CASA Melonjak 12,2%, CIMB Niaga Tetap Tahan Tekanan Laba Di Awal 2026

CIMB Niaga membuka kuartal I/2026 dengan pertumbuhan kredit dan dana murah yang tetap solid, meski laba bersih konsolidasian sedikit terkoreksi. Total kredit atau pembiayaan mencapai Rp235,1 triliun, tumbuh 2,2% secara tahunan, sementara dana pihak ketiga naik menjadi Rp260,1 triliun.

Kekuatan utama bank ini datang dari dana murah atau current account savings account (CASA) yang meningkat 12,2% menjadi Rp192,3 triliun. Rasio CASA pun berada di level 73,9%, yang menunjukkan komposisi pendanaan tetap sehat di awal tahun.

Bisnis inti masih bergerak positif

Di tengah penurunan laba bersih ke Rp1,77 triliun dari Rp1,84 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, kinerja operasional justru masih membaik. Laba operasional konsolidasian naik menjadi Rp2,26 triliun dari Rp2,16 triliun, sedangkan laba sebelum pajak meningkat tipis menjadi Rp2,27 triliun dari Rp2,24 triliun.

Pergerakan itu ditopang oleh pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi yang naik 13,75% menjadi Rp764,60 miliar. Aktivitas nasabah yang tetap terjaga terlihat dari kenaikan pos tersebut dibanding Rp672,24 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Kredit tumbuh selektif di segmen utama

Pertumbuhan pembiayaan CIMB Niaga terutama datang dari corporate banking yang naik 4,8% yoy. Setelah itu, UKM tumbuh 1,2% yoy dan consumer banking naik 0,2% yoy.

Presiden Direktur dan CEO CIMB Niaga Lani Darmawan menilai capaian kuartal I/2026 mencerminkan awal tahun yang kuat bagi perseroan. Ia menempatkan pertumbuhan pendapatan yang stabil, disiplin biaya, kredit selektif, dan dukungan CASA yang kuat sebagai penopang utama.

Likuiditas, aset, dan modal tetap solid

Di sisi kehati-hatian, bank menjaga posisi permodalan dan likuiditas pada level yang kuat. Capital adequacy ratio atau CAR tercatat 25,3%, sementara loan to deposit ratio atau LDR berada di 89,2%.

Total aset konsolidasian perseroan mencapai Rp368,2 triliun per Maret 2026. Kualitas aset juga disebut tetap terjaga, dengan rasio kredit bermasalah atau NPL di bawah rata-rata industri dan biaya kredit atau cost of credit di bawah 1%.

Unit syariah dan digital ikut memberi dorongan

Pada unit usaha syariah, CIMB Niaga masih mempertahankan posisi sebagai yang terbesar di Indonesia. Portofolio pembiayaan syariah tercatat Rp52,9 triliun, sedangkan dana pihak ketiga mencapai Rp45 triliun.

Perseroan juga mencatat pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp60,2 triliun atau sekitar 26% dari total portofolio. Dari jumlah itu, kontribusi sektor UMKM mencapai Rp25,7 triliun, menunjukkan segmen produktif tetap menjadi bagian penting dalam strategi pembiayaan.

Transformasi digital turut menopang aktivitas nasabah melalui kanal branchless banking seperti aplikasi OCTO dan OCTOBIZ. Sekitar 90,6% transaksi nasabah kini dilakukan lewat kanal tersebut, sementara transaksi melalui aplikasi OCTO tumbuh 29% pada kuartal ini.

Dengan modal, likuiditas, dan kualitas aset yang masih terjaga, perseroan menyatakan akan tetap menjalankan pertumbuhan secara pruden. Fokusnya tetap pada penguatan CASA, peningkatan fee-based income, dan penyaluran kredit yang hati-hati.

Source: finansial.bisnis.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer