Bulog Kunci Jalur Swasembada Pangan di Gorontalo, Serapan Petani Tembus 3,17 Juta Ton

Perum Bulog menyebut telah menyerap 3,17 juta ton setara beras dari petani dalam negeri hingga 20 Juni 2026. Angka itu telah mencapai 80 persen dari target tahun 2026 yang ditetapkan sebesar 4 juta ton, sekaligus memperkuat stok pangan nasional.

Serapan tersebut dilakukan melalui pembelian gabah kering panen sesuai Harga Pembelian Pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini menjadi salah satu instrumen utama untuk memberi kepastian harga dan pasar bagi petani, terutama di tengah kebutuhan menjaga ketersediaan pangan secara berkelanjutan.

Penguatan dari hulu hingga hilir

Direktur Utama Perum Bulog, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa Bulog tidak hanya bergerak di sisi hilir melalui pengelolaan stok dan distribusi pangan. Menurut dia, peran di hulu juga terus diperkuat melalui penyerapan hasil panen petani sesuai ketentuan pemerintah.

Ia menyebut langkah tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan swasembada pangan berkelanjutan. Dengan kepastian serapan, petani memiliki perlindungan harga, sementara masyarakat tetap memperoleh jaminan pasokan.

PENAS jadi ruang kolaborasi pangan

Komitmen itu kembali ditegaskan dalam keikutsertaan Bulog pada Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Kawasan Gelanggang Olahraga David-Toni, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Ajang ini mempertemukan petani, nelayan, pelaku usaha, penyuluh, dan pemangku kepentingan sektor pangan dari berbagai daerah.

PENAS XVII Tahun 2026 dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, pada Sabtu (20/6/2026). Dalam sambutannya, Gibran menekankan bahwa kemandirian pangan menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto di tengah situasi global yang semakin rumit.

Bagi Bulog, momentum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat sinergi dengan petani, nelayan, pemerintah daerah, serta seluruh pihak dalam rantai pangan. Semangat yang diusung dalam ajang itu adalah transformasi teknologi dalam mendukung swasembada pangan nasional.

Proses penyerapan dijaga di lapangan

Dalam pelaksanaannya, Bulog memastikan penyerapan gabah dan beras berjalan transparan, cepat, dan sesuai ketentuan. Proses ini juga melibatkan mitra penggilingan, pemerintah daerah, serta dukungan unsur TNI dan Polri di berbagai wilayah agar penyerapan di lapangan berlangsung lancar.

Keterlibatan banyak pihak menunjukkan bahwa urusan pangan tidak berdiri sendiri. Bulog menempatkan kerja sama lintas sektor sebagai bagian penting agar hasil produksi petani terserap optimal dan stok pangan tetap aman.

Melalui kehadiran di PENAS Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Bulog kembali menegaskan fokus pada penguatan rantai pangan nasional. Langkah itu diarahkan untuk memastikan hasil produksi petani dan nelayan terserap baik, sekaligus menjaga ketahanan pangan dalam kerangka swasembada yang berkelanjutan.

Source: www.suara.com

Berita Terkait