Bukittinggi Tanpa Bioskop, Fadli Zon Soroti Kota Kelahiran Usmar Ismail yang Ironis

Ketiadaan bioskop di Bukittinggi menjadi sorotan Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Kota yang dikenal sebagai tempat lahir Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail, itu justru belum memiliki layar lebar untuk warganya.

Fadli menilai kondisi tersebut sebagai ironi yang mencolok. Di tengah sejarah panjang Bukittinggi dalam perjalanan perfilman nasional, akses menonton film di bioskop masih belum tersedia secara memadai.

Pasar Bioskop Nasional Dinilai Masih Terbuka Lebar

Fadli menyebut kebutuhan layar bioskop di Indonesia masih sangat besar. Menurut perhitungannya, jumlah layar yang ideal bisa mencapai 10.000 unit, sedangkan yang tersedia saat ini baru sekitar 2.500 layar.

Selisih itu, kata dia, menunjukkan peluang investasi di bidang sinema masih luas. Ia menilai industri ini belum dimaksimalkan, padahal potensi penontonnya masih kuat.

Antusiasme Warga Bukittinggi Jadi Bukti

Dalam kunjungannya ke Bukittinggi untuk peringatan 100 tahun Jam Gadang, Fadli melihat sendiri adanya kebutuhan hiburan layar lebar di daerah tersebut. Ia menyinggung kegiatan bioskop terbuka yang digelar komunitas setempat selama enam hari berturut-turut.

Acara itu disebut mampu menarik lebih dari 1.000 penonton. Bagi Fadli, angka tersebut menunjukkan masyarakat masih memiliki minat besar terhadap pengalaman menonton film di layar lebar.

Bioskop dan Ekonomi Budaya

Fadli menilai bioskop bukan hanya tempat hiburan, melainkan penggerak ekonomi budaya. Keberadaan bioskop disebut memiliki efek berantai yang panjang bagi ekosistem film dan sektor pendukungnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga tradisi menonton di bioskop konvensional. Menurutnya, di banyak negara budaya itu sudah hampir punah, sehingga Indonesia perlu merawatnya agar tidak ikut hilang.

Jeda Tayang ke Platform Digital

Di sisi lain, Fadli mengingatkan pentingnya jeda antara penayangan film di bioskop dan perilisannya di layanan streaming digital atau over-the-top, termasuk Netflix. Ia menilai jeda ini perlu dijaga agar ekosistem perfilman tetap sehat.

Ia mengusulkan agar film layar lebar tidak langsung masuk ke platform digital setelah tayang di bioskop. Jeda ideal yang disampaikan berkisar 120 hari, atau sekitar empat bulan, bahkan bisa lima hingga enam bulan.

Dengan jeda itu, penonton tetap memiliki waktu untuk menikmati film di layar lebar sebelum hadir di layanan digital. Pandangan tersebut sekaligus mempertegas bahwa bioskop masih diposisikan sebagai ruang penting dalam rantai hidup film Indonesia.

Source: www.medcom.id

Berita Terkait