BYD Melaju Di Timur Tengah, Tesla Kian Terdesak Saat Arab Saudi Jadi Penggerak Baru

Author: Redaksi Android62

Peta mobil listrik di Timur Tengah sedang berubah cepat, dan Arab Saudi ikut mendorong perubahan itu dari depan. Di saat Tesla kehilangan banyak ruang dan BYD justru melesat, pasar kendaraan listrik kawasan ini tumbuh 40 persen pada 2025 dan mendekati 75.000 unit.

Perubahan paling terasa datang dari Arab Saudi dan Qatar, yang bersama-sama menyumbang sekitar 45 persen permintaan. Sementara itu, Uni Emirat Arab yang selama ini paling dominan mulai melemah cengkeramannya di pasar regional.

Di Arab Saudi, mobil listrik tidak diperlakukan sebagai sekadar tren pembelian. Arah pengembangannya sudah masuk ke strategi Vision 2030, dengan target emisi karbon nol bersih pada 2060 dan Riyadh dibidik memiliki 30 persen kendaraan listrik pada 2030 untuk membantu memangkas emisi ibu kota sebesar 50 persen.

Dorongan itu tidak hanya datang dari kebijakan, tetapi juga dari investasi produksi. Joseph Salem dari Arthur D. Little Middle East menyoroti fasilitas Lucid dan Ceer di King Abdullah Economic City sebagai elemen penting dalam akselerasi pasar EV di kerajaan tersebut.

Lucid Motors kini memperluas fasilitas AMP-2 dengan target kapasitas 150.000 unit kendaraan rakitan penuh per tahun. Ceer, merek EV lokal hasil kerja sama Public Investment Fund dan Foxconn, juga membangun pabrik seluas 1 juta meter persegi.

Pabrik Ceer ditargetkan mampu memproduksi hingga 240.000 kendaraan per tahun. Peluncurannya ditargetkan pada akhir 2026, sehingga pasokan lokal berpotensi ikut menguat ketika permintaan terus naik.

Pergeseran pusat permintaan di Teluk

Meski UEA masih menguasai hampir 50 persen penjualan EV di Timur Tengah, posisinya tidak lagi sekuat sebelumnya. Pangsa itu turun dari lebih dari 60 persen pada 2023 karena Arab Saudi dan Qatar tumbuh lebih cepat.

Safak Yucel dari Georgetown McDonough menilai pasar EV di UEA masih didominasi kendaraan premium. Sebaliknya, Arab Saudi dan Qatar mulai bergerak ke segmen massal, yang membuka peluang adopsi lebih luas di kawasan.

CEO Cararak Hashim Al-Fatayerji menyebut pertumbuhan EV di Arab Saudi sebagai tanda perubahan besar di GCC. Ia mengaitkannya dengan Vision 2030, investasi infrastruktur, proyek manufaktur EV, dan elektrifikasi armada kendaraan, ditambah populasi muda yang lebih terbuka pada teknologi baru.

Tesla turun, BYD naik cepat

Persaingan merek juga berubah tajam. IEA mencatat bahwa saat penjualan mobil listrik mulai naik di Timur Tengah pada 2020, Tesla sempat menyumbang sekitar separuh penjualan regional.

Kini kondisinya jauh berbeda. Pangsa Tesla turun menjadi sekitar 15 persen, sementara BYD yang masuk pasar kawasan pada 2022 tumbuh cepat dan menguasai sekitar 60 persen penjualan EV regional.

Joseph Salem menilai kombinasi turunnya harga baterai global dan masuknya mobil listrik China yang lebih kompetitif ikut memperluas daya tarik pasar Arab Saudi. Kondisi itu membuat ruang bagi merek baru terbuka lebih lebar dan menekan dominasi pemain lama.

Infrastruktur masih jadi ujian

Meski pertumbuhan cepat, pasar EV di kawasan ini belum lepas dari hambatan. Ketersediaan stasiun pengisian, performa kendaraan di panas ekstrem, dan nilai jual kembali masih menjadi faktor yang memengaruhi minat pembeli.

Karena itu, perluasan jaringan pengisian daya menjadi bagian penting dari ekosistem. ADNOC Distribution di UEA memperluas jaringan pengisian cepat dan supercepat menjadi 400 titik pada awal 2026.

Di Arab Saudi, usaha patungan Eviq menargetkan pemasangan 5.000 pengisi daya cepat pada 2030 untuk mendukung perjalanan antarkota. Al-Fatayerji menegaskan bahwa adopsi EV tidak cukup ditopang penjualan kendaraan saja, melainkan harus dibangun lewat ekosistem lengkap.

Secara global, IEA memperkirakan penjualan mobil listrik mencapai 23 juta unit pada 2026 atau hampir 30 persen dari seluruh penjualan mobil dunia. Pada 2025, penjualan EV global sudah melampaui 20 juta unit.

China tetap menjadi pusat produksi terbesar. Produsen China memasok 60 persen mobil listrik yang terjual di dunia dan memproduksi hampir tiga perempat dari sekitar 22 juta mobil listrik global tahun lalu.

Dengan investasi pabrik, harga yang makin kompetitif, dan jaringan pengisian yang terus meluas, Timur Tengah sedang membangun pasar mobil listriknya sendiri. Dalam perubahan itu, Arab Saudi kini berada di garis depan.

Source: voi.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru