Cookies gaplek dari Gunungkidul kini tidak lagi berhenti sebagai camilan rumahan. Produk buatan Olya Widowati Putri itu sudah tampil di pameran di China dan juga laris di ajang besar dalam negeri seperti Pekan Raya Jakarta.
Dari Nglipar, Gunungkidul, Olya membuktikan bahwa bahan pangan yang dulu lekat dengan makanan pokok masa lampau bisa naik kelas menjadi produk modern. Tepung gaplek singkong yang selama ini identik dengan tiwul diolahnya menjadi cookies dan brownies yang dikemas rapi sebagai oleh-oleh khas daerah.
Mengubah bahan lama menjadi produk baru
Di tangan Olya, gaplek tidak hanya dipandang sebagai bahan untuk nasi tiwul. Bahan yang sama bisa berubah menjadi kudapan dengan tampilan lebih modern tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Eksperimen itu berawal dari tepung gaplek milik mertuanya yang biasa dipakai membuat tiwul. Tepung tersebut disaring berulang kali sampai sangat halus sebelum masuk ke adonan kue.
Dari dapur rumahan ke lini usaha yang lebih serius
Olya mengembangkan Delollie Cake & Cookies dengan tujuan membuat produk yang tahan lama dan tidak musiman. Ia juga ingin menghadirkan makanan khas yang bisa mengangkat identitas daerah kelahirannya ke pasar yang lebih luas.
Langkah ke cookies gaplek bukan awal dari usahanya. Sejak 2014, ia sudah berjualan burger dan cappuccino cincau di pinggir jalan kawasan Nglipar.
Usaha itu sempat berkembang pesat karena saat itu pesaing masih sedikit. Gerai sederhananya kemudian tumbuh menjadi kafe mini dengan dekorasi lampu yang menarik perhatian anak muda.
Beradaptasi saat lokasi berubah
Perubahan lokasi sempat menjadi titik sulit. Lahan lama bukan miliknya sendiri, lalu pindah ke tempat yang kurang strategis membuat omzet turun drastis.
Dalam kondisi itu, Olya beralih membuat kue tart ulang tahun secara kustom untuk menjaga pemasukan. Pesanan tart itu tetap datang setiap minggu sampai sekarang karena pelanggan sudah mengenal rasa produknya.
Dari cookies terigu ke gaplek
Sebelum memakai gaplek, Olya lebih dulu membuat cookies red velvet berbahan terigu pada 2021. Keinginan mengangkat kearifan lokal kemudian mendorongnya beralih ke tepung gaplek pada awal 2023.
Pada tahap awal, cookies dibuat tanpa isian agar karakter asli tepung singkong lebih terasa. Setelah rasa dianggap pas, ia mulai menambahkan oatmeal dan variasi rasa lain untuk memperkaya pilihan konsumen.
Rasa yang tetap modern meski berbahan tradisional
Delollie mengusung bahan yang lebih ramah bagi tubuh. Cookies dan brownies buatannya memakai tepung singkong tanpa campuran terigu sehingga membawa konsep bebas gluten.
Kadar gulanya juga dibuat minim. Setelah mendapat masukan dari ahli kuliner sehat, Olya mengganti gula pasir dengan gula aren atau gula semut dalam adonan.
Meski berbeda dari kue pada umumnya, brownies yang dihasilkan tetap lembut dan cookies-nya terasa gurih. Ada pelanggan yang awalnya ragu, lalu justru menyukai rasa camilan berbahan gaplek tersebut.
Disiapkan untuk pasar oleh-oleh
Agar cocok masuk pasar oleh-oleh, kemasan produk juga dibuat serius. Cookies gaplek dipasarkan dalam pouch dan box dengan stiker informatif, sementara varian tertentu tersedia dalam toples kaca.
Harga kemasan pouch mulai dari Rp18 ribu. Untuk toples kaca, harga berada di kisaran Rp50 ribu hingga Rp65 ribu.
Daya simpan menjadi salah satu keunggulan utamanya. Dengan kemasan kedap udara, cookies gaplek dapat bertahan hingga 12 bulan sehingga pas dibawa wisatawan sebagai buah tangan dari Gunungkidul.
Brownies bebas gluten juga masuk dalam lini produk Delollie. Produk ini dijual seharga Rp55 ribu per porsi.
Mendapat ruang lebih luas lewat dukungan BRI
Perluasan pasar Delollie Cake & Cookies ikut didorong ekosistem BRI. Melalui Rumah BUMN Yogyakarta yang dibina BRI, produk ini mendapat ruang display strategis yang mempertemukannya dengan konsumen premium.
Olya juga beberapa kali dilibatkan dalam pameran yang difasilitasi BRI. Dukungan itu membuka akses promosi yang lebih luas untuk produk berbasis gaplek dari Gunungkidul.
Salah satu capaian pentingnya terjadi saat cookies gaplek dibawa ke pameran di China. Di pasar domestik, produk ini juga tampil di ajang besar seperti Pekan Raya Jakarta dan disebut hampir selalu habis terjual.
Di sisi operasional, Olya sudah memakai QRIS BRI untuk memudahkan transaksi di gerai maupun saat pameran. Sistem pembayaran digital itu membuat transaksi lebih cepat, tanpa repot menyiapkan uang kembalian, sekaligus membantu arus masuk penjualan tercatat rapi secara real-time.







