Dari Selokan Ke Paving Block, Sampah Rumah Tangga Di Balun Kini Punya Nilai Jual

Di Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, kebiasaan membuang sampah rumah tangga sembarangan mulai ditinggalkan karena warga kini melihat sampah sebagai bahan yang bisa diolah dan dijual. Perubahan itu muncul setelah Komunitas Sampah Modern dan Terorganisir atau Samosir mendampingi warga memilah sampah sejak dari rumah.

Dampaknya tidak berhenti pada lingkungan yang lebih rapi. Sampah plastik yang sebelumnya dibakar atau dibuang ke selokan kini masuk ke jalur pengolahan yang menghasilkan produk bernilai ekonomi.

Dari rumah ke rumah

Samosir tidak memulai gerakan ini lewat cara yang kaku. Komunitas tersebut mendatangi warga satu per satu, berdialog langsung, lalu membagikan kantong khusus untuk memisahkan sampah organik dan anorganik.

Pendekatan itu membuat warga lebih mudah menerima kebiasaan baru karena terasa sebagai ajakan, bukan sekadar perintah. Pemilahan dari sumber juga memudahkan tahap pengolahan berikutnya.

Penggiat Samosir, Mokhamad Yusuf Vira atau Ucup, menyebut setiap rumah rata-rata menghasilkan sekitar 1 hingga 1,5 kilogram sampah per hari. Sekitar 30 persen di antaranya merupakan sampah anorganik, terutama plastik, yang paling sering berakhir di selokan atau dibakar.

Sampah organik dan plastik punya jalur berbeda

Setelah warga terbiasa memilah, sampah organik diproses menjadi kompos untuk kebutuhan pertanian. Sementara itu, sampah plastik diolah menjadi produk yang punya nilai jual.

Saat ini, Samosir memproduksi paving block dan asbak berbahan plastik. Permintaan terhadap produk itu disebut terus meningkat karena kualitasnya terjaga.

Ucup menjelaskan, paving block buatan komunitas itu sudah diuji dari sisi daya tekan dan hasilnya tidak mudah pecah. Produk tersebut bahkan pernah digunakan untuk garasi kendaraan militer, termasuk kendaraan besar.

Capaian itu menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada daur ulang sederhana. Plastik bekas bisa berubah menjadi barang fungsional yang cukup kuat untuk kebutuhan berat.

Lingkungan ikut berubah

Perubahan perilaku warga juga mulai terasa di sekitar permukiman. Saluran air yang dulu kerap tersumbat sampah kini disebut lebih lancar.

Genangan air saat hujan deras pun berangsur berkurang karena sampah tidak lagi menumpuk di selokan. Bagi Samosir, hasil ini penting karena Wanayasa berada di kawasan pegunungan.

Kondisi saluran yang tersumbat sampah dianggap tidak seharusnya terjadi di wilayah seperti itu. Karena itu, kebiasaan memilah dari rumah menjadi kunci utama yang ingin terus dijaga.

Edukasi sejak usia sekolah

Upaya Samosir tidak hanya menyasar orang dewasa di rumah tangga. Dengan dukungan Lazismu, komunitas ini juga rutin masuk ke sekolah-sekolah untuk memberi sosialisasi.

Dalam kegiatan itu, siswa dikenalkan pada cara memilah sampah, proses daur ulang, dan potensi ekonomi dari pengelolaan sampah plastik. Tujuannya agar kepedulian terhadap kebersihan lingkungan tumbuh sejak dini.

Bagi Samosir, edukasi di sekolah membuat pengelolaan sampah dipahami sebagai bagian dari kebiasaan hidup bersih dan tertib. Kebiasaan itu diharapkan terbawa ke keluarga dan lingkungan sekitar.

Rencana pengembangan produk

Selain dua produk yang sudah berjalan, Samosir juga menyiapkan pengembangan olahan lain dari plastik. Meja, kursi, dan vas bunga masuk dalam rencana berikutnya.

Gerakan ini memperlihatkan bagaimana perubahan kecil di rumah bisa membuka dampak yang lebih luas. Dari sampah yang dulu dianggap tak berguna, warga kini mulai melihat peluang ekonomi sekaligus manfaat langsung bagi kebersihan desa.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer