BYD Siapkan Racco Khusus Jepang, Mantan Pengembang Nissan Sakura Ikut Turun Tangan

BYD sedang menyiapkan langkah yang jarang ditempuh merek asing di Jepang, yaitu masuk ke segmen kei car yang sangat ketat aturannya. Model andalannya bernama Racco, dan mobil listrik kompak ini disebut dirancang khusus untuk pasar Jepang dengan target meluncur pada musim panas tahun ini.

Langkah tersebut membuat BYD tidak hanya mengejar penjualan mobil listrik biasa. Perusahaan itu justru mencoba masuk ke kelas kendaraan yang punya posisi sangat penting di Jepang karena efisien, praktis, dan cocok untuk mobilitas perkotaan yang padat.

Masuk ke kelas yang paling lokal

Kei car bukan sekadar mobil kecil. Di Jepang, kategori ini diatur ketat dari sisi dimensi, performa, sampai skema perpajakan, sehingga produsen harus memahami kebutuhan pasar secara sangat spesifik.

Itulah sebabnya persaingan di segmen ini jauh lebih rumit dibanding pasar mobil lain. Pabrikan tidak cukup mengandalkan teknologi atau nama besar, karena konsumen Jepang juga menaruh perhatian besar pada kemudahan manuver di jalan sempit dan parkir di ruang yang terbatas.

Racco dibuat dari nol untuk Jepang

BYD tidak memilih jalur sederhana dengan mengadaptasi model global yang sudah ada. Racco disebut dikembangkan sejak awal agar memenuhi standar kei car Jepang.

Secara bentuk, mobil ini memakai bodi tinggi dan pintu geser di bagian belakang. Konsep itu diarahkan untuk memudahkan akses di area sempit, sekaligus memperkuat fungsi harian yang sangat dibutuhkan pada kendaraan di kelas ini.

Format tersebut sejalan dengan karakter kei car yang memang menempatkan kepraktisan sebagai prioritas utama. Ruang kabin yang efisien dan kemudahan keluar-masuk menjadi nilai penting bagi pengguna di kota-kota Jepang.

Tagawa memberi bobot pada proyek ini

Di balik proyek Racco, BYD juga melibatkan Hirohide Tagawa. Ia adalah sosok yang lama berkarier di Nissan dan dikenal punya peran penting dalam pengembangan kei car modern.

Pengalamannya lebih dari dua dekade di Nissan membuat kehadirannya dianggap relevan untuk proyek ini. Nama Tagawa lekat dengan Nissan Dayz dan Nissan Sakura, dua model yang menunjukkan kedekatannya dengan dunia kei car.

Nissan Sakura sendiri punya posisi penting sebagai mobil listrik kei car massal yang diperkenalkan pada 2022. Pengalaman seperti itu memberi BYD bekal tambahan untuk menyesuaikan produk dengan regulasi dan selera lokal Jepang.

Spesifikasi yang disiapkan BYD

Dari sisi teknis, Racco diproyeksikan memakai baterai lithium iron phosphate atau LFP berkapasitas sekitar 20 kWh. Jarak tempuhnya disebut bisa mencapai 180 km berdasarkan standar WLTC.

Mobil ini juga dikabarkan mendukung pengisian cepat DC hingga 100 kW. Selain itu, fitur bantuan pengemudi Level 2+ disebut akan hadir sebagai perlengkapan standar.

Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa BYD tidak hanya mengejar kepatuhan pada aturan kei car. Perusahaan itu juga ingin memberi nilai tambah lewat pengisian cepat dan fitur keselamatan serta asistensi yang tergolong tinggi untuk kendaraan mungil.

Tantangan yang menunggu di Jepang

Masuk ke segmen kei car berarti BYD harus berhadapan dengan pasar yang selama ini dikuasai pemain lokal. Tantangannya bukan hanya soal produk, tetapi juga soal kepercayaan konsumen dan kemampuan membaca kebutuhan harian secara tepat.

Kei car tetap menjadi tulang punggung mobilitas di Jepang karena efisien dalam penggunaan ruang, biaya, dan operasional. Dalam situasi seperti itu, strategi BYD yang sangat lokal, ditambah dukungan figur berpengalaman seperti Tagawa, menjadi modal penting untuk mencoba menggoyang pasar yang terkenal sulit ditembus produsen asing.

Racco kini menjadi lebih dari sekadar model baru dalam portofolio BYD. Mobil ini menjadi ujian apakah pendekatan yang disesuaikan khusus untuk Jepang mampu memberi ruang bagi BYD di salah satu segmen otomotif paling khas dan paling ketat di negeri tersebut.

Source: kabaroto.com

Berita Terkait