CASA Jadi Tameng Saat BI Rate 5,25%, Bank Menahan Laju Biaya Dana untuk Lindungi Margin

Bank-bank di Indonesia kini makin agresif memburu dana murah setelah BI Rate dinaikkan menjadi 5,25%. Di tengah biaya dana yang berpotensi naik lebih cepat, current account savings account atau CASA kembali menjadi penopang utama agar margin bunga tidak tergerus.

Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19–20 Mei 2026. Gubernur Perry Warjiyo menyebut langkah itu diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, meredam inflasi, dan memperkuat stabilisasi eksternal ekonomi Indonesia.

Kenaikan suku bunga acuan membuat persaingan likuiditas di industri perbankan ikut memanas. Di saat imbal hasil instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI masih tinggi, bank harus lebih cermat menentukan harga dana dan harga kredit.

Sejumlah bank memilih tidak terlalu agresif menggeber ekspansi. Langkah itu diambil agar cost of fund tidak naik lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan bunga.

CASA jadi pertahanan utama

Dalam situasi seperti ini, dana murah menjadi fokus yang paling masuk akal bagi banyak bank. CASA dinilai mampu menahan tekanan biaya dana ketika pasar likuiditas makin ketat.

CIMB Niaga menyebut penguatan CASA sudah menjadi perhatian utama dalam beberapa tahun terakhir. Direktur Utama CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan rasio CASA perseroan saat ini berada di kisaran 72–73%.

Bank ini menilai tekanan biaya dana makin besar karena BI Rate naik sementara imbal hasil SRBI tetap tinggi. Di sisi lain, permintaan kredit juga belum pulih sepenuhnya sehingga pertumbuhan loan diperkirakan berjalan lebih ringan.

Untuk menjaga struktur dana tetap efisien, CIMB Niaga mengandalkan CASA berbasis transaksi. Sumber dana itu datang dari rekening operasional, payroll, dan layanan cash management.

BSI jaga likuiditas sambil selektif membiayai

Bank Syariah Indonesia menilai kebijakan BI tersebut sebagai langkah pre-emptive dan forward looking. Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan keputusan itu penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, dan kepercayaan pasar.

BSI menegaskan fundamental likuiditas perseroan masih terjaga baik. Hingga Maret 2026, dana pihak ketiga BSI mencapai Rp376,80 triliun atau tumbuh 18% secara tahunan, sedangkan total CASA tercatat Rp236,2 triliun.

Dari sisi pembiayaan, BSI tetap memilih jalur pertumbuhan yang sehat dan selektif. Hingga Maret 2026, pembiayaan BSI mencapai Rp329 triliun atau tumbuh 14,39% secara tahunan, dengan NPF gross membaik menjadi 1,8% dari 1,88%.

BSI juga akan menyesuaikan pricing dana dan pembiayaan secara bertahap. Evaluasi itu akan melihat kondisi pasar, profil risiko, serta daya tahan sektor usaha dan nasabah.

Bank besar dan bank digital ikut menyesuaikan

Bank Mandiri juga merespons kenaikan suku bunga acuan dengan sikap yang terukur. Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista menyebut langkah BI mencerminkan komitmen bank sentral menjaga stabilitas pasar keuangan dan inflasi tetap terkendali.

Perseroan menyatakan penyesuaian suku bunga kredit maupun simpanan akan dilakukan secara hati-hati. Bank Mandiri menempatkan langkah tersebut dalam kerangka menjaga fungsi intermediasi tanpa mengganggu peran sebagai mitra strategis pemerintah.

Bank Neo Commerce menghadapi situasi yang sama dengan fokus pada likuiditas dan kualitas aset. Chief Financial Officer BNC Sufen Triantio mengatakan posisi likuiditas perseroan masih sangat memadai dengan loan to deposit ratio sebesar 52,38% pada kuartal I 2026.

BNC juga masih memiliki modal CASA yang cukup untuk menjaga daya saing biaya dana. Pada kuartal I 2026, CASA ratio bank tersebut tercatat 30,34%.

Bank digital itu berupaya memperkuat ekosistem digital agar dana nasabah bertahan lebih lama di rekening giro dan tabungan. Strategi ini dipakai untuk memperkuat cost of fund di tengah persaingan likuiditas yang berpotensi makin ketat.

Arah industri kini terlihat makin jelas. Bank-bank bergerak ke tujuan yang sama, yaitu menjaga likuiditas, memperluas dana murah, dan menyesuaikan pricing secara bertahap agar margin bunga tetap terjaga tanpa menekan kualitas pembiayaan.

Source: finansial.bisnis.com

Berita Terkait