Cognition Tawarkan Devin Dengan Garansi Produktivitas, Kredit Menunggu Jika Hasilnya Tak Seimbang

Cognition menyiapkan cara baru untuk meyakinkan pelanggan enterprise yang mulai berhati-hati membelanjakan dana untuk AI. Perusahaan itu menjanjikan kredit hingga $10 juta jika Devin, agen AI untuk rekayasa perangkat lunak, tidak memberi produktivitas yang sepadan.

Skema tersebut diberi nama AI Productivity Guarantee. Intinya, Cognition tidak hanya menjual akses atau kapasitas penggunaan, tetapi menjual hasil kerja yang diukur dari output produktif.

Langkah ini muncul ketika biaya AI makin menjadi perhatian banyak perusahaan. Di sejumlah organisasi besar, manfaat yang diperoleh dari penggunaan AI dinilai belum tentu sebanding dengan pengeluaran yang terus membengkak.

Cognition memposisikan Devin sebagai agen AI yang bisa menerima tugas rekayasa perangkat lunak lalu menyelesaikannya dari awal sampai akhir di belakang layar. Dalam pengumumannya di X, perusahaan itu menegaskan bahwa AI seharusnya menghasilkan nilai, bukan sekadar mendorong konsumsi penggunaan yang tinggi.

Pernyataan itu sejalan dengan kritik yang mulai ramai di industri AI. Banyak pihak dinilai terlalu fokus pada token, padahal yang dibutuhkan pelanggan adalah hasil kerja yang benar-benar berguna.

Tekanan soal biaya juga membuat pendekatan Cognition terasa relevan. Uber dan Walmart disebut mulai memasang batas penggunaan AI di kalangan karyawan karena manfaatnya belum tentu sebanding dengan ongkosnya.

Amazon juga disebut mulai menertibkan pemakaian alat AI oleh karyawan setelah muncul laporan bahwa sebagian orang menggunakan AI untuk hampir semua tugas demi terlihat memakai token lebih tinggi. Di saat yang sama, investor dan perusahaan dikabarkan semakin cermat menelaah biaya operasional AI.

Sam Altman, CEO OpenAI, juga baru-baru ini mengatakan bahwa biaya penggunaan AI yang tinggi telah menjadi masalah besar bagi perusahaan. Laporan lain menyebut Microsoft meminta para engineer beralih dari Claude Code ke alat AI internal sebelum 30 Juni, sementara eksekutif Uber mengatakan anggaran AI tahunan perusahaan habis dalam lima bulan.

Cara Cognition menilai produktivitas Devin

Yang membuat garansi ini berbeda adalah cara Cognition menghitung nilai kerja Devin. Perusahaan tidak menilainya dari jumlah token atau banyaknya baris kode, melainkan dari estimasi jam kerja rekayasa yang berhasil dihasilkan.

Dalam blog perusahaan, CEO Cognition Scott Wu menulis bahwa perusahaan membangun AI estimator untuk mengukur output rekayasa produktif yang diberikan Devin kepada pelanggan enterprise. Setiap sesi yang sudah selesai dinilai lewat dua pertanyaan utama.

Pertama, apakah seorang engineer manusia akan menganggap hasilnya berguna. Jika jawabannya ya, langkah berikutnya adalah memperkirakan berapa lama engineer itu akan menyelesaikan pekerjaan yang sama secara mandiri.

Cognition memilih pendekatan berbasis jam kerja karena perubahan kode kecil pun bisa memerlukan investigasi berjam-jam. Di sisi lain, ada juga tugas yang tetap berguna meski tidak menghasilkan kode sama sekali.

Setelah jam kerja diperkirakan, Cognition mengubahnya menjadi nilai dolar dengan tarif global standar. Nilai itu lalu dibandingkan dengan konsumsi aktual pelanggan menjelang akhir kontrak tahunan.

Jika perhitungan menunjukkan pelanggan membayar lebih mahal daripada nilai produktivitas yang diberikan Devin, Cognition akan menutup selisihnya sampai batas $10 juta. Kompensasi itu tidak diberikan dalam bentuk tunai, melainkan kredit untuk penggunaan berikutnya.

Siapa yang bisa ikut program ini

Program ini ditujukan untuk pelanggan enterprise Cognition yang memakai Devin Cloud dalam skala yang disebut meaningful scale. Pelanggan juga harus memenuhi persyaratan teknis dan keterlibatan, sementara pelanggan lama dapat ikut jika memenuhi kualifikasi.

Cognition mengatakan sistemnya sudah divalidasi memakai estimasi waktu dari pengguna enterprise. Cakupannya meliputi 258 sesi dari 126 pengguna di berbagai implementasi.

Perusahaan mengakui estimasi individual bisa sangat bising dan kesalahannya dapat mencapai dua hingga tiga kali lipat ke dua arah. Namun, Cognition menilai kesalahan itu akan cenderung saling meniadakan ketika dihitung dalam banyak sesi.

Tetap ada batasan penting dalam skema ini karena produktivitas Devin dinilai memakai sistem yang dibuat oleh Cognition sendiri. Perusahaan juga menegaskan bahwa estimator itu bukan ukuran penuh dari return on investment atau ROI.

Menurut Cognition, alat tersebut hanya menjadi baseline untuk output produktif. ROI tetap bergantung pada konteks bisnis yang lebih luas, dan jam kerja yang dihemat tidak otomatis mencerminkan nilai bisnis maupun kualitas hasil.

Cognition mengatakan akan terus menyempurnakan sistem itu dan membagikan pembelajaran yang mereka peroleh. Di tengah pengawasan yang makin ketat terhadap biaya AI, strategi ini menunjukkan bahwa persaingan kini tidak hanya soal kemampuan model, tetapi juga soal pembuktian nilai yang benar-benar terasa bagi pelanggan enterprise.

Source: www.indiatoday.in

Berita Terkait