BYD mengklaim sistem assisted driving buatannya mampu menekan risiko kecelakaan berat hingga tinggal seperenam dibanding pengemudi manusia. Klaim itu bukan sekadar angka di atas kertas, karena perusahaan menyebutnya dihitung dari tingkat aktivasi airbag per 10 juta kilometer perjalanan.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Presiden Senior BYD Group, Yang Dongsheng, dalam ajang 13th Intelligent Connected Vehicle Technology Annual Conference di Shanghai, China. Fokus pengukuran pada airbag membuat klaim BYD lebih diarahkan ke insiden berat yang benar-benar tercatat dalam operasional kendaraan.
Skala pemakaian teknologi ini juga sudah sangat besar. BYD menyebut assisted driving miliknya telah terpasang di hampir 3 juta kendaraan dan tersedia di lebih dari 60 model mobil yang dijual perusahaan.
Di sisi penggunaan harian, teknologi ini tampaknya sudah menjadi bagian dari kebiasaan banyak pemilik mobil BYD. Fitur navigation-assisted driving disebut telah dipakai lebih dari 50% pengguna, sementara bantuan parkir mencapai tingkat pemakaian 86%.
Angka-angka itu menjadi penting karena menunjukkan sistem bantuan berkendara BYD tidak berhenti sebagai fitur tambahan. Data pemakaian yang luas juga memberi perusahaan basis besar untuk terus menyempurnakan sistem yang mereka klaim makin akurat.
Parkir otomatis jadi sorotan
Salah satu klaim paling agresif datang dari fitur parkir otomatis. BYD mengatakan teknologi ini bisa memangkas goresan dan tabrakan kecil hingga sekitar seperlimapuluh dibanding pengemudi manusia.
Fitur tersebut masuk dalam sistem intelligent driving BYD yang diberi nama “god’s eye”. Sistem ini mengandalkan kombinasi sensor visual dan lidar untuk membantu kendaraan mendeteksi hambatan saat parkir.
BYD menyebut teknologi itu juga dirancang agar mampu membaca benda yang menggantung dan permukaan berlubang. Fokus pada area parkir ini relevan karena manuver kecepatan rendah sering memunculkan insiden ringan dalam penggunaan sehari-hari.
Didukung arsitektur kendaraan terpadu
Kemampuan sistem ini, menurut Yang Dongsheng, ditopang oleh arsitektur kendaraan bernama Xuanji Architecture. Platform tersebut menggabungkan sistem elektronik dan elektrifikasi dalam satu struktur terpadu.
BYD juga memanfaatkan kecerdasan buatan melalui simulasi berkendara. Perusahaan menyebut proses itu didukung data perjalanan harian mencapai 190 juta kilometer untuk melatih dan menyempurnakan algoritma.
Pembaruan algoritma dilakukan setiap tiga hari. Ritme pembaruan seperti ini menunjukkan pengembangan sistem berlangsung terus-menerus dan tidak berhenti pada saat produk diluncurkan.
Diuji dalam kondisi ekstrem
BYD juga menyoroti pengujian di situasi darurat. Perusahaan mengklaim sistem kendaraannya mampu menjaga stabilitas mobil dalam 200 milidetik saat ban pecah di kecepatan tinggi.
Selain itu, pengujian stabilitas disebut dilakukan pada kecepatan lebih dari 200 km/jam. Klaim ini memperkuat gambaran bahwa teknologi bantu kemudi BYD diarahkan untuk menghadapi kondisi ekstrem, bukan hanya membantu dalam situasi normal.
Perluasan penerapan teknologi mengemudi cerdas juga terus berjalan sejak awal 2025. Saat ini, fitur level 2 assisted driving sudah hadir di hampir seluruh lini kendaraan penumpang BYD.
Di tengah penguatan teknologi itu, BYD juga mendorong integrasi intelligent driving dan pengisian daya cepat pada kendaraan terbarunya. Perusahaan tercatat menjual sekitar 314.100 kendaraan elektrifikasi secara global pada April 2026, naik 6,2% dibanding bulan sebelumnya, meski turun 15,7% secara tahunan.
Source: www.beritasatu.com






