Ponsel Retro Ini Menolak Doomscrolling, Commodore Callback Tetap Serius Dipakai

Commodore Callback hadir dengan pendekatan yang tidak biasa di tengah ponsel modern yang serba memikat layar. Perangkat ini sengaja dibangun untuk mengurangi ketergantungan pada smartphone tanpa jatuh menjadi ponsel yang terlalu terbatas untuk dipakai sehari-hari.

Langkah paling tegas ada pada sisi perangkat lunaknya. Commodore Callback tidak kompatibel dengan aplikasi media sosial, tidak memiliki browser, dan juga tidak dibekali aplikasi kantor, sehingga ruang untuk doomscrolling dibuat sekecil mungkin.

Fungsi dipilih ketat, bukan dipangkas habis

Alih-alih menghilangkan semua kemampuan, Commodore menempatkan Callback sebagai jalan tengah bagi pengguna yang ingin tetap terhubung tanpa tenggelam dalam ekosistem smartphone yang penuh distraksi. Perusahaan itu bahkan menyebut perangkat ini sebagai “the not dumb dumbphone”.

Pendekatan tersebut membedakannya dari feature phone biasa yang sering kali terlalu sederhana untuk kebutuhan komunikasi dan aplikasi penting. Callback dirancang agar tetap fungsional, tetapi menolak elemen yang paling sering menyita waktu pengguna di layar.

Desain lipat retro dengan pilihan warna klasik

Dari sisi tampilan, Commodore Callback mengusung desain clamshell lipat yang mengingatkan pada ponsel klasik seperti Motorola Razr. Nuansa retro itu diperkuat oleh pilihan warna ProtoPET White, SX Silver, dan BASIC Beige.

Layar perangkat ini juga tidak mendukung fitur sentuh, sehingga pengalaman penggunaan dibuat lebih jauh dari pola interaksi smartphone modern. Kombinasi desain dan antarmuka tersebut mempertegas posisinya sebagai ponsel anti-distraksi, bukan sekadar perangkat bernuansa nostalgia.

Spesifikasi yang tetap memberi nilai tambah

Meski membatasi banyak fungsi populer, Commodore tetap menyematkan sejumlah fitur yang terasa premium. Salah satu yang paling menonjol adalah kamera belakang 48MP yang ditujukan untuk kebutuhan dokumentasi.

Di sektor audio, Callback dibekali DAC kelas audiophile, dukungan audio resolusi tinggi, radio FM, cip suara SID legendaris, serta earphone in-ear monitor bawaan. Kombinasi ini menunjukkan bahwa perangkat tersebut masih menargetkan pengalaman penggunaan yang serius.

Perangkat ini juga berjalan dengan Sailfish OS, sistem operasi berbasis Linux yang berfokus pada privasi pengguna. Commodore menyebut sistem ini kompatibel dengan “99%” aplikasi Android, sehingga tetap memberi ruang bagi pengguna yang membutuhkan banyak aplikasi tanpa menyerahkan seluruh data pribadi ke platform yang agresif.

Harga dan sasaran pengguna

Commodore Callback dibanderol USD 549,99 atau sekitar Rp9 juta. Harga itu menempatkannya jauh dari kategori ponsel murah, tetapi sesuai dengan posisinya sebagai perangkat niche yang menawarkan jalan tengah.

Target utamanya jelas, yaitu pengguna yang ingin lepas dari distraksi media sosial namun masih memerlukan alat komunikasi dan aplikasi penting. Dengan format lipat retro, fungsi yang dipilih secara ketat, dan fokus pada privasi, Callback menawarkan alternatif yang berbeda di tengah budaya layar yang semakin menekan.

Source: www.gadgetdiva.id

Berita Terkait