Dana Darurat Dulu, Saat Rupiah Melemah Begini Cara Paling Aman Menjaga Tabungan

Di saat rupiah tertekan hingga menyentuh Rp 17.600 per dollar AS, langkah paling aman bukan mengejar keuntungan cepat, melainkan memperkuat perlindungan atas uang yang sudah ada. Kondisi seperti ini membuat dana darurat, kebutuhan pokok, dan instrumen yang lebih tenang menjadi perhatian utama.

Tekanan kurs juga mulai merambat ke kehidupan sehari-hari. Harga barang cenderung bergerak lebih mahal, terutama pada komoditas yang bergantung pada jalur impor, sehingga rumah tangga perlu lebih cermat mengatur pengeluaran.

Dana darurat perlu didahulukan

Perencana keuangan Andi Nugroho menilai dana darurat harus menjadi prioritas pertama saat ekonomi sedang tertekan. Dana ini penting untuk menghadapi situasi mendadak, mulai dari kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, sampai kerusakan rumah.

Karena itu, pengeluaran sebaiknya dipangkas ke pos yang memang wajib. Kebutuhan yang belum mendesak lebih baik ditunda agar sisa dana bisa dipakai untuk menghadapi risiko yang lebih penting.

Saat pasar bergejolak, pilih yang lebih likuid

Bagi masyarakat yang masih ingin menempatkan dana lebih, Andi menyarankan instrumen yang likuid dan risikonya lebih rendah. Surat Berharga Negara ritel seperti ORI dan Sukuk Ritel dinilainya lebih stabil dibanding banyak pilihan lain.

Ia menyebut volatilitas ORI dan Sukuk Ritel tidak seekstrem pasar saham. Karena itu, instrumen tersebut lebih cocok untuk orang yang ingin menata keuangan dengan risiko yang lebih terkendali.

Reksa dana pasar uang juga masuk daftar pilihan yang disorot. Instrumen ini menempatkan dana pada deposito dan surat utang jangka pendek, sehingga risikonya berada di bawah saham dan cocok untuk investor pemula yang membutuhkan likuiditas tinggi.

Andi juga menyebut reksa dana berbasis pendapatan tetap sebagai alternatif lain bagi mereka yang belum siap menghadapi pergerakan obligasi. Dalam pandangannya, pasar uang saat ini masih menjadi salah satu area yang menarik untuk pencarian imbal hasil.

Emas dan dollar AS tetap bisa dipertimbangkan, asal jelas tujuannya

Selain instrumen berbasis rupiah, emas masih dianggap sebagai aset lindung nilai untuk jangka menengah hingga panjang. Namun, harga emas disebut sudah berada di level tinggi, sehingga penempatan dananya perlu disesuaikan dengan horizon waktu.

Andi menyarankan emas dipandang sebagai investasi dengan jangka minimal sekitar 3 tahun. Dengan cara itu, emas bisa berfungsi sebagai penahan nilai ketika tekanan ekonomi meningkat.

Dollar AS juga bisa dipakai untuk diversifikasi aset. Meski begitu, pembelian valuta asing tidak disarankan hanya karena ikut tren atau takut ketinggalan momentum.

Menurut Andi, dollar AS sebaiknya dibeli jika memang ada tujuan yang jelas, seperti biaya pendidikan luar negeri atau perlindungan nilai aset. Tanpa tujuan dan profil risiko yang sesuai, pembelian dollar justru bisa memunculkan kerugian.

Ia juga menyarankan pembelian dollar AS dilakukan bertahap lewat metode cicilan nominal kecil. Cara ini membantu memecah risiko fluktuasi kurs saat rupiah bergerak tidak menentu.

Pada akhirnya, tidak ada satu instrumen yang cocok untuk semua orang ketika rupiah sedang melemah. Keputusan yang lebih aman lahir dari disiplin menjaga kebutuhan pokok, memperkuat dana darurat, dan memilih penempatan dana sesuai tujuan finansial serta profil risiko.

Berita Terkait