sering memakai ponsel. Callback 8020 hadir sebagai ponsel lipat bergaya retro dengan pendekatan yang menonjolkan pembatasan layar dan penolakan terhadap kebiasaan menggulir tanpa henti.

Langkah ini menempatkan Commodore di jalur yang berbeda dari arus utama industri ponsel. Di saat banyak perangkat berlomba menambah aplikasi dan layanan, Callback 8020 malah menutup akses ke browser web tradisional dan aplikasi media sosial.

Fokus pada detoks digital

Ponsel ini dirancang untuk digital well-being, dengan tujuan menjaga pengguna tetap terhubung tanpa tenggelam dalam layar. Commodore tetap menyediakan WhatsApp, Signal, Spotify, alat QR code, aplikasi navigasi, dan OpenBubble untuk pesan berbasis sumber terbuka.

Callback 8020 menjalankan Sailfish OS, sistem operasi berbasis Linux dari Jolla yang dikenal sebagai penerus MeeGo milik Nokia. Commodore menyebut platform itu sebagai sistem operasi “de-Googled”, meski pengguna tetap bisa mengakses aplikasi Android saat dibutuhkan.

Pendekatan tersebut membuat perangkat ini berada di antara feature phone dan smartphone. Fungsinya masih memadai untuk komunikasi dan kebutuhan harian, tetapi sengaja tidak dibuat ideal untuk konsumsi konten tanpa henti.

Desain lipat dan kontrol fisik

Dari sisi desain, Callback 8020 memakai bentuk clamshell yang mengingatkan pada ponsel lipat awal 2000-an. Di bagian luar, tersedia layar 1,77 inci untuk informasi dasar seperti waktu dan tanggal.

Saat dibuka, pengguna akan menemukan layar sentuh 3,25 inci beresolusi 480 x 640 piksel. Namun layar sentuh itu tidak menjadi pusat navigasi harian karena kontrol sentuh dinonaktifkan secara default.

Sebagai gantinya, pengguna bernavigasi lewat keypad fisik dan D-pad. Kontrol sentuh baru aktif ketika memang dibutuhkan oleh aplikasi yang didukung, sehingga interaksi tetap dibatasi secara sengaja.

Commodore juga menambahkan indikator notifikasi LED yang bisa diprogram pada bodi luar. Setiap lampu dapat diatur untuk aplikasi berbeda agar notifikasi penting bisa dikenali cepat tanpa harus sering membuka perangkat.

Panel belakang ponsel pun dapat diganti. Commodore menyebutnya Snapbacks, sebuah opsi kustomisasi yang memberi warna berbeda pada tampilan perangkat.

Spesifikasi inti dan daya tahan baterai

Untuk urusan performa, Callback 8020 memakai prosesor MediaTek Helio, RAM 4GB, dan penyimpanan internal 64GB. Ada pula slot MicroSD yang mendukung ekspansi hingga 512GB.

Di dalam paket penjualan, Commodore menyertakan kartu memori 32GB. Pada sektor kamera, tersedia kamera belakang 48 megapiksel buatan Sony serta kamera depan di sisi dalam untuk panggilan video.

Perangkat ini ditenagai baterai 1.550mAh. Commodore mengklaim daya tahannya bisa mencapai satu minggu dengan penggunaan moderat, selaras dengan konsep ponsel yang membatasi aktivitas layar.

Harga dan ketersediaan

Callback 8020 dijual mulai $499 untuk model standar dalam pilihan warna Beige, White, dan Silver. Commodore juga menyiapkan varian Blue transparan seharga $549.99.

Bagi penggemar dan kolektor, tersedia Founder’s Edition berlapis warna emas dengan harga $640. Pre-order dijadwalkan mulai 30 Juni, sementara pengiriman direncanakan dimulai pada akhir tahun ini.

Kembalinya Commodore lewat Callback 8020 juga membawa sentuhan nostalgia yang kuat. Ponsel ini dibekali beberapa game klasik Commodore 64 yang sudah terpasang, sekaligus menegaskan identitas merek yang pernah populer di era komputer rumahan.

Di tengah persaingan ponsel modern yang semakin sarat aplikasi, Commodore memilih pendekatan yang lebih sempit tetapi tegas. Callback 8020 tidak mencoba menjadi pusat hiburan tanpa batas, melainkan alat komunikasi modern yang sengaja dibuat agar pemiliknya tidak terus terpaku pada layar.

Source: www.gadgets360.com
Berita Terbaru