Harga DDR4 kini berada dalam situasi yang tidak lazim. Dalam satu kuartal, harganya melonjak lebih dari 50%, sementara DDR3 justru tercatat lebih mahal per gigabit daripada DDR5.
Anomali ini menandai tekanan besar di pasar memori global. Dampaknya mulai dirasakan pada PC, laptop, server, hingga perangkat penyimpanan yang selama ini masih bergantung pada memori generasi lama.
DDR3 Lebih Mahal daripada DDR5
Salah satu perubahan paling mengejutkan datang dari terbaliknya harga memori lama dan baru. DDR3 4Gb tercatat berada di level $3,19 per gigabit, sedangkan DDR5 16Gb ada di $2,94 per gigabit.
Data itu menunjukkan bahwa harga murah tidak lagi identik dengan generasi lama. Dalam kondisi pasar saat ini, memori yang lebih tua justru bisa berada di posisi yang lebih mahal dibandingkan produk yang lebih baru.
| Jenis Memori | Kapasitas | Harga per Gigabit |
|---|---|---|
| DDR3 | 4Gb | $3,19 |
| DDR5 | 16Gb | $2,94 |
AI Mengubah Arah Produksi Pabrikan Besar
Samsung, SK Hynix, dan Micron kini hampir sepenuhnya meninggalkan DDR4 dan DDR3. Fokus mereka bergeser ke produk dengan margin lebih tinggi, yakni HBM untuk AI, DDR5 untuk data center, dan LPDDR5X untuk smartphone flagship.
Ledakan kebutuhan AI menjadi pendorong utama perubahan itu. GPU seperti NVIDIA H100 dan Blackwell membutuhkan HBM dalam jumlah besar, dan setiap unit bisa memakai 120–192 GB memori tersebut.
Akibatnya, kapasitas produksi yang semula melayani DDR4 dan DDR3 semakin menyempit. Permintaan di sisi lama memang belum hilang, tetapi pasokan yang terus dialihkan membuat pasar memori murah makin ketat.
Permintaan DDR4 Masih Bertahan di Banyak Perangkat
DDR4 belum bisa ditinggalkan begitu saja karena masih digunakan di banyak sistem aktif. Server lama, PC entry-level, laptop menengah, dan sebagian besar SSD enterprise masih bergantung pada jenis memori ini.
Pada SSD enterprise, DRAM cache tetap diperlukan untuk menjaga performa dan daya tahan. Di sisi konsumen, banyak perangkat kelas menengah juga tetap memilih DDR4 karena biaya sistemnya lebih rendah dibanding platform yang lebih baru.
Gabungan antara pasokan yang menipis dan permintaan yang bertahan inilah yang mendorong harga terus naik. Dalam situasi seperti ini, produsen besar memiliki sedikit insentif untuk kembali memproduksi memori murah dalam volume besar.
Dampaknya Mulai Menyentuh Konsumen
Kenaikan harga DDR4 diperkirakan tidak berhenti di rantai pasok, tetapi ikut merembet ke harga jual perangkat. PC rakitan dan laptop di bawah Rp15 juta menjadi salah satu segmen yang paling rentan terdampak.
Modul 16GB yang sebelumnya berada di kisaran $40 bisa naik menjadi $60. Jika kenaikan ini diteruskan ke produk akhir bersama komponen lain, harga jual bisa bertambah sekitar Rp300–500 ribu atau lebih.
Efek serupa juga berpotensi muncul pada smartphone kelas menengah yang masih memakai LPDDR4X, yakni varian mobile dari DDR4. Produsen dapat menaikkan harga, mengurangi kapasitas RAM, atau mencari platform yang lebih murah dengan konsekuensi performa.
SSD dan Pasar Penyimpanan Ikut Tertekan
Perangkat penyimpanan juga tidak luput dari tekanan harga memori. SSD dengan DRAM cache seperti Samsung 980 dan WD Blue SN580 berpotensi ikut terdampak karena komponen memorinya semakin mahal.
Jika kenaikan berlanjut, sebagian vendor bisa beralih ke DRAM-less SSD. Opsi itu memang lebih hemat, tetapi biasanya lebih lambat dan kurang tahan lama dibanding model yang memakai DRAM cache.
Ruang Perbaikan Masih Terbatas
Ada sedikit harapan dari sisi pasokan. Micron disebut telah memulai kembali produksi massal DDR4 dan LPDDR4 di pabrik Manassas, Virginia, dengan proses 1α node yang lebih efisien.
Namun, langkah tersebut belum cukup untuk menutup kekurangan global. Samsung dan SK Hynix juga belum menunjukkan tanda-tanda kembali ke produksi DDR4 dalam skala besar, sehingga tekanan pasar masih besar.
| Faktor Utama | Dampak | Arah Pasar |
|---|---|---|
| Ledakan permintaan AI | HBM jadi prioritas produksi | Pasokan DDR4 menyusut |
| Alih lini produksi | DDR3 dan DDR4 ditinggalkan | Harga naik tajam |
| Permintaan legacy tetap tinggi | Server, PC, dan SSD masih butuh DDR4 | Tekanan harga bertahan |
Pemain Lama Justru Diuntungkan
Di tengah kondisi ini, Nanya Technology dan Winbond berada dalam posisi yang lebih kuat karena menjadi pemasok utama DDR4 dan DDR3. Keduanya bisa menetapkan harga premium dan memilih mitra jangka panjang.
Meski demikian, ruang ekspansi mereka tetap terbatas. Keterbatasan akses ke peralatan fabrikasi canggih dan bahan baku membuat penambahan kapasitas berjalan lambat.
Selama pabrik-pabrik besar tetap memprioritaskan HBM, DDR5, dan LPDDR5X, pasar DDR4 kemungkinan masih akan bergerak dalam kondisi ketat. Bagi konsumen, memori yang dulu dianggap standar kini justru bisa menjadi salah satu komponen yang paling mahal untuk dibeli.







