Damai AS-Iran Dibuka, Golkar Tekan Pemerintah Segera Benahi Fiskal RI

Author: Redaksi Android62

Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran dinilai membuka ruang baru bagi perekonomian Indonesia, terutama lewat peluang turunnya harga energi dan meredanya tekanan fiskal. Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M. Sarmuji meminta pemerintah bergerak cepat agar momentum itu tidak lewat begitu saja.

Sarmuji menegaskan bahwa konflik AS-Iran selama ini ikut menekan ekonomi nasional melalui harga minyak dunia, inflasi, dan biaya logistik. Karena itu, normalisasi situasi di kawasan dianggap bisa menjadi titik awal untuk memperbaiki beban anggaran negara yang sempat terdorong naik akibat subsidi BBM.

Tekanan geopolitik yang ikut terasa di dalam negeri

Menurut Sarmuji, perang dan ketegangan di kawasan Timur Tengah bukan hanya persoalan dua negara. Dampaknya merambat ke rantai pasok global, biaya pengiriman internasional, dan harga komoditas energi yang akhirnya dirasakan pelaku usaha serta konsumen di Indonesia.

Ia juga menyoroti gangguan di Selat Hormuz yang selama berbulan-bulan menjadi titik rawan bagi jalur perdagangan dunia. Kondisi itu membuat ongkos logistik membengkak dan ikut menambah tekanan pada biaya produksi domestik.

Ruang fiskal yang bisa dibuka kembali

Dalam pandangannya, turunnya harga minyak dunia dapat memberi ruang bagi pemerintah untuk mengevaluasi subsidi energi secara bertahap. Jika beban energi mereda, dana yang sebelumnya terserap untuk subsidi bisa dialihkan ke sektor yang lebih strategis.

Sarmuji menyebut infrastruktur, pendidikan, dan perlindungan sosial sebagai area yang berpeluang mendapat manfaat dari perbaikan fiskal tersebut. Ia menilai langkah itu penting agar manfaat perdamaian tidak hanya terasa di level global, tetapi juga pada belanja negara yang lebih sehat.

Pada saat yang sama, premi risiko geopolitik yang menurun juga dinilai dapat membuat impor minyak dan gas lebih efisien. Situasi itu berpotensi menekan biaya produksi dan membantu meredakan inflasi di dalam negeri.

Langkah dagang yang perlu segera dimanfaatkan

Selain soal fiskal, Sarmuji menilai Indonesia perlu melihat peluang dagang yang muncul dari membaiknya situasi di Timur Tengah. Ia menekankan pentingnya pembukaan penuh Selat Hormuz agar arus ekspor-impor kembali lancar dan biaya logistik internasional tidak terus membengkak.

Ia juga mendorong pemerintah memanfaatkan kondisi ini untuk meningkatkan ekspor non-migas ke kawasan Timur Tengah. Di saat yang sama, ia menyebut perlunya menghidupkan kembali kesepakatan dagang dengan Iran, terutama untuk produk pertanian dan manufaktur yang sempat tertunda.

Diplomasi masih jadi jalur paling bermartabat

Sarmuji menyambut baik kesepakatan damai AS-Iran dan menilainya sebagai sinyal positif yang lama dinanti. Ia menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap lebih bermartabat dibanding perang, meski prosesnya panjang dan penuh hambatan.

Ia juga menyoroti peran Pakistan, Turki, Qatar, dan Arab Saudi dalam memfasilitasi perundingan. Menurut dia, keberhasilan itu menunjukkan bahwa diplomasi kolektif masih memiliki ruang besar untuk menyelesaikan konflik internasional.

Lebih jauh, Sarmuji berharap perdamaian tersebut tidak berhenti sebagai gencatan senjata di atas kertas. Ia ingin kesepakatan itu menjadi awal rekonstruksi kawasan yang lebih stabil, sekaligus membuka ruang bagi perbaikan ekonomi dan fiskal Indonesia secara nyata.

Source: www.viva.co.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru