Choul Chnam Thmey di Phnom Penh, Wat Phnom Menandai Awal Ritual Tahun Baru Kamboja

Di tengah hiruk pikuk Phnom Penh, Choul Chnam Thmey tetap diperlakukan sebagai momen sakral yang lebih besar daripada sekadar pergantian kalender. Perayaan Tahun Baru Kamboja ini menjadi waktu untuk berdoa, membersihkan diri, dan menguatkan kembali ikatan keluarga dalam kehidupan masyarakat yang lekat dengan ajaran Buddha Theravada.

Di ibu kota Kamboja, rangkaian acara dimulai di Wat Phnom, lokasi yang memiliki posisi penting dalam perayaan tahunan tersebut. Prosesi pembukaan berlangsung khidmat dengan kehadiran pejabat, warga setempat, dan wisatawan asing, sekaligus menandai dimulainya tiga hari perayaan yang berlangsung dari 14 April hingga 16 April.

Tradisi keagamaan yang masih hidup di keluarga Kamboja

Bagi banyak warga, Choul Chnam Thmey bukan hanya acara budaya, melainkan praktik keagamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di negara yang memiliki lebih dari 5.100 kuil dan mayoritas penduduk beragama Buddha, tahun baru menjadi kesempatan untuk memberi persembahan, mengikuti wejangan biksu, dan memulai lembaran baru dengan niat baik.

Warga biasanya datang ke kuil untuk berdoa sambil membawa sesaji sebagai bentuk penghormatan. Dari kebiasaan itu, tersirat harapan akan berkah, ketenangan, dan keharmonisan keluarga selama tahun yang baru.

Ritual di rumah tetap dijaga

Tidak semua keluarga di Phnom Penh memilih pulang ke kampung halaman saat tahun baru tiba. Sebagian warga justru tetap tinggal di rumah dan menyiapkan persembahan sederhana berupa buah serta manisan untuk menyambut para dewa.

Kol Tararet, warga Distrik Boeung Keng Kong, memilih tidak kembali ke Provinsi Kandal dan menjalankan ritual di rumah. Ia menilai tradisi tersebut sebagai cara masyarakat Kamboja memohon berkah, keharmonisan keluarga, dan kedamaian.

Nokor Sangkranta untuk pertama kalinya di ibu kota

Tahun ini, sorotan perayaan di Phnom Penh juga datang dari hadirnya festival Nokor Sangkranta. Untuk pertama kalinya, festival budaya dan pariwisata itu digelar di ibu kota, setelah sebelumnya lebih identik dengan Siem Reap melalui Angkor Sangkranta.

Festival tersebut berjalan selama enam hari, dari Selasa hingga Minggu, dengan lebih dari 20 kegiatan yang memadukan budaya, seni, dan unsur keagamaan. Wat Phnom menjadi pusat kegiatan, lalu rangkaian acara meluas ke Toul Tumpung Market dan kawasan pejalan kaki di depan Istana Kerajaan Phnom Penh.

Ragam tradisi yang menarik perhatian publik

Perayaan di ruang terbuka membuat berbagai ritual mudah disaksikan pengunjung. Sejumlah tradisi yang menonjol di Phnom Penh antara lain:

  1. Membawa persembahan ke kuil untuk berdoa dan memberi sedekah.
  2. Menyiapkan sesaji di rumah bagi keluarga yang tidak mudik.
  3. Membangun gunung pasir sebagai bagian dari ritual keagamaan.
  4. Mengelilingi dan memandikan patung Buddha.
  5. Mengikuti pawai budaya serta pertunjukan seni tradisional.

Ritual-ritual itu memberi ruang bagi generasi muda untuk mengenal warisan budaya secara langsung. Kehadiran wisatawan asing juga ikut menegaskan Choul Chnam Thmey sebagai atraksi budaya yang tetap otentik sekaligus sarat nilai spiritual.

Phnom Penh sebagai pusat budaya dan religi

Momentum perayaan ini dimanfaatkan untuk memperkuat citra Phnom Penh sebagai destinasi budaya. Festival tidak hanya menyoroti tradisi keagamaan, tetapi juga mendorong aktivitas publik dan kunjungan wisata di pusat kota.

Antusiasme warga muda menunjukkan bahwa tradisi tahunan ini masih relevan di tengah kehidupan urban. Di berbagai wilayah lain di Kamboja, perayaan serupa juga digelar melalui festival lokal, permainan tradisional, dan pertunjukan seni yang menjaga warisan budaya tetap hidup.

Source: www.beritasatu.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer