Liam Rosenior resmi dicopot dari jabatan pelatih Chelsea setelah rentetan hasil buruk tak lagi bisa ditutupi oleh awal yang sempat menjanjikan. Keputusan itu muncul ketika performa The Blues terus turun di berbagai ajang, membuat klub bergerak cepat untuk menghentikan penurunan yang makin dalam.
Sorotan utama bukan hanya pada satu kekalahan, melainkan pada pola yang berulang. Chelsea kehilangan ketajaman, rapuh saat bertahan, dan gagal menjaga konsistensi meski sempat memberi harapan besar di fase awal bersama Rosenior.
Krisis yang paling terlihat di liga
Di Liga Inggris, masalah Chelsea menjadi sangat mencolok karena mereka menelan lima kekalahan beruntun tanpa mencetak gol. Catatan seperti itu terakhir kali terjadi pada 1912, sehingga angka tersebut langsung menggambarkan seberapa dalam penurunan yang dialami tim.
Dalam rentetan itu, gawang Chelsea juga kebobolan 11 kali. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan The Blues tidak berhenti di lini depan, tetapi ikut merembet ke struktur pertahanan yang tidak mampu menahan tekanan lawan.
Sejak hasil imbang 2-2 melawan Leeds United pada 10 Februari, Chelsea hanya memetik satu kemenangan dari sembilan laga liga berikutnya. Dari rangkaian itu, mereka cuma mengumpulkan lima poin, sebuah angka yang semakin menekan posisi klub di klasemen.
Awal yang sempat memberi harapan
Keputusan klub terasa makin kontras jika melihat start Rosenior yang sempat berjalan baik. Chelsea sempat meraih empat kemenangan beruntun di Liga Inggris, masing-masing atas Brentford, Crystal Palace, West Ham, dan Wolves.
Dalam sembilan pertandingan awal di semua kompetisi, Chelsea mencatat tujuh kemenangan. Satu-satunya kekalahan pada periode tersebut terjadi saat menghadapi Arsenal di semifinal Carabao Cup, sedangkan kekalahan pertama di Liga Inggris baru muncul di pertandingan ketujuh di bawah asuhan Rosenior.
Meski hasil awal itu tampak meyakinkan, fondasi permainan Chelsea ternyata tidak cukup kuat. Ketika jadwal mulai padat dan lawan yang dihadapi makin berat, ritme tim perlahan menurun dan ketidakkonsistenan mulai muncul di banyak aspek permainan.
Lini depan ikut kehilangan daya
Masalah Chelsea tidak hanya terlihat dari hasil akhir, tetapi juga dari kemampuan mencetak gol. Dalam delapan pertandingan terakhir, The Blues hanya menang sekali, dan kemenangan itu datang saat menghancurkan Port Vale 7-0 di FA Cup.
Lebih jauh lagi, dalam tujuh laga terakhir, kemenangan atas Port Vale menjadi satu-satunya pertandingan ketika Chelsea mampu mencetak gol. Catatan tersebut memperlihatkan betapa tumpulnya serangan mereka pada fase genting musim ini.
Kondisi itu membuat tekanan terhadap Rosenior semakin besar. Tim yang sebelumnya tampak kompetitif justru kesulitan menjaga tempo, baik saat mencoba menekan maupun ketika harus bertahan rapat.
Kegagalan di sejumlah ajang
Masalah Chelsea juga terlihat jelas di luar kompetisi liga. Di Liga Champions, mereka harus tersingkir dari Paris Saint-Germain pada babak 16 besar dengan agregat 8-2, termasuk kekalahan 3-0 pada leg kedua.
Perjalanan di Carabao Cup juga berakhir di semifinal setelah kalah dua leg dari Arsenal. Sementara di FA Cup, Chelsea memang mencapai semifinal, tetapi jalur yang dilalui dinilai belum cukup untuk menguji daya saing mereka menghadapi lawan-lawan terberat dari Liga Inggris.
Kekalahan 3-0 dari Brighton kemudian disebut sebagai salah satu titik terendah yang mempercepat akhir masa kerja Rosenior. Hasil itu merangkum dua masalah sekaligus, yaitu serangan yang mandek dan pertahanan yang mudah ditembus.
Situasi ruang ganti ikut terpengaruh
Rosenior sendiri tidak menutup mata terhadap penurunan performa tim. Ia menyebut kurangnya intensitas, semangat, dan profesionalisme sebagai faktor yang memperburuk keadaan Chelsea, lalu meminta para pemain melakukan introspeksi atas kontribusi mereka di lapangan.
Pernyataan tersebut memberi gambaran bahwa situasi internal tidak sepenuhnya stabil ketika hasil mulai memburuk. Seiring tekanan meningkat, wibawa Rosenior di mata tim ikut menurun dan sejumlah keputusan taktis mulai dipersoalkan.
Dalam 23 pertandingan di semua kompetisi, Rosenior mencatat 11 kemenangan, dua imbang, dan 10 kekalahan. Persentase kemenangan 47,8 persen itu tetap dianggap tidak cukup karena penurunan paling tajam justru terjadi pada pertandingan-pertandingan yang paling menentukan.
Kini Chelsea kembali dihadapkan pada kebutuhan untuk membenahi arah tim di tengah ketidakpastian. Klub menunjuk pelatih interim hingga akhir musim sambil menyiapkan evaluasi lanjutan, sementara statistik buruk era Rosenior menjadi pengingat betapa cepatnya The Blues jatuh setelah sempat terlihat menjanjikan.
Source: www.beritasatu.com






