Selandia Baru kembali menempati posisi teratas dalam Global Life-Work Balance Index 2025 dari Remote.com. Negara itu meraih skor 86,59 dan unggul jauh dari banyak ekonomi besar lain yang justru tertinggal dalam urusan keseimbangan hidup kerja.
Di belakangnya, Irlandia berada di posisi kedua dengan skor 81,17. Jarak skor yang lebar ini menunjukkan bahwa kualitas work-life balance tidak selalu sejalan dengan besarnya ekonomi sebuah negara.
Amerika Serikat nyaris jadi yang terburuk
Sorotan terbesar justru datang dari Amerika Serikat yang hampir berada di dasar daftar. Negara itu menempati peringkat ke-59 dari 60 ekonomi terbesar yang dinilai, hanya satu tingkat di atas Nigeria.
Skor Amerika Serikat berada di angka 31,17, sangat dekat dengan Nigeria yang mencatat 30,07. Posisi ini menjadi tanda bahwa kekuatan ekonomi besar tidak otomatis berarti kehidupan kerja yang lebih sehat bagi warganya.
Penurunan Amerika Serikat juga terlihat konsisten dari tahun ke tahun. Negara itu berada di peringkat 53 pada 2023, turun ke posisi 55 pada 2024, lalu merosot lagi ke urutan 59 pada 2025.
Nigeria berada di dasar daftar
Nigeria menempati posisi paling bawah dan menjadi negara dengan skor terendah dalam pemeringkatan ini. Remote.com menilai kondisi itu terkait dengan akses kesehatan yang minim, jatah cuti yang sangat sedikit, serta persoalan keamanan yang ikut menekan kehidupan pekerja.
Gabungan faktor tersebut membuat ruang istirahat dan perlindungan dasar bagi pekerja di Nigeria terlihat sangat terbatas. Dalam skor komposit berbasis 100 poin, negara itu menjadi contoh paling ekstrem dari suramnya keseimbangan hidup kerja.
Asia dan Timur Tengah ikut masuk zona merah
Sejumlah negara di Asia dan Timur Tengah juga tercatat dalam kelompok dengan work-life balance rendah. China, India, Qatar, dan Uni Emirat Arab muncul di antara negara-negara dengan beban kerja tinggi.
China hanya memberi rata-rata cuti tahunan 5 hari bagi karyawan yang baru bekerja satu tahun. Di negara itu, jam kerja mingguan juga mencapai 46,1 jam, sehingga ruang istirahat pekerja ikut menyempit.
India menghadapi pola yang serupa dengan durasi kerja 45,7 jam per minggu. Selain itu, upah minimum di negara tersebut hanya sekitar 0,27 dollar AS per jam, yang ikut memperberat kondisi pekerja.
Uni Emirat Arab juga mencatat jam kerja yang bisa menyentuh 49 jam per minggu. Meski begitu, tingkat kebahagiaan di negara itu tetap cenderung lebih baik karena didukung sistem proteksi sosial yang kuat bagi penduduknya.
Apa yang membuat skor jatuh
Remote.com menjelaskan bahwa work-life balance yang rendah biasanya muncul dari gabungan beberapa faktor. Jam kerja panjang dan cuti yang terbatas menjadi penghalang utama bagi pekerja untuk mendapatkan waktu istirahat yang layak.
Rendahnya standar upah dan sulitnya akses layanan kesehatan ikut memperburuk kualitas hidup secara keseluruhan. Faktor sosial seperti keamanan lingkungan dan inklusivitas tempat kerja juga memengaruhi kebahagiaan karyawan dalam jangka panjang.
Posisi Indonesia di tengah daftar
Indonesia berada di posisi yang lebih aman dibanding kelompok terbawah, meski belum menembus jajaran negara dengan keseimbangan hidup kerja terbaik. Skor Indonesia tercatat 51,22 dan menempatkannya di peringkat ke-35 dari 60 negara yang dianalisis.
Hasil itu membuat Indonesia masih berada di atas Vietnam yang berada di urutan 39 dan Thailand di posisi 40. Namun, Indonesia tetap tertinggal dari Singapura yang menempati peringkat 27 dan Malaysia di urutan 29.







