Dedi Mulyadi Terangkan Bonus Rp5 Miliar Usai Spanduk Kritik Di GBLA, Sikapnya Tetap Tenang

Dedi Mulyadi menanggapi spanduk bertuliskan “Shut Up KDM” yang sempat mencuri perhatian di Stadion Gelora Bandung Lautan Api dengan nada tenang. Ia bahkan menyampaikan terima kasih kepada suporter yang membentangkan spanduk itu, sambil menegaskan bahwa pesan tersebut bisa dibaca sebagai dorongan agar sepak bola tetap profesional dan tidak tercampuri kepentingan politik.

Sikap itu muncul setelah aksi di tribun utara saat Persib Bandung menjamu Arema FC menyita perhatian publik. Spanduk berwarna putih dengan tulisan merah dan hitam itu terlihat sejak awal babak kedua sampai laga berakhir, dan banyak pihak mengaitkannya sebagai bentuk kritik terhadap Gubernur Jawa Barat tersebut.

Kritik dari tribun yang memantik sorotan

Bagi sebagian Bobotoh, spanduk itu bukan sekadar ekspresi spontan. Pesan yang dibentangkan di tribun dipandang sebagai penolakan atas cara apresiasi terhadap tim yang menurut mereka terlalu sering diumumkan melalui media sosial.

Suporter juga menilai pengumuman bonus secara terbuka bisa membawa sepak bola ke ruang yang kurang ideal. Di sisi lain, mereka menganggap fokus pemain justru bisa terganggu ketika perhatian publik bergeser ke hal-hal di luar pertandingan.

Karena muncul di tengah atmosfer laga yang sedang memanas, tulisan singkat itu langsung memicu reaksi luas. Perbincangan pun berkembang tidak hanya di kalangan pendukung Persib, tetapi juga di antara pemerhati sepak bola yang melihat ada isu yang lebih besar di balik spanduk tersebut.

Dedi menjelaskan soal bonus Rp5 miliar

Dalam video yang diunggah di akun TikTok pribadinya, Dedi Mulyadi memilih menanggapi persoalan itu tanpa nada tersinggung. Ia kemudian membuka penjelasan tentang bonus Rp1 miliar per pertandingan yang sebelumnya diumumkan di media sosial.

Menurut Dedi, pengumuman itu dilakukan demi transparansi. Ia juga menegaskan bahwa bonus tersebut berasal dari Maruarar Sirait, yang ia sebut dengan sapaan “Asep Ara Sirait”, sebagai bentuk kecintaan terhadap Persib Bandung.

Dedi menyebut total bonus yang disiapkan mencapai Rp5 miliar untuk lima laga tandang. Skema itu, katanya, lahir dari pertemuan dirinya, Maruarar Sirait, dan manajemen puncak Persib Bandung.

Ia menjelaskan bahwa Maruarar Sirait secara spontan menyampaikan komitmen bonus Rp1 miliar untuk masing-masing dari lima pertandingan tandang dari total tujuh laga tersisa. Dukungan itu diarahkan untuk membantu Persib mengejar hat-trick juara tiga kali berturut-turut.

Tidak ada pelanggaran aturan, kata Dedi

Dedi juga mengatakan bahwa pembahasan soal bonus sudah dikonsultasikan dengan manajemen klub. Dari hasil pembicaraan itu, pihak manajemen menyatakan tidak ada pelanggaran aturan dalam bentuk apresiasi finansial yang diberikan.

Pernyataan tersebut ikut menggeser fokus publik dari sekadar kegaduhan tribun menjadi diskusi yang lebih luas soal transparansi dan profesionalisme sepak bola. Dalam konteks itu, respons Dedi dianggap lebih menenangkan dibanding memperkeruh polemik yang sudah terlanjur muncul.

Di akhir pesannya, Dedi meminta agar isu ini tidak terus diperpanjang. Ia berharap semua pihak bisa kembali memberi dukungan moral kepada Persib Bandung, terutama saat tim masih berjuang mengamankan gelar juara musim ini.

“Selamat bertanding habis-habisan, bukan berdebat habis-habisan di media sosial,” ujarnya menutup pernyataan tersebut. Polemik spanduk “Shut Up KDM” kini pun ikut membentuk pembicaraan yang lebih besar tentang batas dukungan, cara memberi apresiasi, dan upaya menjaga sepak bola tetap berada di jalur profesional.

Source: www.medcom.id

Berita Terkait