Di Indonesia, hantavirus bukan nama yang benar-benar asing bagi dunia kesehatan. Kementerian Kesehatan RI menyebut virus ini sudah terdeteksi sejak 1980-an dan masih dipantau karena masih beredar di lingkungan tertentu, terutama wilayah dengan kepadatan tikus tinggi.
Data yang dicatat pemerintah menunjukkan adanya 23 kasus hantavirus jenis Seoul virus dalam dua tahun terakhir, dengan tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Pada 2026, ada tambahan lima kasus baru di beberapa wilayah Indonesia, dengan DKI Jakarta dan DIY menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak.
Meski sering memicu perhatian publik saat dikaitkan dengan penyakit akibat tikus, hantavirus bukan temuan baru. Penelitian mengenai virus ini sudah berlangsung puluhan tahun, dan jejak awalnya bahkan bisa ditelusuri hingga masa Perang Korea.
Jejak awal dari wabah misterius di Korea
Penelusuran ilmiah terhadap hantavirus mulai berkembang setelah Perang Korea pada 1951 hingga 1953. Saat itu, ribuan tentara Pasukan PBB mengalami demam berdarah misterius disertai gangguan ginjal, tetapi penyebab pastinya belum diketahui.
Dalam jurnal Clin Lab Med yang dipublikasikan Mohammed Mir, investigasi terhadap virus ini disebut terus berkembang selama beberapa dekade berikutnya. Pada 1978, seorang penderita berhasil diisolasi setelah diketahui tertular dari hewan pengerat kecil bernama Apodemus agrarius di dekat Sungai Hantan, Korea Selatan.
Dari lokasi itulah virus tersebut kemudian diberi nama virus Hantaan. Perkembangan riset berlanjut hingga 1981 ketika genus Hantavirus resmi diperkenalkan dalam famili Bunyaviridae.
Mengapa virus ini dianggap penting
Hantavirus kemudian dikenal sebagai penyebab penyakit haemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS, yaitu penyakit yang menyerang ginjal dan pembuluh darah manusia. Kasus awal di Korea juga diduga berkaitan dengan lebih dari 3.000 kasus demam berdarah pada tentara setelah perang berakhir.
Perhatian dunia kembali meningkat pada 1993 saat wabah hantavirus terjadi di wilayah barat daya Amerika Serikat. Wabah itu memicu gangguan serius pada saluran pernapasan dan melahirkan istilah hantavirus pulmonary syndrome atau HPS.
Kasus tersebut juga tercatat dalam arsip Kementerian Kesehatan Indonesia. Sejak saat itu, perhatian terhadap penyakit akibat tikus makin besar karena gejalanya dapat berkembang berat dalam waktu singkat.
Penularannya tidak sama dengan virus pernapasan
Para ahli menegaskan pola penularan hantavirus berbeda dari virus pernapasan seperti COVID-19. Virus ini tidak menyebar dengan cara yang sama, sehingga pemahaman tentang mekanisme penularannya menjadi sangat penting.
Penularan umumnya terjadi melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus bisa masuk lewat udara yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus, dan kontak langsung dengan rodensia atau permukaan terkontaminasi juga meningkatkan risiko.
Dalam pedoman nasional dijelaskan bahwa penularan terutama terjadi melalui udara yang terkontaminasi kotoran tikus. Artinya, seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular.
Sebaran tipe virus berbeda di tiap wilayah
Di dunia, persebaran hantavirus terbagi berdasarkan tipenya. Tipe Hantaan banyak ditemukan di Asia Timur seperti China dan Korea, serta sebagian wilayah Rusia.
Tipe Puumala lebih sering muncul di Skandinavia, Eropa Barat, dan Rusia bagian barat. Ada pula tipe Dobrava yang dominan di kawasan Balkan dan tipe Saarema yang tersebar di Eropa Tengah dan Skandinavia.
Tipe Seoul termasuk salah satu varian yang tersebar hampir di seluruh dunia. Sementara itu, tipe Andes lebih banyak ditemukan di Amerika Selatan, khususnya Argentina dan Chili.
Gejala awal kerap membingungkan
Hantavirus kerap sulit dikenali pada awal infeksi karena gejalanya mirip penyakit yang lebih umum. Keluhan awal biasanya berupa demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan.
Di Indonesia, gejala itu sering menyerupai demam berdarah, tifoid, atau leptospirosis. Akibatnya, sebagian kasus bisa terlewat atau baru diketahui setelah kondisi pasien memburuk.
Pemantauan dan investigasi terus dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran lebih luas. Di tengah perhatian publik yang kembali meningkat, pemahaman tentang sejarah, cara penularan, dan gejala hantavirus menjadi penting agar masyarakat tidak salah membaca risiko.
Source: www.beautynesia.id