Purbaya Yudhi Sadewa memilih menolak tawaran utang dari IMF dan Bank Dunia setelah menilai kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam posisi aman. Sikap itu muncul di tengah pembahasan mengenai kebutuhan pembiayaan negara, tetapi pemerintah merasa belum ada alasan mendesak untuk menambah pinjaman baru.
Penolakan tersebut tidak berdiri sendiri, karena Purbaya juga menegaskan bahwa APBN masih terjaga dan memiliki ruang fiskal yang memadai. Cadangan dalam bentuk Saldo Anggaran Lebih atau SAL disebut masih mencapai Rp420 triliun, sehingga pemerintah merasa masih punya bantalan yang cukup untuk menghadapi tekanan ekonomi.
APBN dinilai belum membutuhkan utang baru
Dalam penjelasannya, Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah belum melihat urgensi untuk mencari pembiayaan tambahan dari lembaga keuangan internasional. Menurut dia, langkah utama yang dijalankan saat ini adalah menjaga ketahanan fiskal dari dalam negeri, bukan menambah beban utang.
Ia menyebut ada sejumlah penopang yang membantu menjaga stabilitas anggaran. Efisiensi belanja serta tambahan penerimaan dari sektor sumber daya mineral menjadi bagian penting yang disebut ikut memperkuat kondisi keuangan negara.
SAL Rp420 triliun jadi penyangga fiskal
Di tengah pembahasan soal ketahanan anggaran, Purbaya menyoroti besarnya cadangan fiskal yang masih dimiliki pemerintah. SAL senilai Rp420 triliun dipandang sebagai salah satu alasan utama mengapa Indonesia belum perlu mengambil pinjaman baru.
Dengan cadangan tersebut, pemerintah menilai ruang gerak APBN masih cukup luas untuk menjaga stabilitas. Posisi ini membuat otoritas fiskal lebih leluasa mempertahankan kebijakan tanpa harus terburu-buru mencari dana dari luar negeri.
Defisit di bawah 3 persen juga ikut dibahas
Pertemuan dengan IMF dan Bank Dunia tidak hanya membahas tawaran pinjaman, tetapi juga komitmen Indonesia menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen. Purbaya menjelaskan bahwa pihak lembaga internasional ingin mengetahui bagaimana pemerintah menutup kebutuhan pembiayaan jika defisit meningkat.
“Dijelaskan seperti apa. Salah satu yang ditanya adalah defisitnya di 3%, subsidinya naik, gimana cara nutupnya? Ya kita jelaskan,” kata Purbaya di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026).
Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah telah menyiapkan penjelasan teknis mengenai strategi fiskal yang dipakai. Dengan begitu, pembicaraan soal pembiayaan tidak langsung mengarah pada kebutuhan untuk menambah utang.
IMF dan Bank Dunia sempat menawarkan dana
Purbaya mengatakan IMF dan Bank Dunia sempat menawarkan dukungan dana dalam kisaran US$20 miliar hingga US$30 miliar. Dana tersebut disebut disiapkan bagi negara-negara yang membutuhkan bantuan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurut Purbaya, tawaran itu disampaikan dalam forum resmi dan kembali diulang sebagai ajakan agar Indonesia menggunakan fasilitas pinjaman. Meski begitu, pemerintah tidak menindaklanjutinya karena kondisi keuangan negara dinilai masih aman.
“Kalau di World Bank saya diam saja, tetapi yang terakhir nawarin lagi ‘kalau mau itu dipakai boleh’, suruh utang ke dia,” ujar Purbaya.
Tawaran yang sama juga datang dari IMF
Sikap serupa muncul saat IMF menyampaikan tawaran bantuan. Purbaya menegaskan bahwa pemerintah menghargai tawaran tersebut, tetapi belum memiliki kebutuhan untuk memanfaatkannya.
“IMF juga sama. Saya bilang ya itu terima kasih atas tawarannya, tetapi sekarang kondisi APBN kita masih bagus dan saya belum butuh itu,” katanya.
Dengan keputusan itu, pemerintah menjaga fleksibilitas fiskal sambil mengandalkan kekuatan anggaran domestik. Selama cadangan internal masih besar dan APBN tetap sehat, utang tambahan dari IMF maupun Bank Dunia belum menjadi pilihan yang dianggap perlu.







