Baru sekitar 45% asteroid dekat Bumi berdiameter sekitar 140 meter yang telah terdeteksi hingga pertengahan 2026. Padahal, benda langit pada ukuran itu masih berpotensi menghancurkan wilayah seluas sebuah negara jika menghantam Bumi.
Kesenjangan data tersebut mendorong China mempercepat pembangunan sistem peringatan dini untuk mengawasi asteroid berbahaya. Sistem ini ditujukan agar objek berisiko dapat ditemukan jauh sebelum lintasannya mendekati Bumi.
China akan menggabungkan pengamatan dari permukaan Bumi dan luar angkasa dalam satu jaringan pemantauan. Pendekatan itu mencakup pembangunan teleskop optik berdiameter besar di lokasi strategis serta konstelasi satelit pemantau di orbit.
Satelit di orbit dinilai penting karena tidak terdampak atmosfer dan pergantian siang-malam. Keberadaannya juga dapat memperluas kemampuan pengamatan terhadap area langit yang sulit dijangkau teleskop darat.
Kesenjangan pada Asteroid Berukuran Menengah
Data asteroid yang telah dipetakan menunjukkan perbedaan besar berdasarkan ukuran objeknya. Asteroid lebih dari satu kilometer sebagian besar sudah teridentifikasi, sedangkan kelompok sekitar 140 meter masih banyak yang belum ditemukan.
| Kategori Asteroid | Cakupan Deteksi | Dampak Potensial |
|---|---|---|
| Lebih dari 1 kilometer | Sekitar 95% telah dipetakan | Dapat memicu bencana global |
| Sekitar 140 meter | Baru sekitar 45% terdeteksi | Dapat menghancurkan wilayah seluas negara |
Menurut Kepala Ilmuwan Asteroid Monitoring and Early Warning Research Center CNSA, Li Mingtao, masih banyak asteroid dekat Bumi yang belum terdeteksi. Ia menegaskan belum ada asteroid yang dipastikan akan bertabrakan dengan Bumi dalam waktu dekat.
Namun, Li menilai risiko tumbukan tetap perlu diantisipasi karena jumlah objek yang belum terpantau masih besar. Pernyataan itu disampaikan bertepatan dengan International Asteroid Day pada 30 Juni lalu.
Ancaman dari Arah Matahari
Salah satu celah utama yang hendak ditutup China adalah asteroid yang datang dari arah Matahari. Benda langit semacam ini sulit diamati dari Bumi karena silau cahaya Matahari dapat menutupi keberadaannya.
Peristiwa Chelyabinsk di Rusia pada 2013 menunjukkan risiko dari objek yang terlambat terdeteksi. Meteor itu baru diketahui setelah memasuki atmosfer dan kemudian meledak di udara, dengan gelombang kejut yang melukai lebih dari seribu orang.
Selain pemantauan, China menyiapkan misi pembelokan asteroid menggunakan metode tumbukan kinetik. Metode tersebut dilakukan dengan menabrakkan wahana antariksa ke asteroid untuk mengubah lintasannya.
Rencana demonstrasi teknologi itu masuk dalam Rencana Lima Tahun ke-15 China dan memiliki konsep serupa misi DART NASA pada 2022 yang mengubah orbit Dimorphos. Peneliti University of Helsinki, Anne Virkki, menilai langkah tersebut dapat memperkuat pertahanan planet apabila data hasil pengamatan dibagikan terbuka kepada komunitas internasional.
Virkki memperkirakan masih ada sekitar 100.000 asteroid dekat Bumi yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar saat menghantam Bumi. Hingga kini, lintasan kurang dari separuh objek tersebut telah diketahui secara pasti.
