Rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak nasional belum menunjukkan kemajuan, meski Indonesia pernah menghadapi kondisi stok minyak yang diperkirakan hanya cukup untuk 25 hingga 26 hari. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan belum ada investor yang benar-benar serius merealisasikan proyek tersebut dalam waktu dekat.
Kondisi ini membuat target memperkuat ketahanan energi melalui tambahan kapasitas penyimpanan masih berada pada tahap rencana. Pemerintah sebelumnya ingin memperbesar daya simpan minyak hingga setara kebutuhan selama tiga bulan.
Investor Belum Menyampaikan Langkah Konkret
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyebut pembangunan fasilitas itu tidak menghadapi kendala khusus dari sisi pelaksanaan. Namun, pembahasan belum dapat bergerak karena belum ada minat investasi yang konkret.
“Sebenarnya enggak ada tantangan. Cuman memang belum ada yang benar-benar serius ingin melakukan itu dalam waktu cepat,” ujar Laode kepada wartawan di Jakarta, seperti dikutip Suara.com pada Rabu (22/7/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan persoalan utama proyek bukan terletak pada kesiapan pelaksanaan, melainkan pada kelanjutan komitmen calon investor. Selama belum ada pihak yang masuk ke tahap pembahasan lebih lanjut, pembangunan fasilitas baru belum dapat direalisasikan.
| Aspek | Kondisi Saat Konflik | Target Pemerintah |
|---|---|---|
| Ketahanan stok minyak | 25-26 hari | Hingga tiga bulan |
| Kapasitas penyimpanan | Masih terbatas | Ditingkatkan melalui fasilitas baru |
Target Memperbesar Cadangan Energi
Gagasan pembangunan storage minyak nasional pertama kali disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada awal Maret. Fasilitas tersebut dirancang untuk menambah ruang penyimpanan minyak yang selama ini dinilai masih terbatas.
Penambahan kapasitas itu diproyeksikan menjadi bagian dari penguatan cadangan energi nasional. Pemerintah juga mengaitkan target daya simpan hingga tiga bulan dengan upaya memenuhi standar internasional.
Urgensi proyek mengemuka ketika konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran memuncak pada akhir Februari. Dalam periode itu, cadangan minyak Indonesia disebut hanya mampu bertahan sekitar 25 sampai 26 hari.
Angka tersebut menjadi dasar dorongan pemerintah untuk memperbesar kapasitas penyimpanan. Target tiga bulan akan membutuhkan fasilitas baru karena kapasitas yang tersedia saat ini masih terbatas.
Rencana Kerja Sama dengan Investor India
Sebelumnya, investor asal India sempat direncanakan bekerja sama untuk memperkuat kapasitas cadangan Pertamina. Rencana kerja sama tersebut juga mencakup pembangunan fasilitas penyimpanan minyak.
Laode mengatakan pembicaraan dengan pihak investor itu belum diteruskan. “Itu waktu itu. Tapi sekarang kan, seperti saya bilang tadi, belum ada pembahasan lagi lebih lanjut,” kata dia.
Pada rancangan awal, fasilitas penyimpanan minyak nasional direncanakan dibangun di Sumatera. Bahlil pada saat itu menyebut terdapat investor yang berminat menggarap proyek strategis tersebut.
Minat yang pernah disampaikan itu belum berkembang menjadi pembahasan investasi yang lebih konkret. Kementerian ESDM kini masih menunggu investor yang serius merealisasikan penambahan kapasitas penyimpanan minyak nasional.
