Defisit APBN 2026 Diproyeksi Di Bawah 3 Persen PDB, Banggar Menilai Ruang Fiskal Masih Terjaga

Defisit APBN 2026 dinilai masih punya ruang aman karena tekanannya belum mengarah pada kondisi yang memburuk. Banggar DPR bahkan melihat peluang defisit tetap berada di bawah batas 3 persen terhadap PDB sampai akhir tahun, dengan proyeksi yang justru lebih tipis dari target awal pemerintah.

Ketua Banggar DPR Said Abdullah menilai posisi fiskal itu masih terjaga. Menurut dia, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, belanja negara yang menguat, dan indikator ekonomi yang tetap positif memberi bantalan bagi APBN 2026.

Di sisi pertumbuhan, kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 disebut tumbuh 5,6 persen. Said menilai momentum Ramadan dan Lebaran ikut mengerek permintaan rumah tangga, lalu dampaknya merambat ke industri, perdagangan, transportasi, hotel, dan restoran.

Dukungan lain datang dari belanja pemerintah yang meningkat lebih cepat di awal tahun. Realisasi belanja pemerintah pada kuartal I 2026 tumbuh 21,81 persen secara tahunan dan memberi kontribusi 1,26 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

Banggar memandang lonjakan belanja itu sebagai tanda instrumen fiskal masih berfungsi menopang aktivitas ekonomi. Dengan kondisi seperti itu, ruang APBN untuk tetap terkendali dinilai belum tertutup meski ekonomi global belum sepenuhnya stabil.

Indikator lain masih memberi penyangga

Selain pertumbuhan dan belanja negara, Banggar juga menyoroti ketahanan sektor eksternal serta pembiayaan domestik. Neraca perdagangan masih mencatat surplus US$ 5,5 miliar, sementara pertumbuhan kredit perbankan tetap positif.

Bagi Banggar, dua indikator itu memperlihatkan tekanan terhadap fiskal belum bergerak ke arah yang mengkhawatirkan. Selama penopang eksternal dan pembiayaan masih terjaga, APBN dinilai tetap memiliki bantalan yang cukup.

PNBP menjadi titik yang paling perlu dicermati

Meski gambaran umum fiskal masih aman, Said mengakui ada tekanan pada penerimaan negara bukan pajak atau PNBP. Tekanan tersebut terutama berasal dari turunnya lifting minyak dan gas bumi serta rendahnya harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price.

Said menyebut tantangan utama memang berada di PNBP karena dua faktor itu. Namun, ia memperkirakan ada perbaikan pada kuartal II 2026 seiring kenaikan harga minyak dunia dan mulai pulihnya aktivitas hulu migas.

Defisit diperkirakan lebih rendah dari target

Dari pembacaan Banggar, defisit APBN 2026 berpeluang lebih kecil dari perkiraan awal pemerintah. Said memperkirakan defisit berada di kisaran 2,56 persen PDB atau setara Rp 658,3 triliun.

Ia juga melihat pemerintah kemungkinan melakukan refocusing anggaran untuk merespons tekanan eksternal. Tekanan itu antara lain datang dari kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dengan kondisi tersebut, belanja APBN hingga akhir tahun dinilai bisa lebih rendah dari pagu. Banggar menilai langkah penyesuaian itu dapat membantu menjaga defisit tetap berada dalam batas aman.

Said juga menanggapi kekhawatiran publik soal kemungkinan APBN 2026 jebol di tengah ketidakpastian global. Menurut dia, kritik seperti itu bagian dari demokrasi dan bisa menjadi pengingat bagi pemerintah agar tetap berbenah.

Selama defisit masih berada di bawah 3 persen PDB, Banggar DPR menilai posisi fiskal Indonesia tetap terjaga. Dukungan dari pertumbuhan ekonomi, belanja pemerintah, surplus perdagangan, dan kredit yang positif membuat APBN 2026 masih dipandang memiliki ruang aman.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait