Burung Laut Antartika Ini Tak Perlu Menjemur Sayap, Rahasianya Ada Pada Bulu Tebalnya

Author: Redaksi Android62

Kemampuan Antarctic shag untuk tetap hidup di perairan beku menjadi salah satu alasan burung ini menonjol di Antartika. Di saat banyak burung lain tidak sanggup bertahan di wilayah sekeras itu, spesies kormoran ini justru menetap sepanjang tahun dan terus aktif di sekitar laut.

Salah satu ciri yang paling mudah dikenali adalah wajahnya yang tampak bermata biru cerah. Warna itu berasal dari kulit di sekitar mata, bukan dari bola mata, sehingga tampil mencolok dari kejauhan.

Penampilan Antarctic shag juga unik karena dipadukan dengan bulu hitam putih, kaki merah muda, dan tonjolan kuning di atas paruh yang disebut caruncle. Dengan bobot sekitar 3 kilogram, tubuhnya memang tidak besar, tetapi ciri fisik itu membuatnya mudah dibedakan dari kormoran lain.

Hidup menetap di kawasan yang keras

Antarctic shag paling sering ditemukan di sekitar Antarctic Peninsula, South Shetland Island, dan Elephant Island. Di wilayah itu, burung ini membentuk koloni dekat laut dan tetap bergerak aktif meski badai es datang.

Pilihan hidup menetap di benua es membuatnya berbeda dari banyak satwa laut lain yang harus berpindah tempat. Bagi spesies ini, lingkungan ekstrem justru menjadi habitat utama yang terus dihuni sepanjang tahun.

Bulu rapat yang jadi pelindung utama

Daya tahan Antarctic shag sangat bergantung pada bulunya yang rapat dan berlapis. Struktur itu kedap air dan membantu menjaga tubuh tetap hangat saat berada di lingkungan dingin.

Tidak seperti kormoran lain yang perlu menjemur sayap setelah berenang, burung ini tidak memerlukannya. Air dingin tidak langsung menyentuh kulitnya, sehingga suhu tubuh tetap terjaga setelah menyelam di perairan es.

Adaptasi tersebut menjadi kunci utama agar burung ini bisa bertahan di kawasan dengan suhu ekstrem. Pada Antarctic shag, bulu berfungsi bukan hanya sebagai penutup tubuh, tetapi juga sebagai pelindung penting dari dingin.

Penyelam tangguh di laut es

Selain tahan cuaca, Antarctic shag juga dikenal sebagai penyelam yang andal. Dengan kaki berselaput yang kuat, burung ini dapat menyelam hingga kedalaman 24 meter untuk mencari makan.

Makanannya terdiri dari ikan kecil dan krustasea yang hidup di bawah permukaan laut. Tubuhnya yang aerodinamis dan kuat membantu pergerakan tetap lincah saat berburu di air dingin.

Kemampuan menyelam itu membuatnya tidak sekadar bertahan hidup, tetapi juga mampu memanfaatkan laut sebagai sumber makanan utama. Di habitat seperti Antartika, efisiensi saat berburu menjadi faktor penting untuk menjaga kelangsungan hidup.

Sarang kerucut dan kerja sama induk

Saat musim kawin tiba, Antarctic shag membentuk koloni di tebing, lereng berbatu, dan area pesisir. Di tempat itu, mereka membangun sarang berbentuk kerucut yang tampak seperti gunung berapi mini.

Sarang tersebut dibuat dari bulu, rumput laut, dan material pantai lain yang direkatkan dengan kotoran. Struktur sederhana ini menunjukkan bagaimana burung ini menyesuaikan diri dengan sumber daya yang tersedia di pesisir Antartika.

Perawatan anak juga dilakukan dengan pembagian tugas yang jelas antara induk jantan dan betina. Keduanya bergantian mengerami telur hingga menetas, lalu induk betina menjaga anakan agar tetap hangat sementara induk jantan mencari makan.

Pola itu memperlihatkan strategi reproduksi yang rapi di tengah lingkungan yang keras. Dengan cara tersebut, Antarctic shag tetap bisa membesarkan keturunan di benua yang penuh tantangan.

Source: www.idntimes.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru