Brasil sedang menarik perhatian pasar karena muncul sebagai calon pusat baru pasokan rare earth di luar China. Dorongan ini tidak datang dari spekulasi semata, melainkan dari lonjakan permintaan global atas mineral yang menjadi bahan inti magnet berkinerja tinggi untuk turbin angin, kendaraan listrik, pusat data AI, dan robotika canggih.
Perebutan pasokan makin panas karena kebutuhan magnet rare earth elements seperti neodymium, praseodymium, dysprosium, dan terbium sudah naik dua kali lipat sejak 2015, menurut International Energy Agency. Lembaga itu juga menilai kebutuhan tersebut masih bisa bertambah sepertiga lagi pada 2030 jika kebijakan yang ada tidak berubah.
Brasil muncul sebagai lokasi yang paling diperhatikan
Di tengah kondisi itu, Brasil mulai dipandang sebagai lokasi penting untuk proyek rare earth berikutnya. Ahli geologi sekaligus CEO Meteoric Resources, Andrew Tunks, menilai proyek besar berikutnya di dunia akan muncul di Brasil.
Meteoric Resources sendiri sedang menggarap proyek Caldeira di Minas Gerais. Proyek ini diyakini memiliki deposit ionic clay terbesar di dunia, jenis cadangan yang disorot karena menjadi sumber utama rare earth medium dan heavy seperti dysprosium dan terbium.
Jenis deposit yang dicari industri magnet
Deposit ionic clay menjadi sangat menarik karena unsur di dalamnya dibutuhkan untuk magnet berperforma tinggi. Magnet seperti ini dipakai pada turbin angin dan kendaraan listrik, dua sektor yang ikut mendorong lonjakan permintaan global.
Modal geologi Brasil juga dinilai kuat. Brazilian Geological Society menyebut sekitar 73 persen deposit rare earth di negara itu berbentuk ionic clay, sehingga negara tersebut memiliki basis sumber daya yang dianggap relevan untuk pengembangan pasokan jangka panjang.
Izin tambang melonjak seiring permintaan
Minat terhadap rare earth di Brasil terlihat dari jumlah aplikasi tambang yang terus meningkat. Di National Mining Agency atau ANM, saat ini ada 2.758 proyek rare earth yang sedang dipertimbangkan.
Angka itu jauh melampaui catatan historis. Sepanjang 1975 hingga 2020, jumlah aplikasi tambang rare earth di Brasil hanya sedikit di atas 250, sedangkan pada 2023 dan 2024 jumlahnya melonjak menjadi 1.662.
China masih memegang kendali di tahap paling penting
Meski Brasil punya potensi cadangan besar, China tetap dominan dalam pemrosesan. International Energy Agency menyebut China menguasai lebih dari 90 persen kapasitas pemurnian rare earth global dan sekitar 95 persen pasar magnet permanen.
Dominasi itu membuat rantai pasok dunia tetap rapuh. Tahun lalu, ketika China memberlakukan kontrol ekspor rare earth dalam sengketa tarif dengan Presiden AS Donald Trump, gangguan pasokan ikut terasa di industri elektronik.
Bagian hilir masih menjadi tantangan Brasil
Brasil masih tertinggal di tahap pemrosesan dan pemurnian. Serra Verde menjadi pengecualian, sementara selama ini Brasil lebih banyak mengekspor bahan mentah ketimbang mengolahnya di dalam negeri.
Andrew Tunks menilai Brasil bisa menjadi kompetitif lebih cepat di penambangan, tetapi manufaktur tetap memerlukan waktu lebih lama. Ia juga melihat pengolahan di Brasil punya keunggulan biaya karena proses pemisahan rare earth membutuhkan banyak listrik dan air, sementara tambang Meteoric di Brasil beroperasi sepenuhnya dengan energi terbarukan dan listrik murah.
Investor mulai membaca peluang strategis
Perubahan narasi ini ikut mendorong minat pasar. Dalam 12 bulan terakhir, saham Meteoric Resources, Resouro Strategic Metals, Appia Rare Earths and Uranium Corp, dan USA Rare Earths naik di kisaran 65 persen hingga 122 persen.
Pergerakan terbesar datang dari USA Rare Earths yang pada April mengakuisisi satu-satunya tambang rare earth aktif di Brasil dari Serra Verde di Minacu, negara bagian Goias, senilai US$ 2,8 miliar. CEO Barbara Humpton menyebut tambang Pela Ema sebagai aset unik dan satu-satunya produsen di luar Asia yang mampu memasok keempat magnetic rare earth dalam skala besar.
Eropa dan Jerman ikut membidik akses
Ketertarikan pada Brasil tidak hanya datang dari Amerika Utara dan Australia. Menurut German-Brazilian Chamber of Industry and Commerce di Sao Paulo, perusahaan Jerman masih baru terlibat secara selektif dalam ekstraksi bahan mentah di Brasil.
Namun, kamar dagang itu menyebut Jerman ingin memperluas kemitraan dengan Brasil di bidang mineral kritis, transisi energi, industri hijau, dan keamanan rantai pasok. Kepala pengembangan bisnis kamar dagang tersebut, Bruno Vath Zarpellon, mengatakan arah kerja sama itu masih terus berkembang.
Di saat kebutuhan rare earth terus naik dan China masih menguasai tahap pemurnian, Brasil kini bergerak dari sekadar pemasok potensial menjadi titik rebutan baru dalam perebutan mineral kritis dunia. Tantangan terbesarnya tetap sama: mengubah kekayaan geologi menjadi kapasitas industri yang mampu bertahan di rantai pasok global.
Source: en.tempo.co






