Burung Bisa Tidur Saat Terbang, Otaknya Tetap Siaga di Tengah Udara

Burung tidak pernah benar-benar mematikan seluruh otaknya saat tidur di udara. Mereka memakai pola tidur unik yang membuat satu belahan otak tetap aktif, sementara sisi lainnya beristirahat.

Kemampuan itu menjadi kunci bagi burung yang harus bermigrasi jauh, melintas di atas laut, atau bertahan di jalur terbang dalam waktu lama. Di tengah ancaman predator, tabrakan, dan perubahan kondisi sekitar, mereka tetap butuh jeda tanpa kehilangan kewaspadaan.

Tidur yang hanya mematikan sebagian otak

Pada manusia dan banyak satwa lain, tidur gelombang lambat biasanya membuat kedua belahan otak sama-sama tidak aktif. Pada burung, kondisi itu bisa bergeser menjadi tidur gelombang lambat unihemisferik atau USWS, yaitu saat satu sisi otak tidur dan sisi lainnya tetap terjaga.

Saat mekanisme itu bekerja, mata yang terhubung dengan belahan otak yang aktif dapat tetap terbuka. Cara ini membantu burung memantau lingkungan sambil tetap menghemat energi selama perjalanan panjang.

Burung juga cenderung tidur dalam siklus yang sangat singkat. Banyak di antaranya hanya terlelap beberapa menit, lalu mengulangnya berkali-kali sepanjang hari.

Mengapa tidur di udara menjadi pilihan

Tidur di udara memberi keuntungan besar bagi burung yang hidup dengan risiko tinggi. Jika mereka terlalu lama tidak waspada di darat atau di lokasi yang tidak aman, ancaman predator dan gangguan lain lebih mudah datang.

Karena itu, burung yang sedang bermigrasi kerap mengambil tidur singkat saat meluncur atau saat berputar naik mengikuti arus termal. Pola ini membuat mereka tetap berada di jalur terbang sambil memperoleh istirahat sesaat.

Spesies yang paling dikenal mampu melakukannya

Beberapa jenis burung menonjol dalam kemampuan tidur sambil terbang. Albatros, misalnya, dapat menghabiskan waktu berbulan-bulan di atas lautan dan memanfaatkan USWS agar tetap melayang tanpa kehilangan kesadaran lingkungan.

Burung camar Arktik juga dikenal ekstrem karena melakukan migrasi terpanjang di antara semua burung, dari Arktik ke Antartika. Selama perjalanan itu, burung ini dapat tidur siang sambil tetap melayang untuk menghemat energi.

Godwit ekor bergaris bahkan mampu menempuh sekitar 7.000 mil tanpa mendarat. Frigatebird juga bisa terbang jauh di atas laut lepas dan tidur dalam interval singkat saat meluncur.

Ada pula burung snipe besar yang terus terbang selama migrasi dan menempuh ribuan mil dalam beberapa hari. Burung wheatear utara juga dapat tidur siang di tengah penerbangan saat melintasi gurun dan lautan dalam perjalanan antarbenua.

Cara ilmuwan memastikan burung benar-benar tidur

Bukti bahwa burung bisa tidur saat terbang diperoleh lewat pengamatan gerakan kecil menggunakan akselerometer yang dipasang di kaki burung. Untuk memastikan apakah mereka benar-benar tidur, peneliti juga menggunakan elektroensefalogram atau EEG di kulit kepala burung guna mengukur aktivitas otak.

Salah satu studi dilakukan pada burung frigate betina yang bersarang di Kepulauan Galapagos. Burung ini dipilih karena mudah ditangkap dan ditangani, serta dikenal sering terbang lama di atas laut untuk mencari mangsa.

Hasilnya menunjukkan frigatebird dapat tidur saat terbang sekitar 10 detik setiap kali, kadang lebih lama, dengan total sekitar 45 menit dalam 24 jam. Untuk bertahan berminggu-minggu di udara, burung ini mengandalkan USWS dan tetap membuka satu mata agar tidak menabrak burung lain.

Bahkan ketika memasuki tidur REM yang membuat kedua belahan otak tertidur, frigatebird hanya mengalaminya beberapa detik. Meski tampak berisiko, burung ini tetap mempertahankan posisi sayapnya secara refleks sehingga tidak langsung jatuh dari udara.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tidur pada burung bukan sekadar jeda istirahat biasa. Bagi spesies yang menghabiskan hidup di udara, kemampuan menjaga satu sisi otak tetap siaga menjadi strategi penting untuk bertahan di perjalanan jauh.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait