Chip Memori Langka Hantam Harga HP, Omzet Pedagang ITC Kuningan Turun Hingga 50%

Kenaikan harga ponsel mulai terasa kuat di etalase-etalase ITC Kuningan, dan dampaknya langsung menekan minat beli konsumen. Di tengah kondisi itu, sejumlah pedagang mengaku penjualan mereka merosot tajam, bahkan ada yang menyebut omzet turun hingga 50%.

Perubahan harga terjadi hampir di semua kelas perangkat, dari segmen murah sampai menengah. Kenaikan seperti ini membuat pembeli lebih berhati-hati, sementara pedagang harus menghadapi perputaran barang yang makin lambat.

Harga merangkak naik di banyak model

Pantauan CNBC Indonesia di ITC Kuningan menunjukkan lonjakan harga tidak berhenti pada satu merek saja. Samsung A07 tercatat naik sekitar Rp 100-200 ribu, sedangkan Oppo A6 melesat sekitar Rp 900 ribu.

Pada kelas entry-level, ponsel 4/64 GB yang sebelumnya berada di kisaran Rp 1,4 juta kini sudah tembus Rp 2 juta. Bagi pedagang, kenaikan seperti ini membuat transaksi lebih sulit bergerak karena konsumen cenderung menunda pembelian.

Meski begitu, kebutuhan akan perangkat baru tetap membuat sebagian pembeli datang ke toko. Dalam situasi itu, pedagang menjelaskan perubahan harga kepada konsumen agar mereka memahami kondisi pasar yang sedang terjadi.

Seorang pegawai toko mengatakan penjelasan itu penting karena hampir semua harga bergerak naik. Ia menyebut, “Kita kasih knowledge saja, semua harga naik,” seraya menambahkan bahwa beberapa toko bahkan sudah menaikkan harga dua kali.

Penjualan ikut melemah walau ada momen Lebaran

Biasanya, periode Lebaran menjadi salah satu waktu yang membantu penjualan ponsel di pusat perdagangan seperti ITC Kuningan. Namun kali ini, dorongan tersebut dinilai tidak terlalu terasa karena kenaikan permintaan tidak muncul seperti biasanya.

Seorang pedagang mengaku hanya menjual tidak sampai 30 unit saat Lebaran. Angka itu lebih rendah dibanding sekitar 40 unit pada periode yang sama sebelumnya.

Bagi penjual ritel, penurunan seperti itu sangat berpengaruh karena barang harus terus bergerak agar modal cepat kembali. Saat harga dinilai terlalu tinggi, banyak pembeli memilih menunggu dan tidak langsung memutuskan membeli.

Akar masalah datang dari chip memori

Kondisi di pasar ponsel ini berawal dari kelangkaan chip memori global. Tekanan muncul setelah permintaan chip untuk kebutuhan AI melonjak, lalu memengaruhi harga komponen di banyak perangkat elektronik.

IDC sebelumnya memperkirakan dampak tersebut bisa merembet ke pasar elektronik secara lebih luas, dan gejalanya kini mulai terlihat di ponsel. Kenaikan biaya komponen mendorong harga jual ikut naik, termasuk di Indonesia.

Dampaknya juga terasa di industri besar, terutama produsen dari China. Xiaomi dan Oppo disebut menurunkan produksi lebih dari 20%, vivo hampir 15%, sementara Transsion yang membawahi Tecno, Infinix, dan Itel mencatat penurunan pengiriman hingga 70%.

Counterpoint bahkan memangkas proyeksi pengapalan HP global 2026 menjadi minus 2,1%. Untuk merek China seperti Honor, Oppo, dan vivo, proyeksi pengiriman berada di kisaran minus 1% hingga kurang dari 4%.

Segmen murah paling berat menanggung tekanan

Laporan Techwire Asia menyebut kelas low-end menjadi lapisan yang paling rentan terkena dampak kelangkaan chip. Di segmen ini, DRAM dan NAND mengalami kekurangan sehingga produsen harus memilih antara menaikkan harga atau mengurangi fitur standar agar biaya tetap efisien.

Counterpoint mencatat biaya komponen ponsel berkisar US$200 dan sudah naik 25% dari awal tahun. Kondisi tersebut paling menyulitkan ponsel murah karena ruang keuntungan yang tipis membuat beban tambahan sulit diserap.

Sebaliknya, segmen menengah dan atas masih relatif lebih mampu menampung kenaikan biaya karena sebagian beban bisa diteruskan ke harga jual. Namun di kawasan Asia Pasifik yang sangat bergantung pada ponsel murah, tekanan ini tetap berisiko menekan permintaan lebih jauh.

Counterpoint memperkirakan harga chip memori bisa naik hingga 40% selama Q2-2026, dengan biaya produksi perangkat ikut terdorong naik sekitar 8%-15%. Di ITC Kuningan, kondisi itu membuat pedagang masih harus menghadapi pasar yang lambat, sementara konsumen terus menimbang ulang waktu yang tepat untuk membeli ponsel baru.

Source: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait