Bagi pelari yang ingin turun ke lintasan alam, urusan paling awal justru bukan soal keberanian, melainkan kesiapan tubuh dan perlengkapan. Nur Azarine Putri Yasmin, pelari asal Blitar yang kerap naik podium di ajang trail run nasional, menilai keselamatan harus menjadi dasar sebelum seseorang menantang jalur terjal.
Atlet komunitas Patria Trail Runners yang dijuluki “Ratu Trail Blitar” itu menjadi sorotan setelah meraih podium di Bali Ultra Trail 2024 dan Semarang Mountain Race 2025. Pengalamannya di lintasan membuat pandangannya banyak diperhatikan, terutama oleh pelari pemula yang mulai tertarik mencoba trail run di Blitar Raya.
Yasmin menekankan bahwa tubuh tidak bisa langsung dibawa ke medan gunung yang berat. Ia menyarankan pemula memulai dari road running terlebih dahulu sampai tubuh terasa stabil, lalu naik bertahap ke bukit atau gunung pendek dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Menurut dia, pendekatan bertahap penting karena karakter lintasan trail selalu berubah dan memberi beban berbeda pada tubuh. Dengan langkah seperti itu, risiko cedera dapat ditekan sejak awal latihan.
Kekuatan kaki dan pergelangan kaki jadi modal utama
Perbedaan paling terasa antara trail run dan road run ada pada permukaan jalurnya. Jika aspal cenderung stabil, lintasan trail memaksa tubuh terus menyesuaikan diri dengan pijakan yang tidak rata, licin, atau berubah-ubah.
Karena itu, Yasmin menilai kekuatan otot kaki harus diprioritaskan lebih dulu. Ia juga menempatkan ankle atau pergelangan kaki sebagai bagian penting yang perlu diperkuat agar tubuh tetap stabil saat melewati tanjakan, turunan, batuan, hingga lumpur.
Fleksibilitas ankle membantu menjaga pijakan dan menekan risiko terkilir. Di jalur alam, kemampuan menjaga keseimbangan dinilai sama pentingnya dengan daya tahan napas saat berlari.
Istilah dasar dan navigasi juga harus dipahami
Selain fisik, pelari trail perlu mengenal istilah yang biasa muncul di latihan maupun lomba. Istilah seperti elevation gain, uphill, downhill, dan Cut Off Time atau COT sebaiknya dipahami sejak awal agar pelari tidak salah membaca tingkat kesulitan lomba.
Yasmin menilai pemahaman itu penting karena setiap race punya karakter berbeda. Pelari yang tidak memperhatikan elevasi dan batas waktu berisiko keliru menilai kemampuan dirinya sendiri sebelum mendaftar.
Ia juga menyoroti pentingnya kemampuan membaca GPX. Navigasi lewat smartphone atau smartwatch bisa membantu pelari tetap berada di rute yang benar saat melintasi hutan atau pegunungan.
Sepatu trail lebih aman untuk medan berubah-ubah
Soal perlengkapan, Yasmin tidak menyarankan sepatu lari biasa dipakai untuk medan gunung. Ia menilai sepatu trail lebih aman karena memiliki traksi yang lebih baik saat melewati jalur basah, berbatu, atau berlumpur.
Traksi yang kuat membantu pijakan tetap stabil dan tidak mudah licin, terutama saat menghadapi turunan. Di trail run, pilihan alas kaki bukan hanya soal nyaman, tetapi juga soal keselamatan.
Karena medan bisa berubah cepat, setiap perlengkapan perlu mendukung kemampuan bergerak dan menjaga tubuh tetap aman. Kesalahan memilih sepatu bisa berdampak besar ketika pelari harus menghadapi lintasan yang tidak rata.
Jangan tergoda langsung ambil jarak jauh
Untuk yang ingin ikut lomba, Yasmin menyarankan pemula memilih kategori jarak terpendek lebih dulu. Langkah itu memberi kesempatan untuk mengenal karakter lomba tanpa tekanan berlebihan.
Ia menilai pelari perlu membaca tingkat kesulitan dan elevasi sebelum mendaftar race. Keputusan memilih kategori sebaiknya mengikuti kesiapan tubuh, bukan gengsi.
Yasmin juga mengingatkan agar pelari selalu membawa P3K mandiri dan bekal yang cukup saat masuk jalur. Pesan itu menjadi relevan di tengah makin ramainya minat trail run di Blitar Raya, saat semakin banyak pelari ingin mencoba jalur alam tanpa mengabaikan persiapan yang lengkap.







