Mencampur Pertalite dan Pertamax di dalam satu tangki tidak disarankan karena berpotensi mengganggu kerja mesin. Campuran dua bahan bakar dengan karakter berbeda ini tidak otomatis memberi manfaat, bahkan bisa menghapus sebagian keunggulan Pertamax.
Masalah itu menjadi perhatian di tengah kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter. Situasi tersebut membuat sebagian pengendara mencari cara agar pengisian BBM terasa lebih ringan, termasuk dengan mencampur dua jenis bensin yang sebetulnya memiliki spesifikasi berbeda.
Karakter Pertalite dan Pertamax tidak sama
Pertalite merupakan bensin Pertamina dengan angka oktan RON 90. BBM berwarna hijau jernih ini ditujukan untuk kendaraan konvensional seperti Honda Vario, Honda Beat, hingga Yamaha Mio generasi lawas.
Sementara itu, Pertamax memiliki RON 92 dan direkomendasikan untuk kendaraan dengan rasio kompresi 9,1 hingga 10,1, terutama motor yang sudah memakai teknologi Electronic Fuel Injection atau EFI. Angka oktan yang lebih tinggi membuat pembakaran lebih optimal pada mesin berkompresi tinggi.
Pertamax juga dibekali aditif EcoSave yang membantu mencegah terbentuknya kerak di dalam mesin. Karena itu, keunggulan BBM ini tidak hanya terletak pada angka oktannya, tetapi juga pada dukungan aditif untuk menjaga komponen mesin.
Apa yang terjadi jika dicampur
Menurut Wahana Honda, mencampur Pertalite dan Pertamax berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap mesin kendaraan. Campuran itu tidak otomatis membuat performa naik karena dua BBM tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.
Alih-alih memperoleh manfaat dari Pertamax, pengendara justru bisa kehilangan sebagian fungsi aditif yang berperan membersihkan kerak di dalam mesin. Pembakaran juga disebut tidak berjalan optimal saat dua bahan bakar bercampur di dalam tangki.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memicu knocking atau ngelitik pada mesin. Gejala ini menjadi salah satu risiko utama yang membuat pencampuran dua jenis bensin itu sebaiknya dihindari.
Kendaraan baru juga bisa terdampak
Risiko pencampuran tidak berhenti pada tarikan mesin yang terasa menurun. Sejumlah kendaraan terbaru kini sudah dilengkapi sensor pendeteksi kualitas bahan bakar yang dapat membaca apakah BBM yang digunakan sesuai dengan spesifikasi pabrikan.
Jika bahan bakar dengan karakter berbeda dicampur, indikator peringatan pada panel instrumen kendaraan berpotensi menyala. Artinya, kendaraan bisa mendeteksi adanya ketidaksesuaian pada bahan bakar yang digunakan.
Hal itu menjadi alasan tambahan mengapa pemilik kendaraan sebaiknya tidak asal mencampur BBM. Selain memengaruhi performa, campuran yang tidak sesuai juga dapat memunculkan gangguan jangka panjang pada komponen kendaraan.
Cara paling aman saat ingin ganti BBM
Bagi pengendara yang ingin beralih dari satu jenis BBM ke jenis lain, langkah yang lebih aman adalah menghabiskan isi tangki terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mengisi dengan bahan bakar yang berbeda.
Cara tersebut dinilai lebih aman karena tidak mencampur dua bahan bakar dengan sifat yang tidak sama. Dengan begitu, pengendara bisa menghindari risiko penurunan performa dan potensi gangguan mesin yang tidak perlu.
Source: www.cnnindonesia.com






