Coinbase Dorong AI dan Saham, Brian Armstrong Buka Peta Baru di Tengah Serangan Dimon

Coinbase kini bergerak jauh melampaui citra lamanya sebagai bursa kripto. Perusahaan itu menyiapkan platform terpadu yang menggabungkan kripto, saham tradisional, ETF, prediction markets, perpetual futures, aset tokenisasi, dan pembayaran dalam satu akun.

Langkah ini menjadi sinyal bahwa Coinbase ingin dipandang sebagai penyedia layanan keuangan yang lebih luas, bukan hanya tempat jual beli aset digital. Dalam pembaruan produk di New York City, Brian Armstrong menegaskan bahwa perusahaan tetap berakar pada kripto, tetapi arah pengembangannya kini mengikuti perubahan perilaku pasar.

AI masuk ke inti strategi Coinbase

Salah satu sorotan terbesar dari pembaruan itu adalah Coinbase Advisor, penasihat investasi AI yang disebut sebagai salah satu yang pertama terdaftar di SEC. Layanan ini dapat memberikan rekomendasi beli dan jual secara eksplisit, menganalisis riwayat portofolio pengguna, dan mengeksekusi transaksi sepanjang waktu.

Coinbase juga memperkenalkan tokenized equities yang didukung 1:1 oleh saham dasarnya. Dengan pendekatan ini, perusahaan mencoba menjembatani aset digital dan pasar tradisional melalui produk yang lebih mudah diakses dari satu ekosistem.

Armstrong mengaitkan langkah tersebut dengan munculnya agentic economy, yakni kondisi ketika AI agents semakin sering menjalankan tugas atas nama pengguna. Ia menilai agen-agen itu akan membutuhkan infrastruktur keuangan baru untuk membeli barang dan jasa, bahkan untuk membentuk tim agen lain.

Bitcoin, arus modal, dan peluang pembalikan arah

Di luar strategi produk, Armstrong juga memberi pandangan tentang bitcoin. Ia menilai harga bitcoin kemungkinan sudah membentuk dasar dan menyebut level sekitar $60K sebagai titik yang mungkin menandai bottom jika dilihat dari tren historis dan indeks fear and greed.

Ia menambahkan bahwa beberapa faktor bisa mendorong bitcoin ke depan, termasuk market structure, lolosnya legislasi, dan melantainya sejumlah perusahaan AI yang selama ini menyerap banyak modal berisiko. Menurutnya, ketika perusahaan-perusahaan AI itu menjadi publik dan unlocks terjadi, arus modal bisa berputar kembali ke bitcoin dan pasar aset digital.

Perseteruan dengan Jamie Dimon makin terbuka

Di saat Coinbase memperluas ambisinya, perdebatan soal regulasi kripto dengan Jamie Dimon juga memanas. CEO JPMorgan itu muncul di Fox Business dan menyebut Armstrong “full of sh*t” terkait dorongan lobi multimiliar dolar untuk Digital Asset Market Clarity Act.

RUU tersebut akan membangun kerangka regulasi untuk kripto dan, yang paling penting, memungkinkan platform seperti Coinbase menawarkan imbal hasil mirip yield atas kepemilikan stablecoin. Dimon menilai hal itu akan membuat perusahaan kripto bisa bersaing dengan bank untuk merebut dana simpanan tanpa tunduk pada aturan FDIC, AML, dan modal yang sama seperti bank tradisional.

Dimon menegaskan dirinya akan melawan rancangan aturan itu, bahkan jika pada akhirnya kalah. Ia juga menyatakan tidak akan tunduk pada “guy ini” atau perusahaan itu.

Armstrong merespons dengan nada terbuka dan mengatakan ingin bertemu Dimon. Ia menilai pintu komunikasinya selalu terbuka kapan pun Dimon bersedia, meski pertemuan langsung tidak lagi dianggap krusial untuk mendorong RUU itu maju.

Menurut Armstrong, Senat sudah memberi sinyal bahwa kedua pihak harus mencapai kompromi, dan hasilnya diharapkan bisa sampai ke meja presiden dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, Wall Street tampak menyambut ekspansi produk Coinbase dengan positif.

Analis BTIG Andrew Harte menyebut Coinbase sedang membangun platform aset digital terdepan dengan utilitas dunia nyata, lalu memperkuatnya dengan akses ke alat investasi tradisional. Harte mempertahankan peringkat Buy untuk Coinbase, dan sekitar dua pertiga rating terbaru untuk saham itu berstatus Buy atau Overweight menurut Yahoo Finance AlphaSpace.

Berita Terkait