London Eye berdiri bukan hanya sebagai wahana wisata, tetapi juga sebagai salah satu penanda paling mudah dikenali dari London. Roda observasi raksasa di tepi Sungai Thames ini kini dikunjungi lebih dari 3 juta orang setiap tahun, padahal awalnya hanya dimaksudkan sebagai struktur sementara.
Status yang berubah dari “sementara” menjadi permanen itulah yang membuat London Eye punya cerita berbeda dari banyak landmark modern lain di Inggris. Daya tariknya tidak berhenti pada pemandangan kota dari ketinggian, melainkan juga pada sejarah kelahirannya yang semula dirancang untuk menyambut milenium baru.
Dari proyek milenium menjadi ikon kota
Gagasan London Eye muncul dari kompetisi pada 1993 untuk menciptakan bangunan ikonik yang menyambut milenium baru. Desainnya dikerjakan oleh pasangan arsitek David Marks dan Julia Barfield, lalu proyek ini mendapat dorongan besar dari liputan media dan dukungan dana dari British Airways.
Pembangunannya dimulai pada 1998 dan diresmikan oleh Perdana Menteri Tony Blair pada akhir 1999. Masyarakat umum baru bisa menaikinya pada Maret 2000, saat wahana itu mulai beroperasi penuh untuk pengunjung.
Meski sejak awal dirancang sebagai struktur sementara, sambutan publik terus membesar. Popularitas yang datang dari warga lokal dan turis membuat London Eye akhirnya dipertahankan sebagai bangunan permanen.
Roda pengamatan dengan desain yang tidak biasa
Secara teknis, London Eye bukan bianglala biasa. Para arsitek menyebutnya roda pengamatan kantilever, dengan tinggi 135 meter dan diameter 120 meter.
Seluruh struktur hanya ditopang rangka berbentuk huruf “A” di satu sisi, lalu berdiri condong ke arah Sungai Thames dengan sudut 65 derajat. Bagian belakangnya diperkuat oleh 6 kabel penahan besar untuk menjaga keseimbangan.
Sistem putarnya juga punya ciri khas tersendiri. Roda ini terhubung ke poros dengan 64 kabel jari-jari dan digerakkan menggunakan ban karet berukuran besar.
Di sepanjang roda terpasang 32 kapsul kaca berbentuk oval. Setiap kapsul dapat menampung hingga 25 orang penumpang.
Mengapa tidak ada kapsul nomor 13
Banyak orang mengira kapsul nomor 13 dihilangkan karena takhayul. Faktanya, jumlah kapsul London Eye memang 32, tetapi penomorannya tidak dibuat berurutan dari 1 sampai 32.
Pengelola memberi nama kapsul berdasarkan urutan posisi putarnya agar tidak ada satu pun yang berlabel angka 13. Langkah ini sejalan dengan kepercayaan umum terhadap angka sial, atau triskaidekaphobia.
Kepercayaan itu punya akar panjang, mulai dari kisah mitologi Nordik tentang Loki hingga kisah Yudas Iskariot sebagai orang ke-13 dalam Perjamuan Terakhir. Karena alasan serupa, banyak hotel melewati lantai 13 dan sejumlah maskapai menghapus kursi nomor 13.
Detail kecil yang mudah dikenali dari jauh
Di antara kapsul-kapsul yang mayoritas berwarna putih transparan, ada satu yang tampil berbeda. Kapsul itu dicat merah dan dikenal sebagai Coronation Capsule.
Perubahan warna tersebut dilakukan pada 2 Juni 2013 sebagai penghormatan untuk memperingati 60 tahun penobatan Ratu Elizabeth II. Kehadiran kapsul merah ini membuat London Eye punya penanda visual yang mudah dikenali dari kejauhan.
Berputar pelan, tetapi mampu menampung banyak orang
Setiap kapsul London Eye memiliki bobot sekitar 10 ton, namun gerak wahana ini sangat lambat. Kecepatannya hanya sekitar 0,9 km/jam sehingga satu putaran penuh membutuhkan sekitar 30 menit.
Walau bergerak pelan, kapasitasnya besar. London Eye diperkirakan dapat mengangkut hingga 1.600 penumpang per jam.
Karena kecepatannya rendah, wahana ini biasanya tidak perlu berhenti saat penumpang naik dan turun di area bawah. Penumpang bisa masuk dan keluar saat kapsul masih bergerak, kecuali jika ada penumpang lansia atau penyandang disabilitas yang membutuhkan waktu lebih aman untuk naik dan turun.
Hari ini, London Eye tetap menjadi bagian penting dari wajah London. Dari tepi Sungai Thames, roda raksasa ini terus menawarkan panorama kota sekaligus membawa pengunjung ke salah satu simbol paling kuat dari sejarah modern Inggris.
Source: www.idntimes.com






