Perubahan jaringan penjualan Daihatsu milik Asco Automotive menjadi sorotan karena sebagian outlet yang berhenti beroperasi justru dikaitkan dengan arah bisnis baru ke merek mobil China. Pergeseran ini membuat pasar otomotif kembali memperlihatkan dinamika yang makin terbuka, terutama di tengah kuatnya persaingan antara merek Jepang dan pendatang baru dari China.
Di sisi lain, penghentian operasional itu juga berdampak langsung pada konsumen yang selama ini mengandalkan layanan resmi Asco. Penjualan, servis berkala, penyediaan suku cadang, hingga urusan purna jual ikut masuk dalam perhatian, sehingga kabar ini tidak sekadar soal tutupnya showroom.
Operasional berhenti di dua wilayah besar
Jaringan showroom dan bengkel resmi Daihatsu milik Asco Automotive resmi berhenti beroperasi mulai 1 Juni 2026. Lokasinya tersebar di DKI Jakarta dan Jawa Timur, dua wilayah yang selama ini penting dalam pergerakan penjualan kendaraan.
PT Astra International Tbk – Daihatsu Sales Operation kemudian memberi klarifikasi agar kabar ini tidak dipahami keliru. Customer Relation Division Head AI DSO, Tri Mulyono, menegaskan bahwa yang berhenti bukan 11 dealer berbeda, melainkan satu perusahaan dealer yang memiliki 11 outlet resmi Daihatsu.
Penjelasan itu penting karena skala penghentian satu perusahaan tentu berbeda dengan penutupan 11 dealer yang berdiri sendiri. Dampaknya lebih terasa pada jaringan layanan yang sebelumnya terhubung dalam satu pengelolaan bisnis.
Dampak terasa di layanan purna jual
Bagi pemilik kendaraan Daihatsu, kabar ini ikut menyentuh urusan yang paling rutin, yaitu servis dan suku cadang resmi. Banyak konsumen yang selama ini bergantung pada Asco Automotive untuk servis berkala dan kebutuhan purna jual lainnya.
Kekhawatiran juga muncul pada kelanjutan klaim garansi dan akses terhadap riwayat servis kendaraan. Karena itu, sebagian pelanggan harus mencari alternatif dealer dan bengkel resmi Daihatsu lainnya agar layanan kendaraan tetap berjalan.
Asco Automotive sebelumnya melayani penjualan kendaraan baru, servis berkala, dan penyediaan suku cadang resmi dalam satu rantai layanan. Saat 11 outlet tersebut berhenti sekaligus, dampaknya tentu terasa lebih luas bagi konsumen yang terbiasa memakai jaringan itu secara rutin.
Arah bisnis baru ke merek China ikut disorot
Sorotan kemudian mengarah ke langkah sebagian outlet yang disebut beralih menjadi dealer merek mobil China. Perubahan ini dinilai sebagai tanda bahwa peta persaingan otomotif nasional sedang bergerak ke tahap baru.
Dalam beberapa tahun terakhir, merek-merek China memang semakin agresif masuk ke Indonesia. Mereka tidak hanya membangun penjualan, tetapi juga memperkuat layanan purna jual dan memakai strategi bisnis yang lebih fleksibel.
Kondisi itu membuat dominasi lama merek Jepang tidak lagi berdiri sendirian di jaringan distribusi. Merek China kini hadir dengan pendekatan yang lebih berani, terutama saat konsumen mulai membuka diri pada pilihan yang lebih beragam.
Persaingan pasar mulai bergeser
Merek China juga semakin menarik perhatian karena menawarkan desain modern, teknologi canggih, dan harga yang kompetitif. Mobil listrik dan kendaraan berbasis teknologi pintar menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat segmen ini tumbuh cepat.
Momentum tersebut dimanfaatkan dengan agresif oleh sejumlah merek China. Langkah mereka memperluas jaringan di Indonesia ikut menekan posisi merek-merek Jepang yang selama ini kuat di pasar nasional.
Di tengah perubahan itu, langkah Asco Automotive dipandang sebagai sinyal bahwa industri otomotif Indonesia sedang memasuki fase baru. Persaingan kini tidak hanya ditentukan oleh merek yang sudah mapan, tetapi juga oleh kemampuan membaca arah teknologi dan kebutuhan pasar.
Daihatsu nasional tetap berjalan normal
Meski 11 outlet Asco berhenti beroperasi, layanan purna jual Daihatsu secara nasional tetap berjalan normal. Konsumen masih bisa mengakses dealer resmi Daihatsu lainnya untuk servis maupun kebutuhan garansi.
Konsumen juga diimbau menghubungi layanan resmi Daihatsu untuk memperoleh informasi lebih lanjut terkait servis dan garansi. Dengan jaringan dealer yang masih luas, operasional bisnis nasional Daihatsu disebut tetap stabil meski ada perubahan pada salah satu mitra besarnya.
Bagi pasar otomotif, situasi ini menjadi penanda bahwa kompetisi 2026 akan berlangsung lebih ketat. Bagi konsumen, kondisi tersebut berarti pilihan kendaraan makin banyak, sementara persaingan harga dan teknologi diperkirakan terus memanas dalam beberapa tahun ke depan.







