Di balik ekspresi yang tampak jutek, kucing busok justru membawa cerita yang panjang. Ras ini sudah diakui World Cat Federation dan kini menempatkan kucing lokal Indonesia ke dalam perhatian para pecinta kucing dunia.
Pengakuan itu membuat busok tidak lagi sekadar dikenal sebagai kucing dari pulau kecil di Madura. Kucing ini berasal dari Pulau Raas, wilayah administratif Jawa Timur, dan juga disebut sebagai kucing Raas atau kucing Madura.
Warna khas dan bentuk tubuh yang berbeda
Nama busok merujuk pada warna tubuhnya yang abu-abu kebiruan. Di tengah masyarakat, ada pula anggapan bahwa sebutan itu berkaitan dengan istilah “abu gosok”, meski makna yang paling umum tetap mengarah pada warna abu-abu.
Ciri fisiknya mudah dikenali dari mata hijau gelap, wajah segitiga, telinga segitiga, dan ekor yang menekuk. Tubuhnya juga terlihat lebih besar dibanding banyak kucing domestik lain, dengan panjang rata-rata sekitar 60 sentimeter dan bobot yang dapat mencapai 6,8 kilogram.
Warna bulunya tidak hanya satu. Kucing Raas dapat memiliki warna solid seperti kecokelatan, hitam, kebiruan, hingga abu-abu, meski kombinasi warna bertumpuk disebut jarang muncul, termasuk pada kucing hasil persilangan.
Asal-usul yang masih memunculkan dugaan
Sejumlah ahli menduga busok memiliki hubungan dengan kucing korat. Dugaan itu muncul karena kemiripan warna kebiruan dan bentuk ekor yang membengkok, walau busok juga sangat mungkin berkembang secara alami di pulau asalnya.
Di kalangan masyarakat, ada juga keyakinan bahwa busok berasal dari perkawinan sedarah antarkucing Raas. Pandangan ini kerap dikaitkan dengan terbatasnya variasi genetik yang dimiliki ras tersebut.
Aktif, tetapi tidak mudah didekati
Busok dikenal energik dan ceria, namun sifatnya tidak selalu mudah ditaklukkan. Ras ini kerap disebut kurang penyayang, agak pemarah, keras kepala, dan sulit menuruti perintah.
Karena karakter itu, busok tidak selalu cocok dipelihara di rumah dengan anak kecil. Saat merasa terganggu, kucing ini dapat bereaksi spontan, termasuk mencakar, sehingga pendekatan yang sabar dan konsisten menjadi penting.
Legenda dan larangan yang masih hidup
Busok juga lekat dengan berbagai kepercayaan lokal. Salah satu mitos menyebut orang yang menyelundupkan kucing ini dari Pulau Raas akan mengalami musibah, bahkan perahunya dipercaya bisa tenggelam.
Ada pula kepercayaan bahwa kucing jantan yang dibawa keluar pulau akan dikebiri oleh warga setempat. Masyarakat meyakini kucing yang subur seharusnya tetap hidup di Pulau Raas, sehingga keberadaannya di luar pulau perlu dibatasi.
Perawatan dan status pelestarian
Sebagai kucing lokal, busok memiliki ketahanan fisik yang cukup tangguh. Meski begitu, perawatan rutin tetap diperlukan, terutama untuk mencegah cacing, kutu, serta menjaga kebersihan bulu lewat penyisiran teratur.
Lingkungan asalnya yang panas dan lembap membuat perpindahan habitat tidak selalu mudah. Karena itu, busok membutuhkan waktu adaptasi jika dipindahkan ke tempat lain, dan kesehatan saluran kencing serta ginjal perlu mendapat perhatian.
Aturan dari Pemerintah Kabupaten Sumenep dan pemuka adat setempat menekankan sterilisasi bagi kucing yang dibawa keluar pulau. Langkah itu dibuat agar kemurnian genetik busok tetap terjaga, terutama karena jumlah kucing Raas asli makin sedikit.
Dalam ajang Cat Show, busok kini masuk kategori “Recognized New Breed” setelah diakui WCF. Status itu menegaskan bahwa kucing Raas bukan hanya bagian dari cerita lokal, tetapi juga ras yang perlu dilestarikan.
Source: www.idntimes.com






