Di Aceh, cabai merah tengah menghadapi tekanan harga yang sangat tajam. Di beberapa wilayah, harga jual jatuh sampai jauh di bawah ongkos produksi dan biaya panen, sehingga petani kesulitan menutup modal yang sudah dikeluarkan.
Kondisi paling terasa muncul di Aceh Singkil, saat cabai merah kualitas super hanya dibeli Rp15.000 per kg dan kualitas sedang Rp10.000 per kg. Putri, petani cabai di Kecamatan Singkil Utara, menilai angka itu merupakan harga terendah sejak awal tahun dan sudah tidak sebanding dengan tenaga maupun biaya perawatan tanaman.
Harga di tingkat petani terus melemah
Penurunan harga juga terjadi di Kabupaten Pidie. Cabai merah kualitas super di wilayah itu kini berada di Rp25.000 per kg, padahal pada akhir Maret sempat menyentuh Rp60.000 per kg.
Untuk kualitas standar, harga yang semula Rp45.000 per kg ikut turun menjadi Rp20.000 per kg. Selisih itu menunjukkan pelemahan pasar yang sangat cepat dalam waktu singkat.
Di pusat pasar sayur Pante Teungoh, Kota Sigli, Kabupaten Pidie, tekanan harga bahkan terasa lebih dalam di level distributor. Cabai merah kualitas super sempat turun hingga Rp18.000 per kg di titik tersebut.
Seorang agen distributor bernama Muslim menyebut harga cabai saat ini sangat murah. Pergerakan harga di pasar pun berlangsung cepat dan cenderung melemah karena pasokan yang terus mengalir.
Pasokan naik, serapan pasar tidak ikut menguat
Penyebab utama pelemahan ini berasal dari ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan. Panen di tingkat petani sedang melimpah, tetapi permintaan pasar tidak bergerak seiring dengan kenaikan pasokan.
Akibatnya, cabai merah lokal menumpuk di pasaran dan harga tak mampu bertahan. Saat stok bertambah lebih cepat daripada serapan pembeli, tekanan terhadap harga menjadi sulit dihindari.
Situasi itu membuat petani berada dalam posisi yang serba berat. Hasil panen yang semestinya memberi tambahan pendapatan justru berubah menjadi beban karena nilai jualnya terlalu rendah.
Biaya kerja di kebun sulit tertutup
Bagi petani cabai, harga rendah bukan sekadar soal berkurangnya laba. Pendapatan dari hasil panen juga dinilai belum cukup untuk membayar buruh petik dan biaya panen yang terus muncul saat masa produksi.
Cabai termasuk komoditas yang membutuhkan biaya kerja berulang sejak perawatan hingga panen. Ketika harga jatuh, ruang keuntungan ikut menyempit dan potensi rugi menjadi semakin besar.
Kondisi seperti ini juga memengaruhi semangat petani dalam mengelola kebun. Jika harga jual terus berada di bawah kebutuhan modal, keinginan untuk mempertahankan produksi bisa ikut melemah.
Kontras dengan situasi akhir Maret
Pelemahan yang terjadi sekarang berlawanan dengan kondisi pada pekan terakhir Maret. Saat itu, harga cabai merah sempat naik karena permintaan konsumen tinggi dan pasar menyerap stok dengan kuat.
Namun, keadaan berubah cepat setelah produksi meningkat tanpa dukungan permintaan yang sama besar. Dari titik itu, harga cabai merah lokal di Aceh terus tertekan dan bergerak turun di lapangan.
Perbandingan dua wilayah di Aceh menunjukkan skala penurunan yang berbeda, tetapi arah pergerakannya sama. Di Pidie, harga cabai kualitas super berada di Rp25.000 per kg dan kualitas sedang Rp20.000 per kg, sementara di Aceh Singkil harganya lebih rendah lagi, yakni Rp15.000 per kg untuk kualitas super dan Rp10.000 per kg untuk kualitas sedang.
Selama pasokan tetap tinggi dan serapan pasar belum membaik, petani cabai di Aceh masih harus menghadapi harga yang rendah. Dalam kondisi seperti ini, panen yang melimpah belum tentu memberi keuntungan, karena nilai jual di lapangan belum cukup kuat untuk menutup biaya kerja yang sudah dikeluarkan.
Source: mediaindonesia.com






