Belanja oleh-oleh haji sering terasa ringan di awal, lalu diam-diam membesar ketika sudah masuk ke pusat perbelanjaan atau pasar sekitar Makkah dan Madinah. Situasi ini biasanya muncul karena keputusan membeli dibuat spontan, tanpa batas penerima dan tanpa angka belanja yang jelas.
Agar pengeluaran tidak ikut membengkak, kuncinya ada pada rencana yang dibuat sebelum belanja dimulai. Dengan langkah yang lebih tertata, jemaah tetap bisa membawa buah tangan untuk keluarga, tetangga, dan rekan kerja tanpa membuat koper penuh sesak atau dana terkuras.
Mulai dari daftar penerima
Salah satu penyebab belanja membesar adalah daftar penerima yang baru disusun saat sudah berada di lokasi. Akibatnya, barang yang dibeli terus bertambah karena orang yang ingin diberi buah tangan muncul satu per satu di tengah aktivitas belanja.
Membuat daftar sebelum berangkat membantu jumlah barang lebih mudah diperkirakan sejak awal. Daftar itu bisa dibagi untuk keluarga inti, keluarga besar, tetangga dekat, dan rekan kerja yang memang ingin diberi oleh-oleh.
Cara ini juga menahan rasa sungkan untuk menambah penerima secara mendadak. Selain itu, daftar penerima memudahkan pemilihan jenis barang yang sesuai untuk masing-masing kelompok.
Tetapkan batas dana sejak awal
Belanja tanpa anggaran yang jelas sering membuat jemaah tergoda mengambil barang tambahan saat melihat banyak pilihan. Jika dibiarkan, pengeluaran untuk oleh-oleh bisa mengganggu kebutuhan lain selama berada di Tanah Suci.
Pemisahan dana ibadah, kebutuhan pribadi, dan dana oleh-oleh sebaiknya dilakukan sebelum keberangkatan. Dengan begitu, penggunaan uang menjadi lebih terarah dan tidak tercampur.
Batas belanja yang sudah ditentukan juga membantu menahan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan. Jemaah jadi lebih mudah menolak godaan membeli barang hanya karena kemasan menarik atau ikut ajakan rombongan.
Pilih barang yang mudah dibawa pulang
Ukuran barang sering luput diperhitungkan saat belanja oleh-oleh. Padahal, barang berukuran besar bisa membuat koper penuh lebih cepat dan menambah beban bawaan saat pulang.
Pilihan yang lebih efisien adalah barang yang praktis dan mudah dibagikan. Kurma, kacang Arab, cokelat, tasbih, sajadah lipat, dan air zamzam dalam kemasan resmi termasuk yang sering dipilih jemaah.
Barang-barang seperti itu lebih mudah disusun di dalam koper dan tidak memakan banyak ruang. Risiko harus membeli tas tambahan atau menghadapi bagasi berlebih pun bisa ditekan.
Jangan langsung beli di toko pertama
Harga oleh-oleh di sekitar Makkah dan Madinah bisa berbeda cukup jauh meski barang yang dijual terlihat sama. Karena khawatir kehabisan waktu, sebagian jemaah langsung membeli di tempat pertama yang dikunjungi.
Mengecek beberapa toko atau pasar terlebih dahulu memberi gambaran kisaran harga sebelum membeli dalam jumlah besar. Selisih kecil pada satu barang bisa terasa besar jika jumlah pembeliannya banyak.
Selain harga, kualitas barang juga perlu diperhatikan. Kemasan yang sederhana belum tentu berarti isinya berbeda dengan barang lain yang dijual lebih mahal.
Hindari belanja mendadak menjelang pulang
Belanja yang dilakukan saat jadwal kepulangan sudah dekat sering membuat keputusan jadi terburu-buru. Dalam kondisi seperti itu, jemaah cenderung membeli lebih banyak tanpa pertimbangan matang.
Membeli secara bertahap sejak awal kedatangan memberi ruang untuk membagi pengeluaran selama perjalanan. Cara ini membuat biaya belanja tidak menumpuk di akhir masa ibadah.
Belanja lebih awal juga memberi waktu untuk menilai kembali apakah jumlah dan jenis oleh-oleh sudah sesuai dengan rencana. Selain itu, jemaah tidak terlalu berisiko kehabisan barang tertentu ketika pusat oleh-oleh mulai penuh oleh pembeli dari berbagai negara.
Oleh-oleh haji pada akhirnya tidak harus mahal untuk tetap bermakna. Yang penting adalah niat berbagi, sambil menjaga anggaran tetap aman dan perjalanan pulang tetap nyaman.
